Lompat ke isi utama
ilustrasi kekeraan seuksual pada difabel Sumber gambar: https://lpmpendapa.com/opini/silang-sengkarut-kasus-kekerasan-seksual-di-indonesia/

Langkah UKM Peduli Difabel dalam Mengantisipasi Kekerasan Seksual

Solider.id,Yogyakarta -Kekerasan Seksual sangat mungkin dialami oleh mahasiswa difabel di lingkungan perguruan tinggi. Begitulah kira-kira penggalan kutipan yang disampaikan oleh Sarli Zulhendra, S.H., M.H. selaku Tim Advokasi Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia  dalam webinar “Difabel dan Kekerasan Seksual” yang diselenggarakan oleh Fisipol Crisis Center UGM, Jumat (3/9) lalu. Melihat potensi tersebut, sudah seharusnya pihak kampus melakukan sejumlah Langkah untuk tetap melindungi seluruh warga universitas agar terhindar dari tindak kekerasan seksual.

 

Menanggapi hal tersebut, Alexander Farrel, salah seorang mahasiswa difabel netra dari Fakultas Hukum angkat bicara perihal ini melalui sambungan Whatsapp, Sabtu (11/9). Ia mengatakan bahwa mahasiswa difabel sangat rentan mengalami kekerasan seksual. Sebab menurutnya ada beberapa alasan yang melatarbelakangi.

 

Misalnya saja mahasiswa difabel netra, seringkali kesulitan dalam mengidentifikasi siapa pelakunya saat dirinya mengalami kekerasan seksual. Alhasil, hal itu menyebabkan yang bersangkutan mengalami kesulitan dalam menjelaskan kronologi kejadian saat ingin melaporankan.

 

Baca Juga: Tantangan Proses Penanganan Hukum Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Difabel

 

Terlebih lagi, Farrel menyoroti jika penegakkan kasus kekerasan seksual selama ini masih terbilang cukup buruk. Terbukti dari masih langgengnya kasus kekerasan seksual yang terjadi dan tidak setimpalnya hukuman yang diberikan kepada pelaku. Ditambah, proses birokrasi hukum yang terkadang cukup menyulitkan difabel.

 

Sadar atau tidak, adanya hal tersebut secara tak langsung membuat mahasiswa difabel kian enggan untuk melaporkan kejadian kekerasan seksual yang dialaminya. Serta menjadi angin segar bagi lahirnya bibit-bibit pelaku kekerasan. Kekerasan seksual yang sebenarnya tidak hanya berupa perbuatan fisik saja, namun bisa berupa verbal.

“Kalau kita berbicara soal difabel psikososial dan intelektual, mungkin akan menjadi semakin runyam. Bukan karena difabelnya, tetapi sistem penegakan hukumnya dan stigma masyarakat yang tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk terus menggaungkan isu ini,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Farrel mengungkapkan pentingnya peningkatan wawasan terkait kekerasan seksual kepada mahasiswa difabel. Sebab banyak kejadian kekerasan tidak diketahui oleh si difabel sebagai korban. Mereka justru baru menyadari ketika sudah dijelaskan mengenai apa itu kekerasan seksual.

 

Walaupun kekerasan seksual seringkali menimpa perempuan difabel. Hal ini bukan berarti laki-laki dengan difabel bebas dari kekerasan seksual. Maka asumsi bahwa kekerasan seksual hanya menimpa perempuan difabel merupakan sebuah kesalahan.

 

Farrel mengakui bahwa sejauh ini jarang terdengar kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Namun, dirinya berasumsi bahwa bisa saja memang tidak ada kasus yang terjadi atau justru sering terjadi namun kasusnya tidak ketahuan.

 

Maka sebagai entitas yang berfokus pada isu difabel, UKM Peduli Difabel juga sering melakukan edukasi mengenai kekerasan seksual terhadap mahasiswa difabel. Entah itu berupa diskusi maupun diseminasi riset. Setidaknya hal tersebut bisa memberikan pengetahuan lebih kepada mahasiswa difabel dan dapat mereduksi angka kekerasan seksual di perguruan tinggi.

“Semisal seburuk-buruknya terjadi kekerasan seksual terhadap mahasiswa difabel UGM, maka UKM Peduli Difabel melalui Departemen Advokasi pasti akan memberikan pendampingan khusus dan menindaklanjuti hal tersebut kepada pihak yang lebih berkompeten,” jabarnya.

 

Kendati demikian, Farel mengakui bahwa kekerasan seksual merupakan isu yang sensitif. Bisa jadi, tidak semua mahasiswa difabel merasa nyaman untuk menceritakan pengalaman pahitnya tersebut.

 

Maka dari itu, sudah menjadi tugas UKM Peduli Difabel dalam membangun kedekatan personal kepada mahasiswa difabel supaya ketika mereka memiliki permasalahan, baik menyangkut akademik, non akademik, atau bahkan kekerasan seksual dapat diketahui dan ditindaklanjuti dengan cepat.

 

Langkah yang diambil oleh UKM Peduli Difabel Universitas Gadjah Mada bisa jadi merupakan praktik baik untuk memutus mata rantai kejahatan kekerasan seksual yang acapkali menimpa difabel. Edukasi, diseminasi hasil penelitian, advokasi, dan bahkan pendekatan personal yang humanis dan menciptakan rasa nyaman dan aman menjadi salah satu bagian kecil kunci mewujudkan keadilan terhadap difabel. Institusi Pendidikan di tingkat menengah misalnya, dapat mengadopsi cara-cara tersebut. Bahkan pegiat Kesehatan masyarakat di tingkat puskesmas misalnya dapat pula mensosialisasikan hal tersebut kepada masyarakat agar meminimalkan kejadian kekerasan seksual pada difabel. Hal ini mengingat banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di pedesaan. Mengubah pola piker dari yang tabu menjadi perlu dan tahu nampaknya juga tampak berperan dalam upaya ini.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.