Lompat ke isi utama
Marsudiyati Pratamaningsih SAAT DITEMUI SOLIDER.ID

Marsudiyati Pratamaningsih, Guru Tuli dan Strategi Mengajar Siswa Tuli di Masa Pandemi

Solider.id, Yogyakarta -Selama masa pandemi Covid-19, seluruh kegiatan belajar terpaksa harus dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Metode pembelajaran jarak jauh (PJJ), istilah yang digunakan dalam proses pembelajaran semasa pandemi. Berbagai platform media digunakan. Zoom, video call whatsapp, atau google meet merupakan sarana pembelajaran jarak jauh tersebut. Namun, apapun media yang digunakan, tetap saja PJJ membatasi interaksi antara murid dengan guru.

 

Sementara, murid berkebutuhan khusus, Tuli dalam hal ini, tidak hanya butuh pengetahuan, namun juga interaksi secara langsung dengan guru. Mereka juga membutuhkan contoh-contoh nyata. Contoh atau peraga yang dapat dipegang, diamati, maupun diraba.

 

Dengan metode tatap muka saja, tak jarang guru harus mengajari satu per satu, agar para murid paham. Teori dan praktik digabung. Contoh langsung selalu diberikan. Cara atau metode itu memudahkan murid-murid Tuli mencerna setiap pembahasan dalam proses belajar mengajar.

 

Tersebut di atas mengemuka dari Marsudiyati Pratamaningsih (54). Seorang guru pada Sekolah Luar Biasa (SLB) Karnnamanohara. SLB ini hanya mendidik anak-anak dengan hambatan pendengan (Tuli). Baik Tuli total, maupun half of hearing (HoH) atau hanya satu telinga yang mendengar. Berada di Jalan Pandean II No.8, Sleman, Yogyakarta, sekolah ini memiliki ratusan siswa, dengan beberapa orang guru. Satu di antara guru tersebut, Ibu Aning, nama panggilan Marsudiyati Pratamaningsih. Sama sebagaimana murid-muridnya, Ibu Aning juga seorang Tuli. Pada masa pandemi, Ibu Aning mengajar murid tingkat Sekolah Dasar (SD) jenjang kelas 1. Terdapat empat orang siswa Tuli dalam kelas yang diajarnya.

 

Dalam metode tatap muka, kata Ibu Aning, SLB Karnnamanohara menerapkan Metode Maternal Reflektif (MMR).  Yaitu salah satu metode pengajaran, untuk mengembangan kemampuan berbahasa anak Tuli, sehingga dapat berkomunikasi menggunakan bahasa oral. Habiliasi atau pembiasaan sikap belajar, diterapkan sebagai upaya mengatasi kesulitan pada anak Tuli.

 

Baca Juga:Menilik Formulasi Pembelajaran ABK di Masa Pandemi

 

Belajar bahasa melalui membaca ujaran. Siswa membaca melalui gerak bibir guru mereka. Metode ini, tak bisa diajarkan dalam waktu singkat. Tiap hari, selalu ada kosakata baru. Tak jarang siswa harus diajari atau dilatih satu-satu. Pembelajaran jarak jauh sangat tidak mudah bagi murid-murid Tuli. Karenanya dibutuhkan strategi, contoh nyata, pengulangan hingga anak memiliki pemahaman dan pengetahuan.

 

Strategi belajar

Apa yang ada dan terjadi di sekitar para siswa menjadi sumber belajar.  Dengan  cara meminta orangtua mengirimkan gambar atau video apa yang terjadi di sekitar. Selanjutnya guru menjadikannya sebagai pelajaran untuk seluruh murid. Langkah tersebut menjadi strategi membawa contoh nyata di kelas daring, untuk dilihat dan diamati, serta dipelajari siswa, sebagai proses pembelajaran jarak  jauh.

 

Sebagai contoh, seorang murid bernama Fadil sedang sakit. Bu Aning meminta orang tua mengirimkan foto anaknya yang sakit. Foto Fadil yang sakit dan sedang tidur, akan disampaikan kepada tiga murid lainnya. Dari foto Fadil sakit, kata bu Aning, semua siswa bisa belajar banyak hal. Berbahasa dan mengucapkan dengan melihat gerak bibir guru. Murid juga akan belajar matematika, berapa hari Fadil sakit. Strategi tersebut juga mengajarkan pemahaman dan penalaran, tanpa kecuali pengetahuan. “Tidak mudah, tetapi itu cara yang paling tepat yang dapat diterapkan pada masa pandemi sekarang ini,” terangnya.

 

Demikian juga ketika ada murid yang memilihara ikan, murid makan buah-buahan dan sebagainya, akan digunakannya sebagai materi atau sumber belajar.

 

Selanjutnya, agar para murid dapat memahami dan mengucapkan dengan benar kata-kata, menulis tegak bersambung adalah metodenya. Metode ini akan merangsang otak bekerja secara aktif, meningkatkan kontrol sistem motorik halus, juga melatih kesabaran dan ketekunan. Pola menulis yang baik, menurut bu Aning berpengaruh terhadap kepribadian anak. Karena tulisan seseorang menggambarkan karakter hingga kecenderungannya.

 

Bu Aning yang juga Tuli dapat menangkap kebutuhan murid-muridnya yang Tuli. Pengalaman diri sebagai Tuli menjadikan anak pertama dari tiga bersaudara itu, menerapkan strategi pembelajaran yang demikian. Sebisa mungkin membawa contoh-contoh nyata, untuk menanamkan pemahaman, pengetahuan, serta keterampilan berbahasa. Tanpa kecuali murid belajar berbahasa dan berbicara.

 

Dua minggu satu kali, pelajaran tatap muka dilakukan. Murid dan guru hadir di sekolah. Dituturkannya, murid-muridnya sangat bahagia jika ada pertemuan tatap muka. Bisa bertemu tema-teman dan guru, kata Ibu Aning membuat anak-anak bersemangat setiap kali akan masuk sekolah.

 

Terlebih dia mengajar di kelas dasar. Menanamkan konsep dasar pada murid, menjadi hal yang sangat penting. Demikian ujar Aning, yang menyandang gelar sarjana bimbingan dan konseling dari salah satu Universitas swasta di Yogyakarta ini.

 

Guru swasta yang sudah lolos sertifikasi ini, juga menjadi tempat konsultasi para orang tua. Memberikan solusi bagi orang tua, bagaimana mendampingi anak-anaknya belajar di masa pandemi. Masa yang sungguh tidak mudah dilalui oleh anak-anak yang seharusnya penuh warna, bermain, bereksplorasi.

 

Pelajaran guru terbaik

Bu Aning juga menyampaikan pengalaman, bagaimana dirinya yang Tuli kesulitan belajar di kelas tatap muka ketika guru tidak memahami kebutuhannya. Karenanya, tiga kali tidak  naik kelas dialaminya saat dirinya duduk di kelas 1 sekolah  dasar umum.

 

Dia mengaku memiliki pemahaman yang cukup ketika pindah dari sekolah umum ke salah satu sekolah khusus Tuli di Wonosobo. Di SLB Wonosobo, Aning kecil satu bulan satu kali naik kelas. Sehingga dalam tiga bulan sudah bisa duduk di kelas empat.

 

Bulan pertama dia bisa menyelesaikan kelas satu dan naik ke kelas dua. Bulan kedua dia naik dari kelas dua ke kelas tiga. Dan bulan ketiga Aning sudah bisa duduk di kelas empat. Pengalaman tersebut diterapkannya dalam mendidik murid-muridnya yang juga Tuli. Siswa Tuli memutuhkan metode yang tepat agar bisa memahami pelajara yang disampaikan guru. Bukan sekedar kurikulum yang kemudian diterapan begitu saja.

 

Pengalaman saya, adalah guru terbaik saya. Saya jadi paham bagaimana metode mengajar yang tepat untuk anak-anak Tuli. DIgaris bawahinya, bahwa setiap anak Tuli butuh contoh nyata setiap kali belajar. Apalagi belajar hal baru. Dengan demikian anak lebih mudah memahami apa yang sedang didiskusikan atau dipelajari.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.