Lompat ke isi utama
KIE berupa kalender buatan Sigab Indonesia

Partisipasi Kelompok Berisiko dalam Menghadapi Covid – 19 di Yogyakarta

Solider.id – Virus covid-19 ditemukan di Indonesia awal Maret 2020 dengan kasus lonjakan perhari yang meningkat tajam. Doni Mardoko, Ketua Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) menyatakan covid-19 sebagai bencana nasional (14/3). Seiring perkembangannya, masa tanggap darurat semula hingga 29 Mei 2020, terus diperpanjang dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa Bali hingga 6 September 2021.

 

Wabah yang tengah berjalan hampir dua tahun ini pun, memunculkan peningkatan eskalasi krisis hingga melahirkan adaptasi-adaptasi atau coping mechanism dari berbagai pihak. Termasuk dari lapisan masyarakat difabel yang rentan terhadap risiko paparan covid-19, para lanjut usia, anak-anak hingga perempuan dan ibu rumah tangga.

 

Kondisi tersebut tentu saja mempengaruhi terhadap langkah setiap kebijakan yang diambil pemerintah dalam berbagai bidang kehidupan. Social distancing atau pembatasan terhadap setiap aktivitas perkumpulan di masyarakat, bidang pendidikan dengan pembelajaran secara daring, bidang pekerjaan dilakukan dari rumah atau work from home (WFH).

 

Baca Juga: Tanggungjawab Negara dan Peran Relawan untuk Difabel Penyintas Covid – 19

 

Model adaptasi yang dibangun oleh lingkungan dan komunitas

Di banyak wilayah, seperti di Yogyakarta yang sejak pandemi dinyatakan semangat sebagai kota relawan terus bertumbuh. Ada berbagai praktik baik yang justru muncul dari masyarakat difabel dan lingkungan komunitas. Ragam bentuk adaptasi yang mewujudkan kesadaran dalam upaya pegendalian paparan virus hingga mempertahankan ekomoni dari level rumah tangga.

“Kita sedang kembali menggerakkan ekonomi di tengah pandemi. Ragam role model bermunculan dari banyak pihak, banyak organisasi. Pemerintah daerah akan membuka diri dan merengkuh inovasi pemikiran dan cara-cara dari masyarakat, bukan hanya dalam penanganan pandemi, namun hingga ke pemulihan ekomoni berbasis organisasi. Aktivitas kolaborasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat,” papar Drs. Biwara Yuswantana M.Si, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Yogyakarta (BPBD DIY).

 

Menurut ia, pandemi membawa hikmah. Kolaborasi lintas sekat ini jadi terwujud. Ada adaptasi respon, mobilitas swadaya, networking, serta  mampu menghadirkan outcome. Bentuk kepedulian upaya respon yang dilakukan oleh lingkungan, relawan, masyarakat difabel, komunitas misalkan; sambatan, canthelan ekomoni berbagi, solidaritas jogo tonggo atau turut menjaga tetangga, serkileran (iuran sukarela) yang menjadi upaya mobilisasi sumber daya.

 

Kerelawanan untuk evakuasi, pemusaraan pemakaman jenazah dengan protokol covid-19, berbagi nasi bungkus dan sembako untuk keluarga yang tengah melakukan isolasi mandiri (Isoman), konseling bagi para isoman, hingga edukasi dan penyampaian informasi yang tepat terkait pandemi covid-19.

 

Praktik baik kelompok rentan wujudkan ketangguhan masyarakat hadapi pandemi covid-19

Tanggap bencana covid-19 yang belum selesai, mendorong masyarakat berkontribusi aktif, berinisiatif dalam pelibatan yang promotif dan preventif. Banyak praktik baik yang jadi pembelajaran dalam membangun ketangguhan masyarakat, dan dilakukan oleh masyarakat difabel dan komunitas atau organisasi. Contohnya seperti yang dilakukan oleh:

Kelompok perempuan transgender, komunitas Kebaya Yogyakarta. Mereka memiliki inisiasi dan mampu mengindentifikasi kebutuhan advokasi bagi kelompoknya. Selain menggalang solidaritas dan kolaborasi dengan para pihak lain, mereka juga memberikan edukasi.

“Selain pembagian masker juga ada edukasi terhadap kawan-kawan. Bagi mereka yang punya usaha namun tidak bisa produktif, ada pendampingan bisnis secara efektif selama pandemi, bisnis online atau lainnya. Ada juga pelatihan ketahanan pangan, agar komunitas bisa ketersediaan gizinya tetap terjaga selama covid dan bisa juga dijual untuk menambah penghasilan. Langkah advokasi dalam pendampingan berkala untuk pemenuhan logistik, karena bantuan dari pemerintah yang tidak bisa diakses, sebab mereka pendatang, tidak ada identitas untuk mengaksesnya,” papar Jeny.

Organisasi Yakkum. Staregi YEU (Yakkum Emergency Unit) yang melibatkan kelompok berisiko dalam respon terhadap covid-19 tentu menghadapi tantangan dan ada cara dalam menyiasatinya.

Disampaikan Dhinar Riski, ada beberapa tantangan yang dirasakan antara lain, terkait dangan informasi yang bisa diakses oleh semua hambatan. Layanan kesehatan, bagaimana kelompok rentan bisa mengakses kesehatan seperti vaksin. Perbaikan laporan kerja data covid-19, seperti mencantumkan jenis difabelnya, komorbitnya, gendernya, dan perekonomian.

“Yang penting adalah melibatkan semuanya, difabel, transpuan, lansia,” ucap ia.

 

Lembaga Sigab Indonesia. Memiliki konsen untuk membuat informasi yang dapat diakses oleh kelompok yang beresiko. Melalui upaya ini diharapkan informasi tentang pandemi Covid – 19 dapat tersampaikan secara utuh, benar, dan mudah diakss oleh semua kalangan.

“Kami membuat KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi). Di awal edukasi informasi covid-19 pemerintah belum gunakan Juru Bahasa Isyarat (JBI) hingga informasi belum mampu diakses oleh difabel Tuli. Jenis Komunikasi, Informasi dan Edukasi atau KIE yang sudah dilakukan dan kami buat, antara lain; informasi melalui youtube dan website Solider.id. Selain itu, juga membuat kalender ukuran A3 yang berisikan info covid-19 dan protokol kesehatan, tips tentang seputar hadapi masa pandemi. Kalender meja untuk tenaga kesehatan yang berisi edukasi interaksi terhadap difabel, agar memudahkan mereka saat tangani pasien difabel. Advokasi lain yang dilakukan berkaitan dengan keterbatasan literasi, hingga perlu kerja keras untuk meluruskan informasi,” terang Ajiwan.

 

Yayasan Ciqal. Dalam mengidentifikasi kebutuhan advokasi bagi kelompok difabel di masa pandemi, ada inisiasi dan langkah-langkah yang juga ditempuh.

 

Dijelaskan Arni Surwanti, masyarakat difabel yang terdampak ekomoni bisa diupayakan dalam pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker. Difabel juga cukup mampu untuk membuatnya. Langkah kolaborasi dan kerjasama dengan beberapa instansi, pengusaha, lembaga, organisasi difabel terus digalang, termasuk pelatihan marketing. Sedangkan dari segi sosial, ia mencontohkan soal pembagian sembako. Segi informasi, menurut Arni, terkait pengayaan oksigen, bantuan layanan kesehatan, vaksinasi menjadi hal penting.

 

Komunitas Perempuan. Peran perempuan dalam melakukan respons dan menginisiasi logistik bagi yang tengah melakukan isoman.

“Dalam kegiatan pendampingan dan pemberdayaan. Ada proses edukasi covid-19 yang meliputi; kesehatan, kelangsungan usaha, adaptasi dalam usahanya yang sebagian besar dibidang olahan makanan, dan lainnya. Pendampingan kelompok juga dilakukan. Saat isoman, perempuan jadi garda terdepan dalam pemenuhan kebutuhan logistik dan tenaga yang mengurus pasien isoman dalam keluarga. Bagaimana agar perempuan ini tadak terpapar. Banyak perempuan yang dapat membantu, bahkan mereka juga membantu di lingkungannya bukan hanya untuk dirinya sendiri,”  ungkap Heni Daya Anisa.

 

Ragam contoh tersebut merupakan refleksi membangun ketahanan masyarakat yang dilakukan oleh kelompok yang dinilai memiliki risiko besar untuk terpapar. Mereka pun ternyata mampu menjalankan proses bersama dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas di masa pandemi.

 

Tugas pemerintah untuk memenuhi hak difabel dalam mendapatkan informasi yang akses. Pemerintah daerah juga melihat dan menilai berbagai inisiatif warga dalam merespon pandemi, dan perlu mendukung merengkuh dan mengoptimalkan kontribusi keberdayaan warga.

“Upaya yang sudah dilakukan oleh komuniatas akan keterkaitan dengan kebijakan. Situasi akan dinamis dan butuh koordinasi dengan berbagai pihak termasuk kelompok rentan, difabel, serta lansia, guna melihat bagaimana skenario jangka panjang untuk respon pandemi ini,” kata Agus Pryanto, Dinas Kesehatan Yogyakarta.

Perkembangan dari covid-19 adalah muncul jenis lain seperti varian delta atau B.1.617.2 yang pertama ditemukan di India, Desember 2020. Kemudian varian MU atau B. 1621 yang ditemukan di Kamboja, Januari 2021. Varian MU masih butuh penelitian lanjutan terkait penyebab dan penularannya. Ini berarti, semua lapisan masyarakat masih harus terus hidup berdamai, berdampingan dengan covid-19 hingga pandemi berakhir.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.