Lompat ke isi utama
ilustrasi kesehatan mental

Cerita Dua Penyintas Mental Health berjuang Kikis Stigma

Solider.id - Isu kesehatan mental masih menjadi hal yang belum  diketahui banyak orang. Stigma negatif dan pengabaian sangat lekat dengan kehidupan mereka. Beberapa penyintas sempat alami masa pahit dan bahkan hampir mengalami keputusasaan. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang sempat ingin coba bunuh diri. Namun demikian, beberapa orang telah nyata mampu melewati masa pahit dan terbebas dari belenggu stigma.  

 

Afina Syifa Biladina adalah seorang penyintas bipolar dan pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak lima kali. Ia pernah dirawat di rumah sakit jiwa di Bandung, juga di RS Hasan Sadikin. Ia pernah mendapatkan stigma dan ia sedih akan hal itu. Stigma itu datang dari keluarganya sendiri. Sebelumnya mereka pernah berpikir bahwa dirinya kurang iman. Sampai Afina harus mengalami prosesi rukyah sebanyak dua kali. Ia juga dikatakan hanya cari perhatian alias caper saja. Lalu bagaimana ia menghadapi itu semua? Sedih tentunya. Lalu ia berpikiran dan berprinsip bahwa ia tidak bisa mengontrol pemikiran orang lain. “Omongan mereka tidak akan menghancurkan diri aku,” tegas Afina saat di Kongkow Inklusif seri 38 yang dihelat Konekin, Sabtu (18/9). 

 

Mengambil tema Break The Stigma, Bersama Mencegah Bunuh Diri, Diva Asnawi, moderator menyampaikan alasan penting. Selain ketiadaan data prevalensi bunuh diri pada difabel, ia mengaku bahwa setiap orang pasti memiliki fase tertentu. Pun demikian difabel dari berbagai ragam, juga mengalami kerentanan mental ilness.

 

Baca Juga: Yayasan Satunama Launching Mental Health Disability Institute (MHDI)

 

Seperti yang dialami Afina, langkah pertama yang dia lakukan adalah menemui psikolog. Ia sejak kecil mengalami beberapa keterlambatan, salah satunya perkembangan emosi. Kalau sedih berlebihan dan kalau gembira pun juga berlebihan. Psikolog menyarankan ia ke psikiater dan didapat diagnosa bipolar. Ketika bahagia, Safina merespon dengan sangat berlebihan dengan rentang waktu seminggu bahkan bisa sebulan. Orang dengan bipolar mengalami perubahan mood esktrem. Afina sudah berjuang dan ia menerima. Ia kini mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental lewat akun instagramnya. Sarjana kesejahteraan sosial itu pernah menjalani terapi kognitif dan perilaku (CBT) serta mengurangi kerentanan keinginan bunuh diri dengan menulis, self talk, olah nafas, journalling dan berkeyakinan dengan prinsip “yang menguasai diriku adalah aku sendiri.” 

 

Lain dengan Laura Aurelia Dinda, peraih medali emas di Asean Paralimpic 2017. Sampai 12 tahun, Laura adalah seorang atlet Popda hingga SMA. Kemudian ia jatuh dan mengalami patah tulang belakang dan penangannya sangat terlambat karena baru tiga hari setelahnya ada tindakan. Ia kemudian berkursi roda dalam kegiatan sehari-hari.

 

Pada fase depresi, Laura mengalami denial dan marah-marah. Ia protes pada kehidupan mengapa hanya karena terpeleset jatuh saja ia tidak bisa jalan dan harus berkursi roda. Yang dilakukan selama ini adalah latihan, sekolah, les, dan tidur. Saat itu ia ingin bunuh diri. Lalu orangtuanya bilang kalau ia kurang dalam berdoa. “ini nggak ada yang ngerti aku, capek aku,” demikian dulu ia sering berkeluh kesah. Ia mengalami kerentanan depresi, beruntung sebab ia tak bisa banyak bergerak. Akhirnya ia hanya bisa berpikiran tidak mau minum obat. Namun ibunya sangat memperhatikan soal obat.

 

Menjadi seorang atlet paralimpic, ia sering diajak untuk menjadi narasumber. Baginya tidak ada yang namanya titik balik. Karena hal itu akan terus berproses, “oke aku sudah berhasil tiga hari ini,” begitu terus perjuangannya mengatasi emosi. Depresinya disebabkan karena ia berpikir tidak ada yang mempedulikannya. Bahkan ia berpikir ia tidak pernah cukup bagi orang lain. Ia kemudian lebih berfokus kepada “gue mau ngapain ini? Eh lu jadi difabel.”

 

Ibu bagi Laura adalah support system. Ia sadar memiliki masalah kesehatan mental karena ia tahu gejala-gejalanya, misalnya ketika ia sudah kelas 1 SMP, ibunya pernah bilang kalau ia menangis itu mental tempe. Mungkin itu yang dikatakan bahwa tekanan itu datang dari orangtua. Ayahnya lebih condong kepada pelajaran, namun ibunya ke prestasi renang. Dan ibunya bukan orang yang suka bilang, “mamah sayang kamu lho.” Namun, ibunya adalah sosok yang jika Laura sedang marah, ia diam saja. Jadi menurut Laura bantuan/support itu kadang cuma ada seseorang yang ada untuknya.“Aku apresiasi teman yang memperlakukan aku biasa saja. Mamaku ada tanpa memberikanku toxic positivity. Kalau teman-teman ada masalah, semoga cukup mereka ada untuk teman-teman,”pungkas Laura.

 

Persoalan Kesehatan mental mungkin bisa terhadi pada siapa saja dan kapan saja. Dukungan berbagai pihak mutlak diberikan. Berkunjung ke psikolog atau psikiater adalah salah satu hal yang bisa dilakukan untuk langkah prefentif. Beberapa fasilitas Kesehatan tingkat pertama di beberapa daerah bahkan sudah sediakan psikolog pada layanan mereka. Sebagai awam, tidak semestinya memberikan berbagai stigma bagi seseorang yang melakukan konseling atau kunjungan ke psikolog dan psikiater. Hal yang mereka lakukan justru merupakan langkah untuk lebih baik agar mereka dapat terlepas dari persoalan Kesehatan mental.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.