Lompat ke isi utama

Minimalkan Hoaks, Sosialisasi Vaksinasi Terus Dilakukan bagI Difabel

menagka hoaks Vaksnasi Covid -19

 

Solider.id – Tantangan dalam mengakses informasi yang tepat dan berkomunikasi secara langsung di masa pandemi sangat dirasakan masyarakat difabel. Ragam kabar bersifat himbauan atau ajakan memerlukan pemetaan yang lebih jelas agar mudah dipahami. Selain akses bahasa isyarat untuk difabel Tuli, akses terjemahan dari pendamping untuk difabel intelektual dan difabel mental pun sangat dibutuhkan.

 

Selain himbauan tentang protokol kesehatan, program vaksinasi juga perlu akses sosialisasi yang merata untuk meminimalisir kabar hoaks di masyarakat, termasuk di kalangan difabel. Perlu panduan khusus atau edukasi resmi, semisal video, pamflet atau bentuk lain yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai sarana penangkal berita hoaks.

 

Billy Berlian dari Gerakan Kesejahteraan untuk Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Jawa Barat menyampaikan terkait adanya berita hoaks dikalangan difabel Tuli tentang vaksinasi. Mereka banyak mendapatkan berita simpang siur dari postingan di internet. Untuk menangkal hal itu, ia aktif membagikan kampanye edukasi vaksinasi versi video yang dikeluarkan oleh Angkie Yudistia staf khusus kepresidenan bidang sosial.

“Dulu banyak teman Tuli takut divaksin, sekarang mereka sudah lebih paham,” ungkapnya.

 

Kampanye sosialisasi edukasi terkait vaksinasi masih terus digencarkan untuk menyampaikan informasi yang tepat, dari mulai tahapan vaksinasi, persyaratan, tempat layanan vaksinasi hingga cara evaluasi atau kontroling setelah divaksin secara mandiri.

 

Baca Juga: Vaksinasi Difabel: Prioritas, Aksesibilitas dan Partisipasi Aktif

 

Ragam berita hoaks vaksinasi yang sempat beredar di masyarakat

Adanya informasi hoaks terkait vaksinasi, salah satunya disebabkan karena arus informasi yang sapai pada masyarakat masyarakat umum maupun difabel sangat banyak dan terkadang justru menyesatkan. Seperti tentang fungsi vaksinasi, sebagian besar masyarakat beranggapan vaksin sebagai obat terbebas dari paparan covid-19. Sehingga, saat ada kabar orang yang telah divaksin  tetap terpapar, mereka menjadi tambah khawatir. Padahal, vaksinasi ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kekebalan imun tubuh sebagai syarat agar tidak mudah terpapar.

 

Kandungan zat dalam vaksin yang dikabarkan mengandung bahan tertentu seperti pada chip, hingga dapat mendeteksi keberadaan vaksinator sama sekali tidak benar. Hal ini sudah ditanggapi dan diluruskan pihak terkait melalui media televisi. Salah satu pembanding, smartphone yang digunakan dinilai lebih mudah untuk mendeteksi keberadaan penggunanya.

 

Vaksinasi bagi masyarakat difabel sangat aman, termasuk bagi mereka yang memiliki jenis kedifabelan tergolong berat. Kementerian Kesehatan bersama dinas kesehatan melalui rangakai webinar sudah menyampaikan difabel aman untuk divaksin. Efek vaksinasi akan berpengaruh pada sistem imun kekebalan tubuh seseorang, bukan pada kondisi fisik atau kedifabelan yang dimiliki.  

“Perspektif masyarakat difabel untuk vaksinasi dan bagaimana memperoleh akses informasi juga pelayanan yang inklusif harus tersampaikan,” kata Nuning Suryatiningsih dari Yayasan CIQAL dalam gelaran webinar.

 

Informasi yang tepat dapat mempengaruhi perspektif mereka terkait manfaat maupun risiko dari vaksinasi. Kekeliruan dalam memperoleh sebuah informasi dapat berakibat pada pemikiran yang salah. Misal terkait aksesibilitas yang sulit dijangkau oleh masyarakat difabel, membuat mereka mengurungkan niat untuk mengikuti vaksinasi. Padahal, tersedia layanan jemput bola bagi yang membutuhkan.

 

Ada rasa kurang percaya diri, dan anggapan mereka tidak mempunyai keterampilan komunikasi yang cukup baik. Kurangnya pemahaman dan penghargaan masyarakat umum terhadap difabel, sehingga perhatian yang diberikan pun sangat berkurang secara perilaku atau persepsi.

 

Baca Juga: Evaluasi Vaksinasi bagi Difabel, Sejumlah Kendala dan Akses Perlu Diperbaiki

 

Sosialisasi dan edukasi vaksinasi yang efektif

Tahapan vaksinasi untuk masyarakat umum masih terus berlanjut dengan pembagian klaster. Pelaksanaan vaksinasi untuk difabel tahap berikutnya dilaksanakan pada Agustus hingga Oktober mendatang. Masyarakat difabel, baik secara individu dan keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel diharapkan dapat mengakses informasi yang tepat untuk mendapatkan layanan vaksinasi.

 

Melibatkan masyarakat difabel secara langsung, sebagai bentuk penghormatan terhadap pemenuhan hak ikut serta dalam berkegiatan yang dirancang pemangku kebijakan. Ini akan lebih membuat mereka paham dalam informasi yang disampaikan, dan memberi peluang untuk berinteraksi melalui tanya jawab.

 

Informasi versi video dengan lengkap menggunakan suara, gambar dan tulisan dinilai lebih efektif dan cepat tersosialisaikan melalui media handphone. Format seperti ini akan akses untuk semua orang, baik masyarakat umum juga difabel. Tentu saja bantuan penerjemah dan pendamping sangat berperan meski keberadaan mereka masih terbatas. Hal-hal yang butuh pemahaman mendetil bisa dinarasikan oleh penerjemah atau pendamping.

 

Iklan layanan masyarakat yang mengakses tentang vaksiansi pada media elektronik dapat dimunculkan lebih banyak, agar masyarakat semakin sering menerima informasi tersebut. Panduan lainnya dapat berupa buku saku baik dalam format digital maupun versi cetaknya, yang dapat dibagikan kepada masyarakat luas.

 

Selain itu, bantuan peran aktif dari orang-orang sekitar yang sudah lebih paham memilah berita yang benar dan yang hoaks sangat dibutuhkan untuk menjadi edukator penyampai informasi yang tepat.[]

 

 Reporter: Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.