Lompat ke isi utama
Aris beersama motor roda tiganya

Aris Wahyudi, Berstrategi Siasati Pandemi

Solider.id, Bantul - Di tengah kondisi turbulensi, serba sulit dan tidak pasti akibat Pandemi Covid-19, beradaptasi dan berstrategi menjadi satu cara mempertahankan diri dari krisis ekonomi. Pandemi tak bisa hanya diratapi, namun mesti dihadapi dan disikapi dengan kepercayaan diri, agar sanggup melewati situasi.

 

Tidak mudah memang, tapi tak sulit ketika ada kemauan. Kemauan akan menghadirkan jalan keluar atau solusi. Hal ini diyakini dan dilakukan Aris Wahyudi (35).

“Dengan cara-Nya, Tuhan selalu memberi makan. Maka, energi dari makanan yang aku makan harus aku gunakan dengan baik”. Falsafah ini dibangun Aris Wahyudi. Pria kelahiran Jakarta, 22 Februari 1986. Dia adalah pengemudi ojek online Difa Bike. Moda transportasi roda tiga yang melayani atau mengangkut penumpang maupun barang.

 

Anak kelima dari enam bersaudara ini sempat terpuruk dan putus asa. Menjadi difabel pada usia remaja (19), salah satu penyebabnya. Saat itu dia kehilangan fungsi (invalid) pada kaki kirinya. Menurut penuturannya, tendangan keras lawan saat main bola mengenai tulang kering kaki kirinya. Akibatnya syaraf kaki kirinya mengalami kerusakan. Pengobatan yang diupayakan tak sanggup memulihkan.

 

Lambat laun kaki kirinya mengecil, Aris pun tak bisa berjalan stabil. Lima tahun kemudian (2010), jari-jari tangan kanan tersengat aliran listrik. Karenanya, jari-jari tangan kanannya tak bisa menggenggam. Pada tahun yang sama, telapak kaki kiri terluka akibat bisa ular kobra. Luka menganga, tak juga sembuh hingga saat ditemui Solider, Rabu (22/9).

“Kala itu saya menjadi jagal ular kobra. Menguliti kobra dengan menginjak tubuh ular menggunakan kaki, yang saya lakukan. Tak saya sadari masih ada bisa kobra, yang mengenai telapak kaki kiri. Luka basah tak kunjung sembuh, hingga saat ini,” ungkap Aris.

 

Baca Juga: Andika, Tak Surut Asa Meski Pandemi Membatasi Gerak Usahanya

 

Kehilangan fungsi pada kaki kiri dan jari tangan kanan berpengaruh pada mentalnya. Warga desa Pacar, Timbulharjo, Sewon Bantul ini, sempat depresi. Selama dua tahun (2010-2012) dia kehilangan pengharapan. Beruntung, kesadaran untuk bangkit muncul dalam dirinya. Lalu dia memutuskan mengikuti pelatihan desain grafis, yang diselenggarakan institusi pemerintah, di wilayah Pundong. Pelatihan gratis khusus bagi difabel, sepanjang satu tahun (2012 – 2013) ditekuninya.

 

Mental baru

Titik balik hidup dimulai dari sana. Meratap dan marah, bukan cara menyelesaikan masalah. Saat itu juga dia bertemu perempuan yang bisa menjadi teman diskusi. Mau mengritik, sekaligus memotivasi. Namanya Siti, yang akhirnya menjadi tambatan hati dan dinikahi. Namun, pernikahannya hanya berlangsung empat tahun. Sang istri harus kembali kepada sang pencipta karena sakit gagal ginjal. Meski begitu, karena istrinya, Aris lahir dengan mental baru, lebih kuat dan percaya diri.

 

Empat tahun kemudian (2016), Aris memutuskan bergabung dengan Difa Bike. Layanan ojek khusus difabel di Yogyakarta. Aris yang tidak memiliki kendaraan sendiri,  mendapatkan hibah sepeda motor roda tiga, dilengkapi bak (sespan) di sisi kiri motor.

 

Namun, untuk mendapatkan penumpang, ternyata tidak mudah. Karena para pengemudi Difa Bike difabel, warga tidak percaya akan keselamatan dirinya. Bahkan, ketidak percayaan juga datang dari sebagian besar difabel. “Satu minggu dapat tiga penumpang saja, itu sudah bagus,” ujar Aris. Bahkan, lanjut dia, tak jarang dirinya tak dapat penumpang sama sekali. Tak bisa membeli bensin untuk modal kerja, pun sering dialaminya. Meminjam uang kepada  perusahaan (kas bon) solusi yang selalu dilakukan.

 

Jatuh  bangun, dialaminya sebagai difabel pengemudi ojek. Namun, bak di bagian samping, mulai dilirik konsumen. Tahun ketiga, Aris mulai dapat satu pelanggan. Setiap pagi hari dia mengantar barang ke 30 titik tujuan, dengan bayaran Rp 1,5 juta per bulan. Selama dua tahun, Aris punya pendapatan tetap. Cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

 

Tiba-tiba, Maret 2020, pandemi Covid-19 melanda. Berbagai kebijakan pembatasan untuk mencegah penyebaran virus corona, berimbas pada berbagai sektor usaha. Tak luput, jasa ojek difa. Bahkan masih sering terjadi dalam sehari tidak ada satu pesanan pun yang muncul.

 

Bertahan dan bereksplorasi

Selama beroperasi di masa pandemi Covid-19, seluruh pengemudi Difa Bike dilarang mangkal di titik tertentu. Mereka hanya boleh menunggu pesanan dari rumah masing-masing atau di kantor Difa Bike.  Ibarat mati suri, pada masa pandemi, ojek difa tak bisa lancar beroperasi. Bagaimana Aris bertahan?

 

Dia memiliki Ilmu desain grafis yang didapatkannya sewaktu pelatihan Sembilan tahun silam. Dia menawarkan ke beberapa teman-temannya. Berkat jaringan yang dia bagun, Aris dipercaya membuat desain flyer, spanduk maupun backdrop beberapa organisasi difabel. Dia mengerjakan pesanan dengan laptop yang dia pinjam dari salah sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB), tempat istrinya bekerja. Berapapun uang jasa yang diberikan, dia terima dengan suka cita. Untuk itu dia tidak mematok harga dari hasil desainnya.

 

Selain itu, satu minggu dua kali, pedagang buah yang tak lain tetangganya menggunakan jasanya. Aris mengantar buah-buahan ke pasar pleret. Satu kali jalan, Aris mendapatkan bayaran Rp 25 ribu. Dua kali pengantaran dalam sehari, order yang dia dapatkan.

Sore hari Aris mencoba mangkal di seputar area parkir Ngabean. Dia mengadu peruntungan, akan ada yang membutuhkan jasa ojeknya. Malam harinya, pindah mangkal di Jalan Magelang. Tak setiap saat ada penumpang. Terkadang ada satu atau dua orang yang dia antar. Demi bisa bertahan, stategi itu terus dia lakukan. Sekitar pukul 11 malam, Aris baru memutuskan pulang dengan membawa berapa pun uang yang dia dapatkan. Gak tentu, kata dia. Pendapatan berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu.

 

Jauh sebelum istrinya meninggal, pasanan Aris dan Siti mengais rejeki di masa pandemi dengan berjualan air tebu. Tak lama dilakukan, karena istrinya berkali-kali sakit dan butuh pendampingannya. Menjual salak pun pernah pula  dilakukannya. Mengeksplorasi kesempatan dan kemungkinan, adalah strategi Aris menjalankan hidup di masa pandemi.

 “Serba sulit di masa pandemi tidak hanya saya yang mengalami. Terus bergerak, melakukan apa yang saya bisa, itu yang terus saya gelorakan dan jalankan. Soal hasil pasti akan mengikutinya. Mengeskplorasi kesempatan dan kemungkinan, itu yang saya lakukan. Tetap bertahan hidup di masa sulit, itu asa yang menguatkan,” Ujar Aris.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.