Lompat ke isi utama
webinar film dokumenter

Jawa Barat Luncurkan Film Dokumenter dan Iklan Layanan Masyarakat Kesehatan Jiwa

Solider.id, Bandung – Kasih Rumala Group yaitu Yayasan Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Jiwa Jawa Barat dan Rumah Atma Wimala Foundation, bersama Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung menggarap sebuah karya film dokumenter pendek dan iklan layanan masyarakat tentang kesehatan jiwa dan  difabel mental.

 

Film dokumenter pendek berjudul ‘Merajut masa depan’ dan iklan layanan masyarakat berjudul ‘Mereka perlu didukung, bukan dirundung,’ yang diproduseri oleh Gema Gumelar dan Herlina Agustin ini dibedah dalam kegiatan seminar virtual pada Minggu pagi (10/10).

“Hasil karya ini merupakan kerjasama dengan fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas) Babakan Sari - Dinas Kesehatan Kota Bandung, Klinik Utama Graha Atma, dan Rumah Sakit Khusus Kesehatan Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat,” papar Gema.

 

Ia juga menyampaikan, produksi ini juga bermitra dengan Australia Awards dan Sydney Southeast Asia Centre (SSEAC) - The University of Sydney, dan hasil karya tersebut akan dipublikasikan ke seluruh Indonesia maupun ke Australia melalui website Australia Awards & SSEAC.

“Karya ini sudah dilengkapi dengan terjemahan Bahasa Indonesia-Inggris serta Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk akses difabel Tuli. Harapannya hasil produksi ini dapat bersifat inklusif, bisa ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk teman-teman dari ragam kedifabelan apapun,” tambah ia.

 

Tema besar yang diambil dalam peluncuran film dokumenter pendek dan iklan layanan masyarakat tersebut adalah ‘Suara-Suara Bergerak. Ketika Suatu Disabilitas Tak Selalu Kasat Mata.’ Sebagai gambaran tentang difabel yang tidak terlihat ragamnya, seperti mereka yang mengalami gangguan mental atau skizofrenia. Kondisi demikian bisa dialami oleh siapapun. Pemicu seperti depresi stres berkepanjangan sering dirasakan oleh masyarakat.

Sofyan Efendi, mewakili pimpinan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat, menyampaikan apresiasi atas hasil karya tersebut.

“Belum banyak iklan layanan masyarakat yang dapat mengedukasi warga tentang kesehatan jiwa, sehingga mereka yang disebut sebagai pasien RSJ berobat jalan maupun yang rawat inap masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi. Terlebih untuk mereka yang sudah kembali ke lingkungan masyarakat. Padahal, kesehatan jiwa untuk semua, sehingga masyarakat perlu tahu pemicu dan tingkatannya,” terang ia.

 

Menurut Dodo Suhendar, Kepala Dinas Sosial Jawa Barat, ada lima aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya penanganan kesehatan jiwa. Yaitu; regulasinya, kelembagaannya, aspek sumber daya, menejerial dan operasional. Saat ini sudah semakin banyak pihak yang turut mengadvokasi dan mengedukasi tentang kesehatan jiwa. Seperti melalui hasil karya film dokumenter pendek dan iklan layanan masyarakat ini.

“Orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ bisa terjadi pada siapapun, dimana pun, dan ada jalan keluar untuk itu. Hanya saja stigma di masyarakat yang membuat mereka penyitas gangguan mental masih banyak dirundung, diskriminasi,” ungkap Herlina Agustin, tim pemeran film dokumenter.

 

Harry Victor, yang dilibatkan dalam produksi karya tersebut juga berpendapat, mereka yang mengalami skizofrenia sama dengan masyarakat pada umumnya, mereka butuh teman, butuh kehidupan seperti masyarakat lainnya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.