Lompat ke isi utama
foto saat dinas sosial setempat ikut panen raya lele

SIHAWA, Beternak Lele jadi Upaya Berdaya

Solider.id, Gunungkidul -Minimnya pemberitaan   kegiatan difabel psikososial membuat mereka makin terpinggir dan sulit mendapatkan martabat kemanusiaan. Namun dengan adanya dukungan keluarga dan lingkungan, Yakkum bersama kelompok swa bantu membawa difabel psikososial di Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul untuk melalui masa sulit mereka dengan keterampilan tambahan. Membekali sahabat difabel psikososial dengan keterampilan budidaya empon-empon dan beternak lele. Hal ini menjadi upaya positif bagi difabel psikososial untuk bisa kembali bermasyarakat dan berkegiatan.

 

Berdiri sejak 2018, kelompok Sihawa atau Siraman Sehat Jiwa adalah kelompok swa bantu yang diinisiasi Yakkum untuk membantu difabel psikososial di Kalurahan Siraman. Memiliki anggota sebanyak 15 orang, bila semula Sihawa melakukan budidaya empon-empon, maka memasuki musim kemarau mereka mengalihkan usaha pada budidaya dan ternak lele. Lokasi kegiatan dipusatkan di halaman rumah Koordinator Sihawa, yakni Supriyanto yang berada di RT 05 RW 05, Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.

 

Jerih payah kawan-kawan Sihawa kini membuahkan hasil. Setelah berlatih dan berusaha menerapkan ilmunya tentang beternak lele, baru-baru ini Sihawa menuia panen raya. Mengawali acara panen raya, Winarto yang mewakili Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul mendapat kehormatan pada kesempatan yang pertama untuk mengambil lele dari kolam. Disusul kemudian pihak Kapanewon Wonosari yang diwakili oleh Wasdani, dan dilanjutkan oleh Lurah Siraman, Damiyo. Bersama mereka hadir para Panewu dari Kapanewon Wonosari, Babinsa Wonosari dan jajarannya, Babin Kamtibmas, Pamong Kalurahan, Kamituo, Dukuh serta Kepala Puskesmas Wonosari I bersama para Kader Kesehatan Jiwa.

 

Baca Juga: Difabel Psikososial Kalurahan Mulo Kembangkan Usaha Tani dan Peternakan

 

Menjadi hal yang paling berkesan bagi Heny Setyawati, Kader Sehat Jiwa di Kalurahan Siraman saat warga dampingannya dapat memetik hasil kerja keras mereka.

“Kelompok swa bantu ini hanya media atau alat supaya teman-teman difabel psikososial mempunyai wadah untuk melakukan kegiatan positif. Tujuan dari dibentuknya kegiatan ekonomi kelompok swa bantu ini bukan dari capaian hasilnya, karena memang ditujukan sebagai upaya terapi agar teman-teman difabel psikososial tidak hanya bengong. Mereka hadi punya  kegiatan positif yang bisa membantu membuka pikiran.” Ujar Heny  yang menyatakan bahwa kebahagiaan bagi anggota dan caregiver adalah saat anggota bisa mencapai tingkat ekonomi yang bagus melalui usaha yang mandiri.

 

Selain rasa syukur karena mendapat dukungan dari lingkungan, Supriyanto juga merasa senang karena adanya tambahan dukungan permodalan dari Yakkum. Tak hanya itu kelompok Sihawa juga mendapat dukungan tambahan dari anggaran dana desa yang disisihkan. Jelas sudah bagi Supriyanto bersama seluruh anggota Sihawa, bahwa beternak lele dan panen raya telah menjadi upaya pembuktian yang bisa mereka wujudkan.

“Sangat-sangat bahagia sekali. Karena melalui budidaya ternak lele teman-teman saya yang dianggap tidak bisa bekerja bisa beternak lele. Karenanya melalui panen raya ini kami berharap pada masyarakat untuk terus mendukung dan memotivasi teman-teman difabel psikososial dengan tidak mengucilkan mereka.” kata Supriyanto di tengah sukacita yang ia rasakan.

 

Meski tujuan utama dari kegiatan beternak lele ini bukan diprioritaskan untuk mencari keuntungan, namun tetap menjadi kebahagiaan bagi Supriyanto saat ia bersama seluruh anggota Sihawa terlibat dalam panen raya.

“Sementara ini kegiatan ternak lele menjadi kegiatan untuk mengurangi tingkat kekambuhan bagi teman-teman difabel psikososial, jadi kami tidak mengutamakan untung ruginya.” aku Supriyanto yang mengisahkan rasa bahagia mereka tak lagi bisa dilukiskan.

 

Memiliki harapan kecil, Supriyanto hanya ingin agar teman-teman difabel psikososial lain bisa saling mengingatkan dan saling mendukung, sehingga bisa sembuh dan segera kembali berkegiatan di lingkungan.

 

Panen raya yang dilakukan oleh Sihawa mungkin bagi Sebagian orang merupakan hal yang biasa. Namun hal tersebut amat cukup membuktikan bahwa kelompok difabel psikososial mampu produktif dan menghasilkan. Inisiatif mereka untuk mengundang beberapa stake holder juga merupakan langkah strategis. Meski mungkin minim dari pemberitaan media masa, namun praktik-praktik baik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok difabel ini merupakan benih-benih dari perwujudan Indonesia inklusif. Lebih jauh, dukungan pemerintah setempat dengan pengalokasian dana desa untuk pengembangan pemberdayaan difabel juga merupakan angin segar. Pelan namun pasti, pembbuktian dan praktik baik yang makin banyak merupakan bahan bakar agar percepatan Indonesia inklusif itu semakin cepat terwujud.[]

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.