Lompat ke isi utama
difabel Gunungkidul membatik pada perayaan hari batik

Hari Batik Nasional, Sejumlah Difabel Gunungkidul Berlatih Membatik untuk Bekal Hidup Mandiri

Solider.id, Gunungkidul - Memperingati hari Batik Nasional yang jatuh pada dua oktober lalu, CIQAL bersama Balai Besar Kerajinan Dan Batik Yogyakarta merangkul Pusat Pemberdayaan Disabilitas (PPD) “Mitra Sejahtera” Gunungkidul, mengadakan workshop membatik yang mengangkat tema “Kerajinan Untuk Masa Depan”. Kegiatan diadakan di sekretariat PPD “Mitra Sejahtera”, yang berlokasi di Dusun Nglipar Kidul Rt 04 Rw 01, Nglipar, Gunungkidul, dengan diikuti oleh 20 orang anggota. Workshop tersebut dilaksanakan 7/10 silam.

 

Diakui dunia dan memiliki standar nasional pada khususnya, maka ada tiga jenis batik sesuai dengan kriterianya. Yakni batik tulis yang dibuat menggunakan canting dan malam, batik cap yang dibuat menggunakan cap dan malam, serta batik kombinasi yang dibuat dengan menggunakan dua kombinasi alat berupa canting dan cap.

 

Hadir dalam pelatihan membatik kepala Dinas Sosial, Ir. Asti Wijayanti, MA., bersama staff dan jajarannya, dan Kepala Balai Besar Kerajinan Dan Batik, Dra. Hendrayeti, MSi.

 

Karena menjadi ajang pertama belajar membatik, maka peserta dibekali dengan beberapa Teknik membatik dan jenis-jenisnya, alat-alat yang diperlukan, sistem pewarnaan serta jenis pewarnanya, hingga proses finishing yakni melakukan lorodan  kain (proses melepas malam batik dari kain) hingga proses penjemuran yang hanya diangin-anginkan.

 

Baca Juga: Peringati Hari Batik Nasional 2021, Difabel DIY Membatik On the Spot

Memerlukan keterampilan yang tidak biasa, Wardi, salah satu pelatih mengatakan bahwa untuk bisa menghasilkan karya batik yang baik harus sabar, tekun dan ulet.

“Dengan banyak berlatih maka keterampilan kita akan mengimbangi produknya. Kualitas akan bertambah baik dengan daya laku yang makin meningkat.” demikian pesannya sambil membimbing sahabat difabel saat awal praktek menyanting dilakukan.

“Sebagai warisan agung mahakarya, maka batik perlu dikembangkan supaya tetap ada dan diakui oleh dunia. Terlebih Yogya yang sudah dikenal sebagai kota batik harus terus berupaya untuk mengembangkannya. Dan karena Balai Besar Kerajinan Dan Batik berempati pada sahabat difabel, maka kita merasa perlu membekali mereka dengan pemberdayaan karena potensi yang dimiliki sahabat difabel perlu dikembangkan.” Lanjut Wardi yang berharap agar dari pelatihan batik yang telah diadakan sahabat difabel bisa turut menyebarkan pengembangan batik di seluruh Nusantara. Dalam keterangannya pula Wardi menyampaikan untuk tahun ini Balai Besar Kerajinan Dan Batik Yogyakarta telah melibatkan 100 sahabat difabel dalam workshop di lima kabupaten kota, yakni Bantul, Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul dan Yogya.

 

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik yang turut hadir dan membersamai berlangsungnya acara mengatakan bahwa dengan keterbatasannya beberapa   difabel banyak mengalami kesulitan melakukan usaha.

“Apalagi kondisi pandemi. Masyarakat sangat terpengaruh bahkan ada yang harus kehilangan mata pencaharian. Maka untuk meningkatkan kemampuan   difabel supaya mandiri dan bisa memiliki usaha yang mendukung ekonomi keluarga, Balai Besar Kerajinan Dan Batik Yogyakarta merasa perlu membekali  difabel dengan pelatihan membatik. Harapannya agar mereka punya usaha yang bisa diandalkan.” Demikian Hendrayeti yang selama mendampingi sahabat difabel tak lupa menyampaikan pesan agar dalam belajar membatik sahabat difabel terus bersabar.

“Karena kemampuan dan keterampilan membatik itu untuk bisa menguasainya tidak bisa sebentar atau langsung jadi. Kita perlu waktu, perlu ketelatenan, perlu kesabaran dan juga harus punya rasa seni yang tinggi, sehingga bisa mengembangkan kemampuan membatik ke tingkat yang lebih tinggi.” Hendrayeti berharap melalui pelatihan membatik yang telah diadakan, sahabat difabel bisa menghasilkan karya yang baik sehingga bisa diterima oleh pasar. Karena untuk langkah pemasaran  ada program-program yang disiapkan baik dari Kementerian, dari dinas-dinas ataupun dari Balai Besar Kerajinan dan Batik sebagai bentuk dukungan.

 

Jauh-jauh datang dari Kapanewon Semin yang berbatasan dengan Jawa Tengah, mengikuti workshop membatik bagi Trimo menjadi pengalaman yang luar biasa berkesan.

“Baru sekali ini ikut belajar membatik rasanya seneng. Jadi tambah pengalaman karena paling tidak bisa membuat batik. Belajar membatik bagi saya adalah kebanggaan. Karena batik itu kan jaminan asli dari Indonesia, jadi kita harus ikut nguri-uri (menjaga - bahasa Jawa) budaya batik di Yogya.” Menyampaikan kesannya, Trimo merasa tertantang dengan pengalaman pertama yang ia dapatkan.

“Namanya juga belum pernah tahu bagaimana membatik jadi ya ada susahnya. Tantangan terbesarnya adalah karena saya kesulitan berimajinasi untuk melukis di atas kainnya. Tapi belajar membatik cukup membuat saya termotivasi agar bisa terus belajar.” Kata Trimo yang dengan bangga memamerkan selendang hasil batikannya.

“Semoga dengan mengerti teknik dan teknologi membatik sahabat difabel bisa menciptakan motif yang khas kita sendiri (khas Gunungkidul) dan menjadi karya khas yang bisa dipakai oleh semua orang.” Harap Kepala Dinas Sosial, Asti Wijayanti, saat akan berpamitan.

Warna-warni batik masih melambai di tiang jemuran, dan beberapa kain telah siap dibawa pulang.[]

 

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

 

The subscriber's email address.