Lompat ke isi utama

Vaksin Covid – 19 Aman bagi Anak Difabel

vaksin COVID-19 (sumber foro : kompas.com)

 

Solider.id, Surakarta - Vaksinasi  COVID-19 menjadi program prioritas  pemerintah. Tak hanya kepada khalayak umum, vaksinasi juga diberikan kepada kelompok rentan termasuk di dalamnya   difabel dan anak difabel. Sarat vaksin itu sendiri adalah aman dan bermanfaat. Secara umum, vaksin dibuat dengan lama durasi 15-20 tahun. Dan belum semua penyakit penting ada vaksinnya seperti HIV dan AIDS. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa  vaksin COVID-19 yang masih pendek umur, bahkan masih kita jalani sudah ditemukan? Vaksin COVID-19 sudah dijajal dengan hewan dulu, baru ke manusia. Kenapa cepat? Pandemi bersifat emergency sehingga semua bekerja sama. Sinovac, salah satu vaksin COVID-19 penelitiannya melibatkan beberapa negara misalnya Indonesia, Brazil, dan negra-negara lain. Penelitian dilakukan bersama-saama, sehingga hasil temuan bisa didapat lebih cepat.

 

Dokter Mei Neni Sitaresmi, Ph.D, Sp. A dalam sebuah interaksi bersama Keluarga Mpati menyatakan bahwa vaksin COVID-19 sudah melalui penelitian dan rekomendasi  dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM ) melalui jurnal dan boleh diberikan  kepada anak.  Sebagian masyarakat berpikir bahwa Covid – 19 tidak berbahaya bagi anak, termasuk anak difabel. Asal mereka ada di rumah, semua akan aman. Hal ini tentu tidak benar, virus adalah manifestasi, atau suatu perwujudan yang sudah menyebar. Lebih-lebih ketika varian delta sudah menyebar. Survey menunjukkan bahwa saat ini  di Indonesia, sekitar 80% merupakan varian Delta. Varian ini memiliki gejala yang lebih berat dibanding varian sebelumnya.

 

Baca Juga: Cerita Anak Difabel yang Terpapar COVID-19 dan Bagaimana Petunjuk Pendampingannya

 

Dokter Mei Neni yang juga anggota Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) mengimbau para orangtua untuk jangan takut pada vaksinnya tetapi pada penyakitnya.  Manifestasi merebaknya virus bisa lebih berat. Lebih baik mencegah daripada mengobati nampaknya jadi ungkapan pas untuk gambarkan pentingnya vaksinasi. Kelompok yang paling terdampak adalah anak dengan difabilitas. Menurutnya, vaksin Sinovac dan yang lain adalah vaksin yang mati. Astrazeneca juga aman jadi tidak perlu khawatir meski ada kondisi yang belum bisa mendapatkan vaksinn seperti jika anak kejang belum terkontrol, dan anak dengan imun yang belum terkontrol.

 

Lalu timbul masalah bagaimana mempersiapkan anak agar tidak panik, dan tidak cemas. Apalagi melihat tenaga kesehatan memakai baju APD yang mungkin asing bagi anak? Menurut Dokter Mei Neni yang penting orangtuanya tenang dulu karena jika orangtua panik maka anak panik.

 

Sinovac untuk anak berusia 3-17 tahun aman. Efek samping pada anak usia 3-11 tahun dan  12-17, pada anak usia 12-17 tidak ada yang demam. Hanya nyeri bengkak. Namun pada anak usia 3-11 tahun  tetap memiliki kemungkinan untuk demam. Mei menekankan bahwa meski anak nantinya suah divaksin, namun protocol kesehatan tetap harus terus dijalankan.  Lebih jauh, Mei menyayangkan belum adanya video edukasi terkait pentingnya vaksin bagi anak difabel. Di beberapa tempat vaksin dapat dilakukan dengan drive thru untuk meminimalkan kerumunan.

 

Salah satu tips untuk melatih agar anak dengan difabilitas  mau divaksin misalnya pada anak dengan spektrum autis, dr Mei Neni memberi saran dengan memberikan reward dan sebelumnya  membuat simulasi beberapa kali di rumah.  Di tempat vaksin, petugas akan melakukakn  skrining mandiri. Orang tua perlu menyampaikan kepada petugas jika anaknya adalah difabel.  

 

Pemerintah memang melakukan pelatihan kepada tenaga kesehatan terkait vaksinasi ini misalnya pelatihan menyuntik dan melakukan skrining, tetapi tidak dengan secara khusus bagaimana saat mereka harus berhadapan dengan difabilitas. Dr Mei Neni mengakui kebanyakan yang dilaporkan malahan kecemasan saat vaksinasi.

 

 Saat pelatihan membereikana vaksinasi pada anak, ada cara mitigasi dengan cara memberikan sugesti pada anak bahwa disuntik tidak sakit. Bahkan bagi dokter anak, menyuntik anak saat vaksinasi merupakan positif stress, bukan merupakan beban dan pemicu stress bagi dokter dan  orang tua.

 

 

Ada teknik mengurangi kecemasan pada anak : 1. Berikan vaksin kombinasi yang sekali suntik tidak berkali-kali. Diberikan  bersama tidak masalah atau suntik kanan kiri atau vaksin multiple dan ada beberapa teknik. 2. Kalau dengan menyusui terjadi distraksi bahwa asi mengurangi rasa sakit. 3. Boleh membawa mainan saat vaksinasi.

 

Kematian Anak Akibat COVID-19 Tertinggi Di Dunia

Dikutip dari kompas.com, terkait penularan COVID-19 pada anak, jadi meskipun misalnya anak-anak di rumah saja, tetapi tidak menjamin anggota keluarga yang tinggal serumah tidak pergi keluar. Padahal didapat kenyataan saat ini kluster terbesar adalah keluarga. Di Indonesia kematian pada anak cukup tinggi. Ketua umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A mengatakan data nasional menunjukkan konfirmasi  COVID-19 pada anak berusia 0-18 tahun mencapai 12,5 %. Artinya 1 dari 8 kasus konfirmasi COVID-19 adalah anak-anak. Data IDAI juga menyebutkan bahwa tingkat kematian mencapai 3-5%, jadi Indonesia memiliki tingkat kematian tertinggi di dunia. Dari seluruh data anak yang meninggal itu, 50% adalah balita. Prof.Dr.dr. Aman Bhakti menggarisbawahi pentingnya orangtua menjaga anak-anak mereka lebih ketat lagi.[] 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.