Lompat ke isi utama

Ariyani Sri Ramadanti, Bangun Bisnis dari Hobi

pemilik ayam geprek patukangan dalam tayangan youtube

 

Solider.id - Indonesia merupakan salah satu  negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi di dunia, bahkan di asia tenggara menjadi yang petama. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta didukung oleh kondisi iklimnya  yang stabil, tentu menjadi tempat yang sangat nyaman untuk membangun sebuah wirausaha dengan memanfaatkan sumber daya alamnya. Namun hal itu tidak sertamerta membuat Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan  wirausahawan yang cukup tinggi, justru kalau dibandingkan dengan seluruh jumlah penduduk yang ada di Indonesia jumlah masyarakat yang menjadi wirausaha masih sangat kecil hanya sekitar 3,47 persen. Angka itu bahkan masih di bawah Malaysia dan Singapura yang mencatatkan pertumbuhan wirausahanya hingga lebih dari 4,26 persen sampai 8,76 persen.

 

Dari seluruh jumlah para wirausahawan yang ada di Indonesia, sebagian besar di dominasi oleh sektor UMKM atau usaha mikro kecil menengah.     Dari UMKM yang ada, sebagian besar bergerak dibidang makanan. Hal itu tidak lepas dari beragamnya cipta rasa dan selera masyarakat Indonesia.

 

 Seperti bisnis yang dibangun oleh Ariyani Sri Ramadanti, seorang difabel netra yang mempunyai usaha warung makan yang diberi nama “Ayam Geprek Petukangan” di daerah Jakarta Selatan. Ia mengaku awalnya ingin memulai bisnis Ayam Geprek ini hanya di dorong oleh hobinya yang suka makan. “Saya sebenarnya bukan orang yang bisa memasak namun saya suka mencoba berbagai makanan, dan saat saya baru lulus dari SMA saya mengalami sebuah ketunanetraan. Waktu itu saya sangat tidak bisa terima dengan kondisi saya dan setelah 2 tahun berjalan saya mulai bisa menerima keadaan baru saya sebagai seorang tunanetra” ceritanya saat dihubungi Solider beberapa watu lalu.

 

Baca Juga: Kisah Yesi Endah Sundasarin dan Kuliner Camilan

 

Sejak saat itu Ariani lebih banyak berada di rumah dan menurutnya, ia bukan seorang yang bisa diam saja. Untuk menghilangkan kejenuhan Ariyani mulai belajar memasak bersama sang ibu. Meski awalnya masih sering dimarahi karena masakannya tidak enak tapi lama-kelamaan karena terbiasa dirinya bisa mengerti tentang takaran bumbu yang menjadi selera orangtua. “Sampai pada akhirnya saya sempat mengikuti kursus masak tentang cara membuat ayam fried chicken karena sangat suka agar bisa membuat ayam fried chicken yang enak dan mempunyai rasa yang khas”.

 

Sejak itu ia mulai mempromosikan ayam fried chicken masakannya ke sekelilingnya dan mendapat respon yang cukup baik dengan orderan yang sering kali datang. Namun karena ia akhirnya diterima sebagai pengajar di salah satu sekolah difabel netra di Jakarta, bisnis itu tidak bisa ia jalankan lagi karena masalah managemen waktu. Seglanya berubah setelah Ariyani menemukan pasangan hidupnya dan meninkah serta mempunyai anak.

“Saya waktu itu diminta untuk berhenti mengajar karena diminta suami untuk merawat anak, namun suami saya tahu kalau saya orang yang tidak bisa diam, akhirnya agar saya ada kegiatan di rumah suami dan keluarga meminta saya untuk membuka usaha yang bisa dilakukan dari rumah dan akhirnya jadilah Ayam Geprek Petukangan ini. Nama petukangan sendiri saya ambil dari daerah tempat tinggal saya yaitu daerah petukangan Jakarta Selatan. Saya sangat brsyukur karena saya berada dilingkungan yang support penuh dengan apa yang saya lakukan bahkan warung makan saya pertama kali memakai tempat garasi rumah yang saya ubah menjadi warung makan” jelasnya melalui channel youtube DNetwork dalam sesi acara kenali profesimu yang ke - 7.

 

Untuk membuat menu ayam geprek waktu itu ia merasa kurang percaya diri karena ayam geprek waktu itu sedang sangat menjamur dimana-mana. Akhirnya dia melakukan mini riset dengan mendatangi warung-warung yang menjual ayam geprek untuk mencobanya satu persatu. Hal ini ia lakuan bukan untuk mencontoh atau untuk menjadi saingan. Namun ia berkeinginan untuk menentukan dan membuat sambal yang bisa menjadi ciri khas dari ayam geprek yang akan dibuatnya. “Tuhan memang selalu punya jalannya sendiri waktu itu aku dikenalkan oleh seorang teman yang mempunyai kenalan chef darinya aku belajar tentang cara membuat sambal dan akhirnya aku ketemu racikan sambal yang bisa menjadi ciri khas dari ayam geprekku” pungkasnya.

 

Warung makan Ayam Geprek Petukangan menurut Ariyani berdiri sejak tahun 2018 tepatnya pada tanggal 16 Juli hingga saat ini. Sebenarnya Ariyani sudah memiliki 2 tambahan cabang Ayam Geprek Petukangan yang juga masih berada di daerah Jakarta Selatan serta sudah memiliki beberapa karyawan. Namun karena adanya pandemi, ia harus menutup 2 cabangnya. Hal ini karena dua cabang itu terletak di daerah sekolah dan perkantoran. Sementara saat ini, sekolah dan perkantoran sedang tidak adaaktivitas fisik. Hal ini karena semua dilakukan dengan daring. Semasa pandemi, ia hanya menjalankan satu cabang yang terletak di rumahnya dengan dibantu oleh beberapa karyawan.  

 

“Saya tidak tega untuk memberhentikan karyawan yang di keluarganya mereka merupakan tulang punggung, jadi saya sebisa mungkin harus dapat mengelola keuangan dengan maksimal. Pandemi mengajarkan saya tentang berbagai macam hal yang sebelumnya tidak saya dapatkan. Saat ini saya sampai masih bisa bertahan karena saya sangat dekat dengan para pelanggan, saya selalu mempunyai database para pelanggan agar bisa meminta saran atau masukan melalui pesan whatsapp pelanggan dan rata-rata mereka cepat merespon. Hal itu saya lakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan tentang layanan dan kualitas rasa dari makanan. Selain itu saya juga bersyukur karena adanya pesan antar melalui ojek online yang lebih memudahkan lagi untuk saya bisa melayani pesanan dan memasarkan Ayam Geprek Petukangan terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini” paparnya.

 

Lebih lanjut Ariyani mengatakan bahwa rata-rata pelanggannya tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seorang difabel netra. Selain karena Ariyani lebih sering turun membantu di dapur jadi jarang langsung berhadapan dengan pelanggan tetapi Ariyani juga ingin setiap pelanggan atau pembelinya bisa menilai dengan jujur tentang kualitas makanannya, sebab ia merasa kalau di masyarakat disabilitas masih di pandang orang yang patut dikasihani dan ia tidak mau di nilai karena rasa kasihan. Lewat cara seperti itu, ia bisa mendapat penilaian yang jujur. Ariyani juga menambahkan bagi teman-teman yang ingin membangun usaha untuk jangan pernah takut dulu sebelum mencoba dan usaha yang dibangun sebisa mungkin adalah hal yang paling kita sukai. Dengan begitu kita akan sangat enjoy dalam menjalankannya. Hal itu merupakan kunci keberhasilan dalam membangun suatu usaha, jika kita berada dalam tekanan tentu kurang baik hasilnya. []

 

Reporter: Harisandi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.