Lompat ke isi utama
poster kegiatan MHDI Satunama

Yayasan Satunama Launching Mental Health Disability Institute (MHDI)

Solider.id, Surakarta - Yayasan Satunama menggelar webinar bertema literasi mental health dan disabilitas untuk Indonesia yang inklusif, Kamis (26/8). Acara webinar sekaligus melaunching program terbaru mereka, Mental Health Disability Institute (MHDI) yang tidak hanya dipusatkan di Yogyakarta saja melainkan dilakukan di Aceh, Papua dan masyarakat dampingan Yayasan Satunama lainnya. Menurut Wiiliam E. Aipipidely, direktur eksekutif Yayasan Satunama, kelahiran MHDI membuka peluang untuk bekerja sama dengan CSR. Termasuk bagaimana program ini juga berkolaborasi dengan pendampingan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

 

Bentuk kolaborasi dengan pihak lain tersebut antara lain yang sudah dilakukan yakni dengan  mengembangkan inklusif job fair, Yayasan Satunama bisa memfasilitasi difabel yang bekerja di suatu perusahaan. Pengalaman tidak hanya dari satu sisi kebijakan saja, tetapi upaya untuk memastikan difabel dan Orang Dengan Gangguan Jiwa/ difabel psikososial bisa mengakses. Tentu dengan memperhatikan beberapa hal yang pertama adalah proses-proses literasi dengan memberikan gambaran bahwa proses advokasi dilandasi literasi. Baru kemudian penelitian mendalam yang kemudian berujung kepada riset aksi, agar proses literasi berbasis bukti.

 

Dilatarbelakangi dari salah satunya adalah pertanyaan mahasiswa  tentang kajian terkait ODGJ/Difabel psikososial masih minim, Evy Rochmawati, Jurnalis Harian Kompas, menyatakan bahwa di media massa dan media sosial, isu-isu tentang difabel mental masih kalah dibanding dengan isu lainnya. Hanya berita yang memiliki kecenderungan untuk viral saja yang dikembangkan. Media massa saat ini trennya masih didominasi berita yang bukan tentang isu difabel, apalagi difabel mental. Menurut Evi, di media masssa, ini sebenarnya tergantung dengan editorial policy juga. Ia mempertanyakan mengapa isu ini hanya terbuka terbatas pada isu tertentu. “Kenapa sih kalau kita bikin hastag #stoppasung lebih tidak bergaung misalnya bila dibanding hastag #metoo.”tanya Evi. 

 

Baca Juga: Perdik Gelar IG Live Streaming Dampak Pola Asuh Terkait Kesehatan Mental Anak

 

Monica E. Madyaningrum, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dalam webinar memaparkan berbagai hal di antaranya terkait strategi media dalam pemberitaan tentang disabilitas. Ia menyatakan bahwa transformasi digital media menjadi keniscayaan. Untuk menyuarakan isu-isu disabilitas dan orang-orang dengan masalah kesehatan jiwa, media massa membutuhkan akses informasi yang akurat sehingga komunitas dan organisasi yang bergerak dalam isu disabilitas dan masalah kesehatan perlu lebih pro aktif menyuarakan aspirasi. Ia menambahkan kiat lain yakni memperkuat kolaborasi dengan komunitas-komunitas dan organisasi masyarakat sipil jiwa untuk meningkatkan literasi mengenai kesehatan mental dan disabilitas kepada masyarakat.

 

Selain itu, Monica mengatakan mengapa orang mempertanyakan soal stigmatisasi, sebab

stigmatisasi sebagai kendala mewujudkan tatanan sosial yang inklusif dan ia berharap bahwa literasi kesehatan mental sebagai ikhtiar melawan stigma. Menurutnya ada berbagai bentuk stigmatisasi antara lain inferiorisasi, abnormalisasi, dan objektifikasi.

 

Objektifikasi adalah ketika individu difabel diposisikan sebagai target pasif dari beragam bentuk intervensi. Monica mendapatkan cerita dari difabel yang diikutsertakan dalam sebuah pelatihan ternak ayam dan di pelatihan itu peserta tak hanya diberi pelatihan tetapi juga modal, namun mesin penetas yang akan digunakan sudah rusak dan enam ekor ayam siap didistribusikan kepadanya. Menurutnya narasi yang memberdayakan adalah dengan menempatkan suara individu yang mengalami sebagai suara yang utama dan melawan narasi yang menstigma.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.