Lompat ke isi utama
Sujiat, salah satu OYPMK saat ditemui di rumahnya

Cerita Orang yang Pernah Alami Kusta

Solider.id - Selasa pagi 10 Agustus 2021 saya sudah tiba di rumah narasumber. Laki-laki yang duduk di kursi roda itu mempersilakan saya masuk ke rumah yang berbentuk limasan dan berpintu gebyok (kayu tradisional khas Jawa). Ia menyambut saya dan Pak Tris, seorang staf Paguyuban Sehati, sebuah NGO berkedudukan di Kabupaten Sukoharjo dengan suka cita. Senyum yang mengembang dan bentang tangan yang mengarah ke kursi tamu jadi pemandangan hangat saat kami berjumpa dengannya.  Saya masuk rumah lalu duduk di kursi dan mengambil jarak dengan Pak Tris dan laki-laki yang kemudian saya panggil Pak Imin.

 

Imin lahir di Sukoharjo pada tahun 1950. Sekitar tahun 1970-an ketika masih berstatus bujang, ia membeli sebidang tanah seluas 1.300 meter persegi di Desa Kamal Kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo.  Setelah menikah, ia kemudian merantau dan bekerja sebagai buruh serabutan dan terkadang buruh tani. Hingga pada tahun 1999 ia merasakan sesuatu hal yang luar biasa, ketika merasakan kakinya yang sakit. Waktu itu ia tinggal di Bawen. Setelah bergonta-ganti dokter, kemudian di tahun 2000, jatuhlah vonis itu, ia didera penyakit kusta, setelah bertemu dengan seorang dokter spesialis syaraf.

 

Tahun 2002 hingga 2003 Imin mengalami hal yang berat. Saat itu ia sudah tidak bisa bekerja untuk mencari sesuap nasi. Hal ini berlangsung hingga tahun 2004 dengan bertambahnya penyakit, yang mirip seperti gejala beri-beri. Dari informasi dokter berdasar pemeriksaan, ia memiliki kolesterol tinggi.  Masa itu ia lalui dengan terus-menerus melakukan pengobatan.

 

Imin kembali bekerja mencangkul sawah, sebagai buruh tani di Ngasinan Kecamatan Bulu. Ia kembali dekat dengan keluarga dan menjalani pengobatan secara rutin. Ada hal menarik yang menjadi pengalaman hidup, ketika ia dikirim oleh Dinas Kesehatan Sukoharjo ke Rumah Sakit Kusta Donorejo, Kabupaten Jepara. Di sana ia hanya bekerja bersih-bersih rumput. Ia hanya kuat bertahan dalam hitungan belasan hari, lalu pulang kembali ke rumahnya.

 

Selama setahun kebelakang, ada pendampingan dari Paguyuban Sehati yang didukung oleh Lembaga Netherlands Leprocy Relief (NLR) yang menyentuh Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Desa Kamal, Kecamatan Bulu. Imin adalah salah satu yang didampingi dan mendapat beberapa pelatihan untuk pemberdayaan ekonomi seperti pelatihan ternak ayam dan membuat bawang goreng.

 

Imin masih berobat hingga sekarang kepada seorang dokter yang tinggal sama kecamatan dengannya. Akhir-akhir ini ia masih merasakan sakit pada kedua paha. Jika sakitnya teramat sangat, ia biasa meminum paracetamol.

 

Laki-laki yang memiliki hobi mendengarkan siaran berita radio tersebut telah ditinggal mati istrinya beberapa tahun lalu. Ia tinggal sendiri di rumah berpintu gebyok tersebut sedang anak perempuannya tinggal di rumah lain, masih sepekarangan.  Jika siang hari, ia sering ditemani cucu-cucunya, yang suka membawakan sajian makan setiap pagi, siang dan sore hari. Rumah yang ditempatinya tampak sepi, hanya ada seperangkat kursi tamu dan meja kosong berdebu sebab pesawat televisi sedang rusak.

 

Saat saya menanyakan bagaimana ia bergaul dengan para tetangga. Semula Imin menjawab bahwa selama ini ia tidak memiliki masalah dengan tetangga, sebab ketika sehat dulu, ia suka bergotong royong. Jadi ia tidak mengalami perundungan. Namun setelah saya tanya lagi untuk memperjelas, Imin menjawab jika sebenarnya ia sudah lama sekali, bahkan sejak sebelum pandemi COVID-19 melanda, ia tak lagi menghadiri kondangan. “Saya sendiri yang menghindari bertemu secara intens dengan tetangga,” ungkapnya. Ia merasa khawatir meski di depannya para tetangga berlaku baik, namun di balakang punggungnya membicarakan dirinya. Ia tak lagi jagong (bergaul) di tetangga yang punya hajat sejak mengalami perubahan fisik. Jari-jari di kedua tangannya pernah mengalami infeksi bakteri, sehingga bengkok. Saya tidak melihat hal itu di kedua kakinya sebab sepasang sandal menutup seluruh telapak kaki, dan saya enggan menanyakan untuk menjaga kenyamanan perbincangan kami siang itu yang sudah mencair.

 

Dari penuturan seorang perempuan pendamping komunitas difabel di Desa Kamal bernama Sugiyatni sebelum menemui Imin, saya memperoleh informasi bahwa jika belum kenal secara akrab dengan tamunya, Imin akan menjaga jarak. Namun  kalau sudah akrab, maka ia tak segan bercerita tentang sejarah hidupnya tanpa diminta. Satu lagi peringatan dari Sugiyatni, bahwa Imin enggan diambil gambarnya. Dan itu benar saja, karena sampai batas waktu kami berbincang sekira setengah jam, Imin tetap kukuh keberatan untuk difoto namun mengizinkan saya menulis kisah hidupnya sebagai Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan saya menghargainya.  Imin mengaku ia mendapat santunan dari BAZNAS, serta Paguyuban Sehati yang memberikan kursi roda  pada  April 2021.

 

Baca Juga: Stigma terhadap Orang dengan Kusta

 

Sujiat, OYPMK yang Berdaya Secara  Ekonomi

Saya ke rumah laki-laki pegiat Self Help Group (SHG) atau Kelompok Difabel Desa Kamal bernama Sujiat (68) saat ia sedang mencari rumput untuk pangan hewan ternaknya. Ada seekor sapi gemuk serta beberapa ekor kambing di pelataran rumahnya yang sederhana, bertembok bata tidak berplester namun masih berlantai tanah. Ada pula beberapa ekor ayam kampung yang tinggal di kandang yang kentara baru, terlihat dari penampakan anyaman bambu-bambunya dan di sampingnya ada kandang-kandang yang belum selesai digarap oleh Sujiat. Istri Sujiat menjemputnya di ladang, lalu kami berbincang di teras rumah, di atas dipan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bergelas-gelas teh panas disajikan kepada kami oleh anak perempuan Sujiat yang tinggal serumah dengannya. Istri Sujiat pun turut menambahi cerita saat saya bertanya tentang banyak hal.

 

Sujiat mengalami kusta pada tahun 1986 saat ia merantau bekerja di Kabupaten Batang. Semula hanya ada noda putih di tubuhnya yang mati rasa, tapi kemudian keanehan itu terus berlanjut, karena bercak tersebut semakin bertambah. Ia yang saat itu berjualan bakso secara berkeliling kemudian memeriksakan diri ke dokter dan diberi obat. Ia tetap berjualan seraya berobat. Lalu ia berpindah ke Semarang dan melakukan rawat jalan. Tak berhenti di situ rupanya petualangan hidupnya, sebab segera ia berpindah  ke Yogyakarta dan tinggal di sana selama empat tahun.

 

Sujiat benar-benar berhenti berobat dan dinyatakan sembuh pada sekira tahun 2000-an. Saat itu, kala masih pengobatan, ia merogoh kocek sendiri sebab belum ada jaminan kesehatan dari pemerintah. Namun pihak layanan kesehatan hanya membebani setengah dari biaya berobat. Ia taat berobat dan melakukan pemeriksaan rutin setiap tiga bulan sekali dengan pengobatan yang tidak boleh dijeda.

 

Sujiat tidak mengalami stigma dan diskriminasi oleh masyarakat sekitar. Ia malah pernah dianggap berjaya oleh para tetangganya ketika di suatu masa berpraktik sebagai paranormal. “Pernah itu di satu hari ‘pasien’ saya sampai 100 orang,’ terang Sujiat dengan serius. Hal itu dibenarkan oleh sang istri. Sujiat hingga hari ini mengaku masih melakukan ritual yakni makan nasi hanya sekali sehari. Kebiasaan yang ia bangun sejak puluhan tahun silam. “Mungkin penyakit kusta yang  saya alami termasuk kusta kering ya, karena saya tidak mengalami luka,” terang Sujiat sambil memperlihatkan jari jemari kedua tangan dan kakinya. Ia tidak keberatan kami ambil dan tayangkan gambarnya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.