Lompat ke isi utama
memperingati hari batik Nasional

Peringati Hari Batik Nasional 2021, Difabel DIY Membatik On the Spot

Solider.id, Yogyakarta - Sepuluh difabel Kota Yogyakarta, memperingati puncak Hari Batik Nasional (HBN) 2021, dengan membatik on the spot (di tempat) atau workshop. Kegiatan digelar di Ambarumo Hotel, Rabu (6/10/2021).  Dalam waktu empat jam, seluruh peserta berhasil menyelesaikan pekerjaan dasar membatik, yaitu ­nyanting, pada satu lembar kain putih berukuran 50 x 175 centi meter. Ada yang duduk di kursi roda, dingklik  (kursi rendah berkaki empat), ada pula yang duduk di karpet. Mereka tampak asyik menghasilkan karya sesuai kreasi.

 

Dalam lima hari, kegiatan serupa juga akan digelar secara bergantian, di empat kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Secara keseluruhan workshop membatik akan melibatkan 80 sampai 100 peserta difabel.

 

Memperkenalkan batik kepada seluruh warga masyarakat, tanpa kecuali masyarakat difabel, menjadi tujuan. Kegiatan ini merupakan kiat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam membangun industri kerajinan dan batik yang tangguh di masa pandemi.

 

Pada kesempatan itu, pendamping workshop membatik yang sekaligus Direktur CIQAL Ibnu Sukaca berpendapat. Melalui kegiatan workshop ini, kata dia, difabel bisa mengenal lebih dekat batik dan mencintainya. Terlebih dapat mengembangkannya, sehingga bernilai ekonomi. Dengan demikan dapat menjadi sebuah solusi di masa pandemi.

"Harapan kami, membatik dapat menjadi bagian usaha pemberdayaan ekonomi bagi bagi difabel di DIY. Sehingga bisa menjadi sebuah solusi di masa pandemi, atau justru bisa beralih posisi menjadi pendapatan utama. Dalam lima minggu ke depan, kami akan selalu mendampingi, sekaligus melakukan upaya bersama dalam pemasaran industri batik," ujar Ibnu Sukaca.

 

Kendala pemasaran

Lanjut Ibnu yang juga difabel karena amputasi pada kaki kiri, keterbatasan yang menyertai tidak menjadi kendala berarti dalam membatik. Persoalan yang ada, kata Ibnu, pada memasarkan hasil produksinya. Karenanya dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

 

Sebagaimana yang sudah dijalankan oleh Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB) selama ini. Yaitu memfasilitasi difabel melalui pelatihan membatik sekaligus memasarkannya. Saat ini sudah banyak difabel di DIY yang memiliki UMKM batik melalui produksi mandiri.

"Peserta ada beberapa ragam disabilitas ada Tuli, fisik, sensorik. Terutama Tuli itu hasil (membatiknya) luar biasa karena mereka ini imajinasinya kuat," kata Ibnu.

"Kendala tentunya ada, kalau secara kemampuan kembali lagi pada mereka masing-masing. Tapi kendala lebih kepada bagaimana proses selanjutnya setelah batik itu jadi, ya ke pemasarannya. Termasuk melalui kegiatan ini, menjadi sarana promosi teman-teman disabilitas," tambahnya.

 

Kepala BBKB DIY Hendra Yetty menambahkan, melalui pendampingan tersebut diharapkan para difabel dapat meningkatkan perekonomian serta mandiri dengan menghasilkan produk batik berkualitas. Sebab, industri batik menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 dengan omzet yang tetap stabil.

“Terkait pemasaran, mensinergikan dan mengkolaborasikan karya produksi batik difabel, akan terus menjadi komitmen Balai Besar Kerajinan dan Batik DIY. Kesempatan itu harus dibuka lebar, sehingga karya difabel punya tempat yang sama di masyarakat,” ujar Yetty. [ ]

 

Reporter: Harta Nining

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.