Lompat ke isi utama
peserta test memakai komputer

Tes Tahap Dua Telah Usai, Begini Harapan Sejumlah Calon anggota KND

Solider.id - Tahapan tes kedua Komisi Nasional Disabilitas usai digelar, sejumlah harapan dan cerita muncul dari beberapa calon kandidat. Harapan manis, tentu tersemat dalam benak mereka. Apa saja harapan dan rencana mereka jika nanti telah duduk di jajaran Komisi Nasional Disabilitas? Sejauh ini  mereka memiliki antusias yang besar untuk dapat duduk bersama dalam Komisi Nasional Disabilitas yang baru dibentuk kali pertama di Indonesia. Seperti Irpan Rustandi dan Ahmad Basri yang berharap masih bisa mengikuti tes seleksi selanjutnya.

“Panitia mampu memberikan skor dan penilaian dengan obyektif, sehingga dapat memilih calon KND dengan kualitas terbaik,” Angga berharap demikian.

“Siapapun yang akan terpilih, nanti benar-benar dapat bekerja dengan cerdas memperjuangkan penghormatan, pemenuhan hak masyarakat difabel di tanah air,” kata Bunda Juju.

 

Menurut Suhendar. karena pemilihan calon KND ini melalui proses tahapan yang panjang, sudah tentu setiap orang pun ingin diterima. Saat ia mendapatkan kesempatan tersebut, itu akan membuka peluang dirinya untuk bisa mengekspresikan dan mengaktualkan pengetahuannya sebagai difabel yang memiliki kemampuan dibidang ilmu hukum. Sehingga kedepan bisa membantu tugas KND, tentunya sesuai dengan undang-undang dan aturan organisasi yang ada ditubuh KND.

“Berharap dapat diterima. Akan tetapi, kembali kepada kemampuan diri kita sendiri, kan ini adalah sebuah tes uji kompepentsi kita sendiri,” katanya.

 

Sedangkan Ismail berharap, panitia seleksi mengevaluasi kembali kualitas tes kemarin, dan berharap tes berikutnya panitia memperbaiki sistem seleksi dengan memperhatikan assesment yang dibutuhkan oleh kandidat. Sehingga nanti akan mendapatkan calon yang terpilih sesuai kriteria yang diharapkan oleh masyarakat dan difabel.

 

Dari pihak panitia sendiri, belum ada informasi lanjutan terkait tahapan tes selanjutnya. Para peresta belum mengetahui apakah tes objektif dan tes penulisan makalah ini menjadi finalisasi atau bukan. Mereka memastikan diri untuk tetap bersiap mengikuti rangkai proses dari panitia pelaksana.

 

Baca Juga: Calon Kandidat Buka Suara, Begini Progres Seleksi Tes KND

 

Bicara tentang rencana kerja untuk KND dan keterkaitan dengan RAN PD

Angga Januar memiliki rencana kerja untuk mengembangkan karakter, jejaring dengan hadirnya KND ini. Membawa visi, untuk membangun KND sebagai lembaga yang produktif, membumi, independen, sehingga mampu berkarya dalam melaksanakan pemantauan, evaluasi, serta advokasi dalam pelaksanaan penghormatan, pelindungan dan pemenuhan hak masyarakat difabel di seluruh wilayah Indonesia.

“Saya memiliki misi seperti ini: (1) Mengembangkan rencana kerja yang spesifik, terukur, dapat dilaksanakan, serta memiliki relevansi yang tinggi. (2) Membangun sistem kelembagaan, sistem kerja, serta sistem layanan yang efektif dan efisien. (3) Mengembangkan alat advokasi, alat monitoring internal dan eksternal untuk mengukur efektifitas kerja yang dilakukan. (4) Menciptakan pola kerja yang dinamis, produktif serta inovatif dengan selalu menjaga komunikasi dan koordinasi. (5) Menjadikan KND sebagai sebuah lembaga yang terbuka dan mampu berjejaring dengan semua pihak dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang handal, memiliki integritas, sehingga mampu menjaga profesionalitas dalam menjalankan amanah yang diemban.”

Tentang Rencana Aksi Nasional Penyandang Disabilitas (RAN PD) yang sedang gencar disosialisasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (PAPPENAS) Angga pun sudah mengetahuinya dan sering didiskusikan bersama difabel lain. Ia berharap RAN PD, dapat diakomodir dan diterjemahkan dengan baik oleh pemerintah daerah.

 

Juju Sukma, S.Psi, merencanakan untuk menyosialisasikan Undang-Unadng Disabilitas kepada para pimpinan daerah, dan mendorong agar menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Walikota (Perwal) yang benar-benar bisa diaplikasikan, bukan sekedar penggugur kewajiban.

 

Bunda Juju pun sudah tahu RAN PD dan akan menjadikan prioritas dalam rencana tugasnya, “Iya, saya tahu RAN PD. Tapi, saya punya agenda tersendiri untuk percepatannya, seperti langkah-langkah strategis yang menunjang RAN,” tutunya.

 

Hampir senada, Irpan Rustandi juga membawa rencana kerja, Ia menginduk pada sesuai dengan penyataan Presiden Joko Widodo, pada sambutan Hari Disabiitas Internasional (HDI) 2020 lalu. Presiden telah mengesahkan 6 Peraturan Pemerintah (PP) dan 2 Peraturan Presiden (PerPres).

“Tetapi, implementasinya belum optimal. Untuk itulah KND hadir mengawal, mengawasi, mendorong komitmen dari seluruh pemanggku kepentingan yang lain, agar melaksanakan implementasi dari amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tersebut,” ungkapnya.

 

Terkait RAN PD, secara terbuka Irpan mengatakan belum pernah tersosialisasikan. Ia juga berharap, Bappenas dan pemangku kepentingan terkait dapat melakukan diseminasi dan sosialisasi yang efektif terhadap seluruh masyarakat.

“Saya senantiasa memantau, mengikuti. Semoga tidak terlalu bergeser dari tujuan dan satu sama lain akan saling mendukung demi tercapainya kesetaraan itu sendiri,” demikian respon Suhendar, SH. tentang RAN PD.

 

Ia juga menjabarkan rencana kerjanya untuk KDN, ‘(1) Melakukan koordinasi di tingkat internal sendiri karena beda orang beda visi, untuk menyatukannya dengan koordinasi dan komunikasi, hingga dalam konteks pelaksanaan tugas memiliki persepsi yang sama di KND dalam melakukan pengawasan, evaluasi dan advokasi terhadap perlindungan difabel. (2) Membagi tugas fungsi. Tiap komisioner memiliki RAN dan tugas yang berbeda tiap divisi. Tapi, tetap dalam kontek melaksanakan Undang-Undang Nomoro 8 tahun 2016. (3) membentuk kerangka kerja baik tahunan maupun lima tahunan, sehingga pedoman yang dijalankan nanti, sudah sesuai dengan pedoman tersebut. (4) Sosialisasi kepada masyarakat umum, sehingga keberadaan KND ini walaupun baru pertama harus dikenal, diketahui dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat difabel.’

“Seperti itu gambaran kerja sekarang, karena belum ada petunjuk teknis dari KND,” kata ia.

 

Dr, H. Ahmad Basri Nursikumbang, Drs., M.Pd. Untuk rencana kerjanya di KND, Ahmad Basri lebih berfokus kepada membangun masyarakat difabel yang bermartabat, bukan hanya memperoleh kesetaraan saja. Ia juga menyoroti ‘Difabel Berat’ yang harus memiliki hak yang sama disegala bidang kehidupan.

“Ada gagasan. Tujuan dari Undang-Undang Disabilitas itukan, bagaimana membuat difabel bermartabat dan menjadi masusia yang berpenghasilan, bisa bekerja. Karena difabel terdidik dan terlatih fungsinya untuk menjadi setara, sama, berkesempatan dengan masyarakat lain. Pun, demikian dengan mereka yang kategori Difabel Berat,” paparnya.

 

Salah satu strategi yang diusung Basri adalah terkait saham yang dapat dibagikan kepada difabel berat dengan syarat tertentu, dari saham itu mereka akan dapat penghasilan. Keberadaan saham itu juga dapat dipindah tangankan pada difabel berat lain, setelah yang sebelumnya tidak memerlukan lagi, baik karena telah mampu atau telah meninggal dunia.

“Saham tadi bisa dititipkan pada perusahaan yang bisa membagi keuntungan kepada difabel. KND dapat masuk pada semua lini, baik pemerintah, swasta, departemen, lembaga dari atas hingga bawah,” ucapnya. 

 

M. Ismail Bruuna memaparkan rencana kerjanya, menurut ia, karena KND baru pertama kali terbentuk, maka KND perlu membangun fondasi dulu untuk menguatkan kerja-kerjanya.

“Pertama yang urgen dilakukan adalah membangun penguatan internal dan eksternal. Eksternal di sini bisa dimulai dari penguatan jaringan kalangan masyarakat difabel di Indonesia untuk menyusun strategi komunikasi yang efektif dan responsif. Setelahnya KND akan bertumbuh menjadi lembaga yang inklusif melibatkan stakeholder lain untuk pemantauan,” ungkap ia.

 

Karena yang akan diikuti adalah seleksi calon KND, panitia pelaksana sebatas penyampaian tema Rencana Aksi Nasional (RAN) Strategis KND.

 

Formasi keanggotaan dalam tubuh KND

Memang belum ada bocoran tentang kriteria penilaian yang dapat digali dari panitia pelaksanaa KND dalam seleksi tahap dua ini. Namun, secara umum disampaikan dalam peraturannya, dari hasil seleksi akhir, akan ada 7 orang yang terpilih untuk duduk di KND. Mereka terdiri dari 4 orang difabel, sedangkan 3 orang lainnya dari non-difabel.

 

Secara formasi, KND terdiri dari Ketua merangkap anggota, Wakil Ketua merangkap anggota dan 5 orang anggota. Calon KND dari nondifabel dapat berasal dari unsur akademisi, praktisi, professional. Selain harus mempresentasikan keberagaman difabel, seperti perwakilan dari difabel Netra, Fisik dan Tuli. Selain itu, salon KND pun wajib memperhatikan keterwakilan perempuan. (

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.