Lompat ke isi utama
Sasimin dan Atik saat ditemui solider di rumahnya

Pasangan Difabel Netra Bertahan di Masa Pandemi dengan Berjualan Camilan

Solider.id, Yogyakarta -Pasangan suami istri Sadimin (41) dan Atik Susilowati (38), keduanya difabel netra. Tinggal dan mengontrak bangunan berkuran 4 x 2,5 meter. Sebuah rumah kecil berada di Gang Wiropalguno, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi dan sebuah ruang yang difungsikan sebagai ruang tamu, sekaligus meletakkan mesin cuci, kulkas, serta perlengkapan makan dan minum. “Satu kamar untuk tidur, satu lagi untuk menyimpan dagangan,” ujar Sadimin, saat Kunjungan Solider ke rumahnya, Kamis (23/9/2021).

 

Delapan bulan terakhir di masa pandemi, Sadimin dan Atik memilih mengais rejeki dengan menjual aneka camilan.  Ada kerupuk tengiri, amplang, ceriping sale pisang, lanting dan ceriping singkong. Setiap hari pasangan ini menjajakan dagangan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bener, Jalan Godean.  Keduanya duduk di beton pembatas dekat area pintu keluar pom bensin. Untuk menarik perhatian, Sadimin membunyikan terompetnya. Sedang, Atik memangku dagangan, yang ditata dalam keranjang plastik bertuliskan “Dijual krupuk ikan teringiri dan aneka camilan, Hp/SMS/WA 085728625382”.

 

Cukup jauh, jarak antara kontrakan dengan tempat berjualan. Kurang lebih 20 kilo meter. Untuk menuju ke tempat jualan dan kembali ke kontrakan, mereka berlangganan transportasi online roda empat. Dijemput dan di antar kembali di mulut gang, demikian setiap kali keduanya berjualan. Pergi dan pulang, pasangan ini akan membayar biaya transportasi senilai Rp 50 ribu. Menurut keduanya, jika menggunakan aplikasi, biaya satu kali jalan bisa lebih dari itu. 

 

Sadimin dan Atik mulai berjualan pada pukul tiga sore hari hingga pukul delapan malam.  Setiap hari, kurang lebih 40 bungkus camilan mereka bawa dan jajakan. Tak semuanya laku, hanya sekitar 20 hingga 25 bungkus camilan paling banyak. Harga camilan berkisar antara 7 - 10 ribu rupiah per bungkus. Bahkan, pernah suatu hari tak satu bungkus pun terjual.

 

Baca Juga: Terdampak Pandemi, Kolaborasi Dibutuhkan Agar Tetap Makan

 

Tak banyak keuntungan yang mereka dapatkan. Hanya Rp 2 ribu dari tiap-tiap bungkus camilan. Namun mereka mengaku cukup bahagia menjalaninya. Berjualan, bagi keduanya tak hanya solusi pada masa pandemi. Meski tak tentu uang yang bisa dibawa pulang, bahagia itu yang setiap kali mereka rasakan.

 

“Gimana ya, tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Tak hanya sekedar solusi di masa pandemi. Tapi, dengan berjualan ini kami sangat bahagia. Beda rasanya dengan ketika kami mengamen dulu,” ungkap Atik.

 

Pasangan ini menikah pada tahun 2011. Mereka  telah dikaruniai seorang putra, saat ini berusia 8 tahun. Duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Putra semata wayangnya diasuh oleh kakek dan neneknya, di Nganjuk, Jawa Timur. 

 

Setelah menikah, beberapa pekerjaan pernah dilakoni keduanya. Memijat, pernah dilakoni Sadimin. Pria kelahiran Karanganyar, 18 Juni 1980 ini, hanya sempat menikmati bangku sekolah hingga kelas 3 SD. Selebihnya ia tamatan Panti Sosial Bina Netra, Solo.  Dari panti itu Sadimin memiliki keterampilan memijat.

 

Sedang Atik Susilowati, anak kedua dari 3 bersudara ini pernah mengajar di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di kota asalnya, Nganjuk. Perempuan kelahiran, 26 Oktober 1983 ini, adalah sarjana, lulusan salah satu universitas islam negeri di Yogyakarta. Hanya bertahan beberapa bulan mengaplikasikan ilmunya di SLB, yang kebetulan milik personal. Tak mendapatkan apa yang dijanjikan oleh pemilik sekolah, tempat tinggal, honor sebagai contoh, menjadi alasan Atik memutuskan keluar.

 

Kemudian keduanya mengadu nasib di Yogyakarta. Tinggal mengontrak di beberapa tempat, Bausasran, salah satunya. Mereka memutuskan mencari nafkah dengan mengamen. Dengan menggunakan tape karaoke, mereka menjual suara di Malioboro, tepatnya di depan Pintu Masuk Hotel Inna Garuda.  Setiap hari,   selama 7 tahun (2013 – 2020), pasangan difabel netra itu bertahan hidup dengan ngamen. Hingga akhirnya pandemi melanda.

 

Sebagaimana para pekerja nonformal lainnya, Sadimin dan Atik pun mengalami nasib serupa. Pendapatan dari ngamen turun drastis, bahkan sempat nihil. Ketika Malioboro mulai ditutup, mereka memutuskan berhenti ngamen.

 

Delapan bulan terakhir, mereka memutuskan berjualan. Pada awalnya mereka berjualan di Jalan Tamansiswa. Tapi tempat itu tidak membawa keberuntungan bagi keduanya, tidak banyak pembeli. Atas saran salah seorang temannya, kemudian pindah berjualan di SPBU. Bener. Tempat yang hingga saat ini dia bertahan dengan berjualan camilan.

 

pasangan difabel jajakan dagangan di SPBU Bener

Merasa bahagia

Menurut keduanya, pendapatan dari ngamen jauh lebih banyak dibanding dengan berjualan camilan saat ini. Namun, dari berjualan itu keduanya menemukan suasana hati yang beda. Mereka mengaku lebih bermartabat, ketimbang mengamen.

“Memang pendapatan dari ngamen lebih banyak. Tapi kok ada rasanya beda ya. Tapi saya sulit bercerita. Kalau ngamen itu,  orang memberi uang itu kebanyakan tidak menghargai. Kadang dilempar. Kadang ditaruh di tangan, tapi gimana gitu naruhnya,” ujar Atik.

 

Meski memiliki hambatan visual dan bekerja dengan apa yang mereka bisa, mereka tetap bertanggung jawab membesarkan dan membiayai pendidikan anaknya. Setiap dua minggu satu kali, pasangan ini selalu mengirim uang sebesar Rp 500 ribu, uang kuota (pulsa internet) Rp 60 ribu tiap bulan. Mereka juga bisa membayar sendiri sewa rumah yang ditepatinya senilai Rp 8 juta per tahun. Tak bergantung dengan bantuan orang lain, prinsip hidup itu yang dipegang keduanya.

 

Ada yang paling berkesan bagi keduanya saat berjualan. Suatu hari, seluruh isi keranjangnya diborong oleh seseorang. Mereka tidak tahu, siapa orang itu. Orang itu membayar Rp 500 ribu tapi tidak mengambil satupun camilan yang dibelinya. Namun, memberi tugas  kepada keduanya, untuk membagikan semua camilan.

“DIbagi kepada siapa?” Tanya Atik kepada si pembeli. “Terserah, pokoknya dibagikan ya,” ujar Atik menirukan apa kata si pembeli.

 

Benar saja, camilan itu oleh keduanya tidak dibawa pulang untuk di makan sendiri, atau dijual lagi. Mereka membagikan kepada para karyawan SPBU Bener. Namun, kata Atik, karyawan SPBU hanya mengambil dua bungkus. Maka sisanya, dia berikan pada orang yang mau beli. Atik tidak mau menerima uang dari para pembeli, karena itu sudah bukan barang dagangannya lagi. Sisa lainnya, diberikannya kepada para tetangga seputar rumah kontrakannya.

 

Mundur ke belakang, pasangan ini sama-sama mengalami kebutaan tidak sejak lahir. Sadimin yang lahir kembar, dia mulai mengalami kebutaan sejak dirinya berumur tiga tahun. Kembarannya tidak buta, melainkan awas. Sedang Atik, dia pun juga mulai tidak bisa melihat pada usianya hampir 4 tahun. Panas tinggi, menjadi sebab keduanya mengalami kebutaan total pada mata kanan dan kirinya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.