Lompat ke isi utama
Salwa saat bermain musik

Gimmick Style, Cara Hidup Ala Salwa

 “Bila hidup bagimu adalah perjuangan, maka hidup bagiku adalah gimmick.” Pemuda 19 tahun ini enteng mengisahkan. Bernada serius, tapi sejurus kemudian matanya mengerling nakal. Senyum kecil ia pamerkan. Lalu menunduk, seolah malu dengan apa yang telah ia sampaikan.

Solider.id - Gimmick, Menurut Wikipedia artinya lebih mengacu pada unsur trik, settingan, atau manipulasi yang dibuat untuk mendapatkan kehebohan atau untuk menarik perhatian orang baik secara sadar maupun tidak.

 

Gimmick. Cara itu pula yang digunakan Salwa dalam menyikapi hidupnya.

“Karena bagi saya hidup seperti hujan. Ada kalanya saat kita  kena percik hujan, maka sakit akan kita rasakan. Tapi di saat yang berlainan, hujan juga mencipta sesuatu yang indah seperti realita yang kita rasakan.” Mencoba berdalih lewat fenomena alam, Salwa ternyata penyuka hujan saat senja datang. Tak ada bagian sulit dalam hidup yang ia rasakan. Karena bagi Salwa hidup tak lebih sekedar sebuah permainan.

 

Terbiasa menggunakan kedua kakinya untuk beraktivitas, Muhammad Salwa Aristotel adalah pemuda asal Kudus, Jawa Tengah, dengan kelahiran 17 September 2001. Sulung dari dua bersaudara yang murah senyum dan selalu mengaku bahagia ini adalah putra dari pasangan Aminul Musyadat (40 tahun) dan Kurniati (32 tahun).

“Saya adalah orang yang selalu bahagia. Karena kedua orangtua, Kakek dan keluarga besar mendukung saya dalam segala hal. Dari mereka saya mendapat semangat luar biasa, karena mereka membiarkan saya berkembang dan tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya. Tak ada perlakuan istimewa yang mereka berikan kepada saya.” Nada bangga itu jelas kentara dari ucapan Salwa.

 

Dan saat berkisah tentang kebanggaannya pada orangtua, kesan bahwa seorang Salwa suka bercanda dengan spontan ia tinggalkan. Salwa bicara dengan nada penuh keseriusan. Lalu tak lama berselang berbagi cerita bahwa ia biasa bermain karambol dan bermain kelereng dengan teman sebayanya, bahkan bisa bersepeda sebagaimana yang dilakukan teman-teman bermainnya.

 

Baca Juga: Pemuda Difabel yang Khusyuk Bermusik

 

Sebagai pemuda difabel fisik dari Jalan Kalirejo, Undakan RT 04 RW 01, Kudus, Jawa Tengah, Salwa memilih melanjutkan ke SMK Negeri 8 Surakarta, untuk mewujudkan asa kecilnya setelah lulus dari SMP YPAC Surakarta.

“Sejak kelas tiga SMP saya sudah menguasai Keyboard dan bass, sejak itulah saya mulai menyadari bahwa saya suka bermusik. Karenanya saya melanjutkan sekolah di SMK Negeri 8 Surakarta. Lalu di sana pula, oleh guru musik saya, (Pak Ari) saya diarahkan untuk mencoba French Horn (salah satu jenis alat musik, biasanya digunakan dalam pertunjukan drumband atau marching band)”. Berkisah tentang awal ketertarikannnya pada alat musik tiup, Salwa tak lupa menyebut sosok Guru yang mengajarkan keterampilan bermusiknya.

 

Mengenal Salwa, cerita hidupnya tak hanya berkutat tentang musik saja. Karena selain atlet renang yang berhasil menoreh keberhasilan melalui tiga medali emas dalam Kejuaraan Paralympic Daerah, Salwa juga jago menggoreskan kuas dengan kakinya. Berkat keterampilan yang dimilikinya itu pula Salwa diundang ke Istana Negara atas permintaan Iriana Joko Widodo untuk melukis keluarga Wakil Presiden Amerika, Mike Pence di April 2017 silam.

“Awalnya dari pameran lukis yang diadakan di Solo. Di pameran tersebut hadir Ibu Yusuf Kalla dan Ibu Iriana, kemudian saya diundang ke Istana Negara untuk melukis sketsa wajah Wakil Presiden AS.” Kenang Salwa dengan senyum tak ketinggalan. Dan Salwa patut berbangga pada kesempatan emas yang selalu ia dapatkan. Selain melukis keluarga Wapres Amerika, Salwa juga pernah mendapat kesempatan melukis wajah istri Wakil Presiden Tanzania.

 

Mengejar cita dari SMK Negeri 8 Surakarta, dengan niat awal ingin melanjutkan sekolah di Yogyakarta, Salwa lalu mengubah haluan hidup menuju Ibukota. Fakultas Seni Pertunjukan dengan prodi Musik sesuai impian, membawa Salwa melabuhkan harapan di Institut Kesenian Jakarta.

“Saya ingin menaklukkan Jakarta. Dengan berproses melalui musik saya ingin menjadi Guru atau Dosen mewujudkan cita-cita saya.” Sebuah tantangan bagi diri sendiri ingin ditunjukkan Salwa, bahwa sebagai pemuda desa ia bisa menaklukkan Jakarta lewat talenta bermusiknya.

 

Dan Salwa berhasil membuktikannya. Sepanggung dengan Adi MS yang jadi idola, Salwa tak pernah mengira ia bisa begitu mudah meraih dan mewujudkan satu demi satu mimpi-mimpinya.

“Pak Blontang, guru musik saya. Beliau teman Om Adi MS. Dari beliau pula saya bisa sepanggung dengan Om Adi MS.” Lanjut pemilik sepatu bernomor 39 ini dengan bangga.

“Ini pengalaman yang berkesan banget bagi saya. Karena berangkat dari Solo saya sama sekali tidak diberitahu bahwa akan main dengan Adi MS. Tahunya setelah sampai di Jakarta. Yeah, ini benar-benar pengalaman tidak terlupakan.” Ujarnya antara canggung dan bahagia. Kebanggaan tersirat dalam suara ramah yang Salwa tunjukkan. Penyuka warna hitam ini tak pernah menduga bahwa kesempatan emas bisa datang begitu saja menghampirinya, hingga ia bisa unjuk bakat dan sepanggung dengan tokoh yang ia idolakan.

“Saya masih pengen sepanggung sama mereka yang jaz-jaz gitu.” Kata Salwa kemudian dalam nada riang. Dengan suara girang masih bernada selenge’an ia lalu berkisah tentang mimpi yang belum ia dapatkan. Salwa ingin tampil sepanggung lagi dengan mereka-mereka yang ia idolakan. Siapa ?

“Erwin Gutawa dan Tompi.” Ujar pemuda kurus dengan tinggi 160 cm ini dalam suara seraknya.

 

Pernah beraksi dalam permainannya saat membantu Marching Band Universitas Muhammadiyah Solo tampil di Istora dalam acara Grand Prix Marching Band 2019, Salwa juga sempat tampil di acara Hitam Putih memainkan bass dan piano dengan gaya  yang khas. 

 

Gaya bicaranya yang cuek, dengan kesan selenge’an yang ia tinggalkan, Salwa begitu mudah meninggalkan kesan bukan karena fisiknya yang memiliki hambatan. Salwa tipe pemuda yang suka iseng dan usil dalam keseharian. Keisengannya membuat Salwa mudah dikenali dan membuat ia disukai banyak teman. Yang lebih serunya lagi sebagai pemuda era Millenial, Salwa lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya membaca buku. Atau mencoba kedalaman bermusiknya dengan mencoba hal-hal baru.

“Waktu luang lebih banyak saya gunakan untuk membaca referensi buku tentang musik, dan belajar kembali untuk menggali kemampuan bermusik yang belum saya miliki. Karena menurut saya kalau tidak sekarang mau kapan lagi?” Tak ingin terlena pada teriknya kota Jakarta, support dari orangtua dan keluarga membuat Salwa menjadi pemuda bersahaja.

“Bagi saya, keberadaan keluarga terutama orangtua sangatlah penting. Merekalah motivasi saya. Mereka yang selalu mengingatkan saya pada tujuan awal saya datang ke Jakarta. Mereka yang menguatkan tekad saya selama tinggal dan menempuh pendidikan di Jakarta.” Begitulah arti keluarga bagi seorang Salwa, pemuda yang lebih banyak diam namun tetiba berubah jadi sosok riang ria dengan sikap kekonyolan. Dan kini Salwa hanya perlu sedikit waktu lagi untuk bisa kembali membuktikan, bahwa Jakarta telah ia tundukkan.

“Selalu semangat dan menikmati proses yang harus kita jalani akan menjadi cara terbaik meraih keberhasilan. Yakinlah. Karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.” Tetap bergaya gimmick, slanker dan nada selengekan, Salwa menutup obrolan siang di sela sibuknya jam perkuliahan.

 

Teruslah berjuang, Salwa. Jadilah Guru masa depan yang akan selalu dikenang sebagai panutan lewat prestasi yang kau torehkan.[]

 

Reporter:   Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.