Lompat ke isi utama
ilustrasi pertemuan virtual difabel

Akses Digital bagi Difabel; Sosialisasi Semakin Terkoneksi di Masa Pandemi

Solider.id – Pandemi memberi kesempatan pada semua lapisan masyarakat untuk melakukan reformasi besar. Hampir semua bidang digerakkan dengan basis digital. Mau tidak mau, masyarakat  semakin cakap digital, dengan meminimalisir efek negatifnya. Dengan jaringan internet yang semakin merata, masyarakat diharapkan bersiap untuk memanfaatkannya sebagai pengguna, termasuk oleh masyarakat difabel.

 

Dengan bertambahnya tingkat literasi digital di masyarakat, intermet harus mampu menaikkan nilai tambah manfaat bagi mereka. Baik untuk meningkatkan jangkauan edukasi maupun sosialisasi, bahkan transaksi ekonomi yang saat ini lumrah terjadi.

 

Masyarakat umum dan difabel juga sudah banyak yang dapat menggunakan internet dengan bijak. Mereka mampu mengadakan kegiatan berskala nasional bahkan internasional dari manfaat internet. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan, lebih hemat dari segi pengeluaran anggaran, waktu dan efektif untuk disatukan. Mereka dipertemukan secara virtual saat pandemi seperti sekarang.  

 

Baca Juga: LPDS Sampaikan Literasi Digital dan Pengumuman Lomba Menulis tentang Difabel

 

Melalui akses digital kegiatan masyarakat difabel semakin terkoneksi

Virus covid-19 pertama kali ditemukan di Indonesia awal Maret 2020 lalu. Seiring perkembangan, pandemi dinyatakan sebagai bencana nasional dan telah mengubah pola hidup masyarakat secara global.

 

Efektifitas digital merupakan satu temuan yang banyak dimanfaatkan warga dunia. Jaringan internet menjadi alternatif logis yang dapat membantu masyarakat untuk bertrasformasi, sehingga aktivitas dan sosialisasi masih dapat terkoneksi. Bahkan dirasa jauh lebih mudah dan murah.

 

Contoh rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat difabel sepanjang pandemi masih berlangsung. Kegiatan berbasis digital untuk menghubungkan banyak pihak, baik nasional maupun internasional. Bisa dibayangkan, alokasi anggaran dan waktu yang harus disediakan bila kegiatan tersebut dilakukan secara tatap muka.

 

Webkusi Respon Covid-19 bersama lintas organisasi difabel di tanah air

Selama pandemi, tingkat keresahan hidup di lingkungan masyarakat terus meningkat. Begitu pula di kalangan difabel, sehingga memunculkan sebuah riset tentang respon covid-19.

 

Joni Yulianto dari Yogyakarta, salah satu pencetus webkusi respon covid-19 mengatakan, webkusi lahir dari sebatas obrolan di whatapp baik chat atau telepon. Diskusi berlanjut rutin setiap pekan hingga melahirkan gagasan korelatif dikerjakan bersama, yaitu asesmen cepat dari dampak covid-19 bagi masyarakat difabel.

“Webkusi respon covid-19 dimulai pada 27 Maret 2020, tanpa ToR maupun sponsor. Tujuan saat itu, untuk menyapa lebih banyak gerakan difabel yang ada diberbagai daerah dengan mewabahnya covid-19,” terang ia.

Hj. Ramlah dari Gerkatin Sulawesi Selatan menyampaikan, rasa khawatir dirasakan oleh difabel di wilayahnya. Selain butuh akses infomasi yang tepat, akses komunikasi bahasa isyarat untuk difabel Tuli memerlukan bantuan Juru Bahasa Isyarat (JBI).

Pun, Ismail dari Pertuni berpendapat, aplikasi sceen reader yang digunakan pada smartphone-nya dapat membantu untuk membuat dan mempresentasikan slide yang berisikan informasi covid-19 kepada banyak orang, terutama difabel Netra.

“Suara masyarakat difabel penting didengarkan pemerintah,” kata Ishak Salim, pendiri Perdik Makassar.

 

Webkusi juga memberi ruang kepada masyarakat difabel dan aktivis untuk memudahkan menyambung ide, gagasan dan contoh konkrit yang terjadi di lapangan dari wilayah yang berbeda selama pandemi terjadi.

 

Temu Inklusi 2020. Daring

Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia, organisasi non pemerintah yang bersifat independen, nirlaba dan non-partisipan, berdiri 5 Mei 2003. LSM ini memiliki kegiatan rutin dua tahunan yaitu Temu Inklusi.

 

Sebelum masa pandemi, Temu Inklusi yang menjadi ruang pertemuan dalam berbagi, berkonsolidasi serta jamborenya bagi masyarakat difabel secara nasional dengan pemerintah, dilakukan dengan tatap muka.

 

Temu Inklusi 1 (2014) Desa Sindangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Temu Inklusi 2 (2016) Desa Siderejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo. Temu Inklusi 3 (2018) Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul. Pelaksanaan kegiatan masing-masing hanya berlangsung selama tiga hari dan masih terpusat di Yogyakarta.

 

Di tengah pandemi, Temu Inklusi 4 tetap digelar secara daring. Sebelumnya, Temu Inklusi direncakankan dilaksanakan di Desa Kumbono Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan tema: ‘Dari Preaktik ke Kebijakan: Memajukan Inisiatif, Kreatif dan Budaya Menuju Indonesia Inklusif 2030.’

 

Secara virtual, Temu Inklusi 4 dilakukan dalam durasi waktu panjang sekitar empat bulan, dari September 2020 hingga Januari 2021.

 

Setiap webinar nasionalnya menghadirkan dan mempertemukan pemerintahan pusat maupun daerah, lembaga   non pemerintah, masyarakat sipil dan warga difabel serta para penggiat isu difabel di tanah air, hingga pemerintahan dari Australia melalui program Australia Indonesia Partnership for Justice 2. https://temuinklusi.sigab.or.id/2020

 

Kick off Meeting, FGD Tim National Duta Cernter (NDC) & Stakeholder

Pada 12 Juli 2021, Kick off-Meeting and Fokus Group Discussion (FGD) diselenggarakan oleh Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES) Pusat bersama Institut Inklusif Indonesia (I3) dengan tema,’Penguatan Peran Pemangku Kepentingan: AT dan Upaya Peningkatan Akses AT melalui Survei rATA (rapid Assistive Technology Assesment) di Indonesia.’

 

Webinar nasional ini dihadiri masyarakat difabel, perwakilan dari Kantor Staf Presiden, ADINKES Pusat, NDC Indonesia, Kemenko PMK, Bappenas, KemenSos, KemenKes, serta dari World Health Organization (WHO) yang diwakili oleh bidang Assistive Technology Consultant, Disability, Injury Prevention and Rehabilitation, WHO Regional Office for South-East Asia.

 

Bagi kebanyakan orang. teknologi membuat segalanya lebih mudah, bagi masyarakat difabel teknologi memungkinkan segalanya.

 

Webinar Kominfo bersama masyarakat difabel

Masyarakat difabel hadir dalam kegiatan webinar sebagai cara untuk edukasi dan sosialisasi. Seperti 29 Juli 2021 di Padang Sumatera Barat, tema, ‘Rencana Aksi Disabilitas Nasional – Daerah dan Inklusivitas Disabilitas dalam Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).’

 

Pada 3 Agustus 2021, tema, ‘Kemajuan Teknologi Musibah atau Anugerah?’ Pada 9 Agustus 2021, tema, Kenali Jenis Aplikasi Tepat dan Menguntungkan di Ruang Digital.’  Dan pada 13 Agustus 2021, Forum Literasi Hukum dan HAM Digital tema, ‘Pemenuhan Hak dan Perlindungan Penyandang Disabilitas Saat Pandemi.’ terselenggara atas kerjasama Kominfo.

 

Ini menjadi sedikit contoh pemanfaatan teknologi berbasis digital selama pandemi yang menghubungkan banyak pihak, tanpa jarak, ruang dan waktu, baik nasional maupun internasional.

 

Respon masyarakat difabel dalam mengakses literasi digital

Internet kini sudah jadi bagian  yang amat penting bagi kehidpuan manusia. Pun demikian dengan masyarakat difabel. Mereka menggunakan akses digital untuk kebutuhan informasi, edukasi, sosialisasi. Mereka semakin cerdas memilih, memanfaatkan teknologi digital agar tidak tertinggal. 

 

Namun, apakah manfaat akses internet sudah merata dan dipergunakan semua masyarakat?

Wilayah pedesaan, akses internet masih terkendala jaringan signal yang belum mereata. Meski saat pandemi aktivitas masyarakat banyak menggunakan digital, alat komunikasi belum memadai atau minimnya pengetahuan tentang aplikasi yang digunakan, menjadi penyebab literasi digital belum merata dipelajari.

“Di komunitas Orbit, akses komunikasi berbasis data seluler dan media sosial sudah baik. Namun, partisipasi mengakses aplikasi seperti zoom, googlemeet, masih rendah karena minim pengetahuan dan belum semuanya menggunakan android,” ungkap Fira Fitria, Ketua Orbit Tuban Jawa Timur.

“Mereka yang terbiasa gunakan android tidak ada masalah, paling beberapa daerah sinyal kurang mendukung akses internet. Bagi yang bisa mengikuti kegiatan virtual, biasanya membagikan informasi atau materi,” kata Saryono dari komunitas Suka Mandiri Gunung Kidul, senada dengan Yanti.

Menurut Sumiyati dari HWDI. Kesulitan menjangkau sinyal, kendala untuk mengisi paket data, jadi salah satu kendala bagi mereka yang sudah menggunakan android. Terlebih di masa pandemi, pemenuhan untuk kebutulan hidup harian lebih diutamakan.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.