Lompat ke isi utama
pemenuhan akses alat bantu bagi difabel

Strategi Lintas Sektor dalam Pemenuhan Kebutuhan Teknologi Alat Bantu bagi Difabel

Solider.id – Pemenuhan alat bantu bagi masyarakat difabel menjadi sesuatu yang sangat penting. Namun kenyataannya, mereka masih banyak kesulitan untuk mengakses kebutuhan tersebut, baik secara mandiri maupun dalam bentuk program pemenuhan aksesibilitas. Perlu sebuah strategi dan koordinasi dengan lintas sektor dalam upaya peningkatan akses masyarakat difabel dalam pemenuhan kebutuhan teknologi alat bantu (Assistive technology) di Indonesia.

 

Dalam kegiatan Kick Off Meeting and FGD, secara umum disampaikan Ade Rustama dari Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Plt. Asisten Dupeti Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia, situasi masyarakat difabel di Indonesia dalam hak dan pemenuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi.

 

Ia menjelaskan, kondisi umum masyarakat difabel secara tingkat partisipasi masih rendah dalam berbagai sektor, contoh dalam pendidikan, pelatihan, penempatan kerja dan lainnya. Selain itu, faktor terekslusi dari lingkungan sosial dan akses terhadap fasilitas serta layanan publik masih terbatas.

“Kondisi demikian, menggambarkan perlunya dukungan dari seluruh pihak. Baik dukungan dari kebijakan pemerintah maupun kontribusi aktif dari pemangku kebijakan lain,” ungkapnya.

 

Baca Juga: Perluasan Akses Alat Bantu untuk Difabel

 

Pentingnya pemenuhan teknologi alat bantu (Assistive technology)

Pemanfaatan teknologi alat bantu (Assistive technology) untuk kehidupan sehari-hari akan berdampak positif dengan adanya dukungan pembangunan inklusif di keluarga, lingkungan masyarakat dan pemerintah.

 

Orang-orang yang memerlukan alat bantu diantaranya, (1) Mereka yang sudah lanjut usia. (2) Individu difabel. (3) Mereka penyandang penyakit tidak menular. (4) Orang dengan kondisi kesehatan mental, termasuk Demensia dan Autis. (5) Orang yang mengalami penurunan fusngsi secara gradual.

 

Produk alat bantu merupakan alat esensial untuk meringankan impairment atau kehilangan kapasitas instringsik, mengurangi akibat penurunan fungsi secara gradual, membantu meminimalkan kebutuhan caregiver, mencegah kondisi kesehatan primer dan sekonder, biaya kesehatan dan kesejahteraan yang lebih rendah.

 

Alat bantu juga seringkali merupakan langkah pertama dalam membantu mereka untuk bangun dari tempat tidur dan keluar rumah, untuk mengakses pendidikan dan kesehatan, untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan kemandirian yang lebih besar, serta untuk menjalani hidup yang bermartabat juga inklusi dan partisipasi.

 

Partisipasi lintas sektor berbasis komunitas dalam pemenuhan alat bantu

Belum seluruhnya pengayaan alat bantu dapat terpenuhi oleh pemerintah. Salah satu kendalanya adalah pendataan yang masih simpang siur. Peran aktif organisasi atau komunitas difabel tentu sangat membantu dalam menjangkau individu maupun keluarga difabel yang memerlukan alat bantu dan belum ter-cover program pemerintah.

 

Contoh komunias yang telah ikut berperan dalam penyediaan alat bantu bagi anggotanya adalah, Disabilitas Tanpa Batas (DTB) Jawa Barat. Dalam acara silaturahmi pada Sabtu (25/9) kemarin bertempat di Aulai Dinas Sosial Jawa Barat, komunitas ini menyerahkan lima unit kursi roda, tiga diantaranya kursi roda Cerebral Palsy untuk anak Cerebral Palsy (CP), satu kursi roda anak, dan satu kursi roda dewasa standar.

 

Menurut Corfied Magetan (50), ketua DTB Jawa Barat, komunitasnya memang baru rintisan. Di Bandung Raya sudah terdapat delapan posko yaitu; wilayah Lembang, Malabar, Cigondewah, Pasteur, Gegerkalong, Cimahi, Kopo dan Ciparay Majalaya.

“Pengayaan alat bantu ini dikarenakan adanya permintaan atas dasar kebutuhan dari anggota kami. Mereka yang memiliki anak dengan Cerebral Palsy, rata-rata belum punya alat bantu untuk mendukung mobilitas mereka. Dan selama ini masih harus digendong untuk akses keluar rumah,” papar ia.

 

Erna, orang tua yang memiliki anak Cerebral Palsy menuturkan, putranya Muhamad Alif (6) belum pernah memiliki alat batu yang bisa untuk mobilitas. Selama ini, Alif hanya memiliki tempat duduk dan stroller bayi.

“Di rumah ada tempat duduknya, tapi tidak bisa dibawa kemana-mana, hanya duduk diam saja disitu. Kalau keluar rumah masih pakai stroller, tapi sekarang sudah enam tahun tambah besar sudah tidak cukup lagi. Biasanya, Alif digendong untuk mobilitas keluar rumah,” kata Erna.

 

Ia memang sangat membutuhkan alat bantu seperti kursi roda untuk putra semata wayangnya. Selain untuk mempermudah akses mobilitas, alat bantu tersebut juga digunakan sebagai langkah terapi posisi duduk yang tepat agar meminimalisirkan ke CP-an Alif.

 

Sementara itu, Dodo Suhendar, Kepala Dinas Sosial Jawa Barat menyampaikan apresiasinya, atas peran serta lintas sektor basis komunitas yang turut andil dalam pengayaan alat bantu bagi difabel.

“Strategi ini dapat terus ditularkan, terutama dalam hal informasi tentang data mereka yang membutuhkan alat bantu. Tentu, untuk menunjang kemandirian dan akses mobilitas agar kedepannya, mereka yang tadinya dibantu mendatang mampu mandiri dan bisa berkontribusi menyumbangkan kemampuan mereka,” terang ia.

 

Survei dan riset data kebutuhan alat bantu

Data kebutuhan alat bantu di Indonesia berdasarkan Assistive Technology Country Assessment (CHAI) Indonesia 2020, menuliskan: ‘(a) kebutuhan kursi roda sebanyak 2 juta jiwa, kebutuhan alat bantu perangkat digital sebanyak 3 juta berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015. (b) Alat bantu prostheses and orthoses sebanyak 146 ribu penduduk berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. (c) Alat bantu dengar sebanyak 6,7 juta orang berdasarkan SUPAS busun tahun 2018. (d) Alat Bantu penglihatan sebanyak 300 ribu hingga 500 ribu berdasarkan SUPAS 2015 atau Riskesdas 2013.’ Kebutuhan tersebut terus mengalami peningkatan dalam setiap waktunya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.