Lompat ke isi utama
Foto Didon Kajeng ketika mash hidup

Mengenang Didon Kajeng, Seniman Difabel Netra Asal Bali

Didon Kajeng, Seniman serba bisa asal Bali ini telah meninggalkan banyak mahakarya yang tak ternilai harganya. Meski telah tiada, namun nafas perjuangan dan petualangan kesenian bagi difabel tetap dapat kita rasakan.

 

Solider.id - Waktu memang tak seorang pun dapat menebak apa dan bagaimana sebuah hal itu terjadi. Semua seperti berjalan begitu saja bagai air yang mengalir. Begitu pula usia manusia pun tiada yang bisa mengetahui sampai kapankah nafasnya  berhembus. Dwi Ari Suandana atau lebih dikenal dengan nama Didon kajeng, seorang difabel netra yang juga menjadi ketua komunitas teratai (KOSTRA) yang dibangunnya kurang lebih sudah 5 tahun sebagai wadah teman-teman difabel netra untuk berkarya dan berkreativitas telah meninggal dunia.

 

Kabar ini datang pertama kali dari salah seorang anggota komunitas teratai bernama Made Jeri Juliawan. “benar om Didon begitu sapanya telah berpulang pada selasa malam 10 Agustus 2021 di salah satu Rumah Sakit  di daerah Denpasar Bali.” Tuturnya.

 

 Awalnya Made Jeri juga tidak tahu  Didon elah berpulang.  Sebab, beberapa hari sebelumnya  ia sempat mengobrol dengan Didodn via telepon untuk mengabari bahwa baju yang dirancangn Didon sudah jadi.  “beliau cukup senang mendengarnya waktu saya telphon itu. Suaranya sangat bersemangat dan tidak menunjukkan orang yang sedang sakit. Meski sudah sejak 3 hari terakhir sebelumnya bliau harus di rawat di RS karena menjalani isolasi. Barulah keesokan harinya kurang lebih saya di telepon oleh  saudaranya yang mengabari bahwa om Didon seperti sapaan kami telah berpulang pada pukul 23.30 WITA. Beliau dimakamkan keesokan harinya pada  pada  kamis 12 Agustus” papar Made Jeri yang di wawancara oleh solider.id

 

Baca Juga: Dari Difabel untuk inklusi dan Pesan Difabel Netra Lewat Musik

 

Didon Kajeng adalah seorang seniman sekaligus floral designer. Kiprahnya di dunia seni dan dekorasi sudah berlangsung sejak Didon remaja. Didon terkenal sebagai seorang seniman serba bisa, ia menggeluti hampir semua bidang seni dari menyanyi, teater, menulis puisi dan cerpen serta dunia lukis. Selain itu dalam bidang floral designer, Didon juga sangat aktif bahkan ia pernah memperoleh penghargaan salah satunya juara instruktur merangkai bunga berprestasi se Bali pada tahun 2013. Bahkan ia beberapa kali terpilih sebagai perancang khusus dalam acara kenegaraan di antaranya bersama tim Asbindo saat Presiden Amerika Serikat George Bush melakukan kunjungan kenegaraan ke Bali tahun 2003, Presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika kunjungan ke Museum Rudana, Ubud, Kabupaten Gianyar di sela-sela KTT ASEAN di Nusa Dua, Kabupaten Badung pada November 2011. Selain itu ia beberapa kali bersama Asosiasi Bunga Indonesia Bali menata rangkaian bunga di Istana Negara Jakarta dan Istana Tampaksiring untuk acara kenegaraan, terutama saat era Presiden Megawati Soekarno Putri dan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

 

Namun sejak tahun 2014 Didon mengalami penurunan penglihatan yang disebabkan oleh musibah kecelakaan motor yang dialaminya. Sejak saat itu Didon mengalami depresi yang sangat kuat. Akibatnya, ia merasa sangat sensitif setiap berhadapan dengan siapapun. Seiring waktu berjalan, ia mulai bisa menerima keadaannya yang baru setelah bertemu dengan teman-teman difabel  netra lainnya di sebuah yayasan khusus disabilitas netra yang terletak di Kota Denpasar Bali pada akhir tahun 2015.

 

Sejak saat itu ia baru menyadari bahwa hambatan penglihatan bukanlah suatu halangan untuk tetap bisa berkreasi, hingga pada akhirnya di tahun 2016 dengan ide kreatifnya Didon membuat sebuah komunitas bersama beberapa teman difabel netra yang mempunyai ketertarikan dalam dunia kepenulisan untuk membuat sebuah karya tulis yang berbentuk antologi puisi. Hal itu dilakukan setelah ia melihat potensi  teman-teman difabel netra yang berbakat dalam dunia kepenulisan khususnya seni sastra. Namaun hal ini kurang mendapat kesempatan dan wadah untuk bisa mengangkat karya-karya mereka. Akhirnya terbentuklah sebuah komunitas yang di beri nama komunitas seni teratai atau lebih dikenal dengan nama kostra Bali. Saat itu koimunitas ini  masih beranggotakan 6 orang yang juga sekaligus menjadi penulis pada penerbitan buku antologi puisi pertama dari teman-teman difabel netra di Bali dengan bertajuk sajak-sajak malam.

 

Komunitas seni Teratai ini berdiri pada tanggal 8 Februari 2016 dan saat ini telah terdaftar resmi di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Nama komunitas seni teratai sendiri dipilih karena kata teratai dianggap mengandung filosofi yang cukup mendalam bagi keenam penulis buku ini. Seperti layaknya bunga teratai yang tumbuh subur di dalam lumpur tetapi tidak sama sekali mengurangi unsur keindahan yang dipancarkan oleh bunga Teratai. Seperti itulah halnya yang diharapkan oleh para difabel netra dalam komunitas ini. Meski memiliki kondisi yang berbeda, hal itu tidak dapat menghalangi mereka untuk berkarya serta berkreatifitas sehingga menjadi individu yang cerdas dan berkualitas.

 

Dalam perjalanannya selama kurang lebih 5 tahun kebelakang,  komunitas seni teratai sudah banyak  mengukir prestasiprestasi. Seperti juara 3 musikalisasi puisi (2016), pentas baca puisi dalam rangka Hari Puisi Nasional (2016) di taman Ismail Marzuki Jakarta, pentas paduan suara OD Agustus (2016) di bentara budaya Bali, launching buku puisi “Sajak-Sajak Malam” (2016), pentas drama “Pinangan” karya Anton Chekov (2017), pentas musik akustik di Taman Budaya (2017), pentas “Pinangan” di beberapa tempat seperti Bentara Budaya arahan Didon Kajeng (2017), di Bali Mandara Mahalango (2018) dan ISI Denpasar arahan Abu Bakar (2019), dramatic reading cerpen “Rumah Makan” karya Putu Fajar Arcana di Bantara Budaya Bali (2018) launching buku antalogi cerpen “Bianglala” (2018),  pembacaan puisi karya Kambali Zutas di Bantara Budaya Bali (2019), dan pada akhirnya tepat tanggal 20 Desember 2019 Kostra mendapat penghargaan dari Dinas Kebudayaan sebagai salah satu komunitas seni yang aktif dan produktif.

 

Sedangkan pada dunia floral designer Didon Kajeng juga tidak pernah berhenti setelah ia bangkit dari rasa keputusasaannya pasca kehilangan penglihatannya. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai floral designer dengan dibantu teman-temannnya. Didon pernah belajar di Pusat Pendidikan Merangkai Bunga Rini Flora dan mengikuti short course bersama floral designer dunia seperti Gregor H. Lersch dari Jerman dan Bart van der Elsken dari Belanda. Saat merangkai bunga, Didon menyusun rangkaian demi rangkaian bunga tersebut di dalam pikirannya terlebih dahulu, kemudian baru dituangkan atau disampaikan melalui kawan-kawannya yang membantu proses penyusunan. Selanjutnya, Didon akan meraba hasil rangkaian itu, apakah sudah seperti yang ada dalam bayangannya atau perlu diperbaiki. Meski dalam keadaan difabel netra, Didon masih tetap aktif memberikan short course dan seminar, demonstrasi merangkai bunga, khususnya dengan bunga lokal khas Bali yang menurutnya tak kalah dengan keindahan bunga import.

 

Tidak cukup sampai disana, di bulan-bulan akhir hayatnya ia pun masih sempat mendirikan sebuah yayasan bagi teman-teman difabel netra yang diberi nama Teratai Faundation, yayasan ini dibuat harapannya kedepan agar bisa menjadi tempat atau wadah belajar dan berkarya teman-teman difabel netra dengan bimbingan para tutor di masing-masing bidang yang diminatinya. Tujuannya ialah agar teman-teman difabel netra khususnya selain bisa belajar dan berkarya, mereka juga bisa melatih skil yang dapat digunakan di dunia kerja.

 

Pemakaman Didon Kajeng

 

Kini orang hebat itu telah pergi untuk selamanya meninggalkan jejak-jejak karya dan perjuangan yang tanpa lelah terus ia kobarkan. Tangis haru mengiringi kepergiannya. “Om Didon adalah sosok yang sangat kuat dan sangat menginspirasi. Ia adalah guru sekaligus bapak buat kami yang ada di dalam komunitas ataupun yayasan teratai ini. Kepergiannya adalah kehilangan yang sangat mencambuk batin kami. Namun kami sadar jika waktu adalah hal yang pasti berakhir. Kini kita hanya bisa mengikhlaskannya dan terus melanjutkan semua cita-citanya yang belum sempat terwujud. Hanya dengan cara itulah kami merasa bisa membalas kebaikannya. Walau sebenarnya semua itu pun mungkin belum cukup”, ujar Ayu Melinda sebagai salah satu anggota yayasan teratai yang di wawancara solider.id.[]

 

Penulis: Harisandi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.