Lompat ke isi utama
informasi letts talks dalam rangka hari autis

LetssTalk Hari Peduli Autis “Pendidikan Seks, Seksualitas dan Warga Autistik”

Solider.id, Surakarta- Tidak ada data yang pasti menunjukkan berapa jumlah anak, atau remaja, orang dewasa autis yang ada di Indonesia. Pun ketika mencoba mencari tahu dengan browsing di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan Kemensos. tidak ada satupun data yang menggambarkan besaran kasus autis di Indonesia. Kalau ada itu masih simpang siur, karena di dalam beberapa dokumen semua ditaruh bersama-sama seakan tidak ada data autis. Kalau prevalensi dunia, ada 2,4 juta individu autis dan 500 di antaranya adalah autis baru. Sementera data lain menyebutkan 100-200 ribu, namun tidak ada data baru berapa orang autis di Indonesia. Demikian dikatakan oleh Dokter Marcia Soumokil, Country Director IPAS, orangtua dari remaja autis pada  Talkshow seri#17 LetssTalk Seksualities bertema pendidikan seks, seksualitas dan warga autistik, Jumat (2/4).

 

Pada diskusi yang dimoderatori oleh Ishak Salim tersebut Marcia Soumokil juga mengungkapkan jika melihat tren dari observasi tiap tahun, maka jumlah individu dengan autis semakin bertambah. Ia menceritakan saat tahun 2005-2007 waktu awal anaknya dibawa ke dokter yang berkompeten, sang dokter menjawab bahwa di tahun tersebut rata-rata menemui lima pasien autis baru setiap hari. Jika dibandingkan saat ini, angkanya terus meningkat, itu juga dimungkinkan karena meningkatnya kesadaran di masyarakat yang mencoba mencari layanan. Ketiadaan data ini sangat terkait dengan sistem data di Indonesia yang masih memiliki masalah. Bahkan ketika kota-kota atau kabupaten berlomba-lomba untuk program layak anak, tetapi tidak memiliki ramah kepada anak berkebutuhan khusus.

 

Dewi Semarabhawa, narasumber lainnya yang juga memiliki anak auitis menyatakan sumber informasi yang dapat dikunjungi saat ini sudah relatif baik. Ia membandingkan anaknya ketika masih kecil dulu sangat berbeda. Menurutnya karena saat ini berbagai yayasan sudah bergerak seperti Yayasan Autis Indonesia dan Yayasan Mpati. Kebetulan dokter yang menangani anaknya juga rajin menyambangi kampus-kampus, sehingga kepedulian dan pengetahuan tentang autisme bisa didapatkan dari organisasi yang peduli dan dari pemerintah sendiri telah memiliki Pusat Layanan Autis. Di Jakarta banyak sekali layanan autis individual. Kalau pemerintah, mungkin tidak bisa dibandingkan karena masih baru.

 

Selain layanan individual, juga banyak parent support. “Saya bukan profesional, tetapi saya mengasuh anak-anak. Saya bertemu kementerian pendidikan, kementerian sosial, juga kementerian kesehatan. Waktu skrining awal, kemudian kemensos punya program atensi asistensi rehabsos yang bergerak dukungan terhadap keluarga dan masyarakat. Kemudian kementerian tenaga kerja yang memberi peluang kerja pada penyandang disabilitas. Namun untuk autis peluang kerja itu masih jauh sekali,” ungkap Dewi. Dewi menambahkan bahwa terkai kesadaran kepada masyarakat sudah cukup baik, tapi untuk autis dewasa masih belum terbuka kesempatannya dalam ranah pekerjaan.

 

Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bagi Autis

Tolhas Damanik, narasumber yang juga Direktur Wahana Inklusif Indonesia menyatakan bahwa selama ini anak-anak autis telah didorong untuk medapatkan layanan pendidikan dengan bersekolah. Ia memastikan bahwa mereka harus masuk dalam sistem pendidikan inklusi. Terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), anak berkebutuhan khusus dianggap tidak cakap seksual atau aseksual. Menurutnya semua orang sebenarnya aware tetapi kecapakannya itu yang dipertanyakan. “Bicara seks adalah bicara norma, dan sebenarnya ada langkah ke sana dengan Kemendikbud memasukkan pendidikan kespro untuk anak luar biasa. Hanya saja tantangannya menjadi multiple karena kondisi difabilitas. Kita diperhadapkan dengan masayarakat umum yang kompleks,” jelas Tolhas. 

 

Sebagai orangtua, coaching pada anak autis bisa dilakukan sebab adanya perubahan-perubahan yang diperlihatkan seturut perkembangan seksual yang terjadi. Dewi menceritakan perubahan anaknya  sama dengan yang lain baik berupa fisik dan emosi, di masa-masa pubertas. Namun hal itu menjadi masalah ketika mereka, anak-anak autis tersebut kesulitan memahami dan membingungkan mereka sendiri. Perasaan yang mereka alami jadi tidak enak, kenapa begitu, kenapa begini. Kemudian ia membantu menjelaskan sejak awal sebab problematika atau masalah seksual pada anaknya diperkenalkan lebih dini. Di antaranya bagaimana kegiatan di kamar mandi, bagaima saat buang air besar dan air kecil. Karena mereka sangat visual maka dijelaskan dengan gambar, diawali dengan membaca, berulang-ulang kemudian dilanjutkan dengan sosial story. Social Story dibikin sendiri dengan bahasa yang lebih disederhanakan, misalnya tentang story dia membaca untuk dirinya sendiri, “ saya sudah remaja, saya berkeringat, jadi setelah mandi saya memakai deodorant.” Setiap topik satu social story.

 

Lain lagi pengalaman Marcia yang memiliki anak autis non verbal, untuk mengajarkan toilet training ia akui relatif lama. Kemudian di usia 9-10 tahun ia memperkenalkan anggota tubuh yang sensitif dan hanya untuk diri sendiri. Perubahan fisik yang terjasi sama dengan anak-anak non autis, misalnya kapan tumbuh bulu di organ seksual reproduksi. Saat usia 10 tahun anaknya mulai memiliki ketertarikan dengan teman perempuan dan ini wajar. Marcia mengajarkan lewat gambar. Waktu sang anak sudah mengenal masturbasi, dengan memegang alat vitalnya maka ia harus melakukannya di kamar. “Gangguan spektrum autis ini kan luas, memang kita harus tahu karakteristik anaknya. Pakem yang dikembangkan pada anak non autis, tidak bisa dikembangkan pada anak autis,”terang Marcia. 

 

Reynaldo, pemuda autis, dalam statemennya menyatakan bahwa ia pernah menjadi korban kekerasan seksual berupa pelecehan seksual oleh guru les privatnya. Beruntung orangtuanya pernah mengajarkan hal-hal terkait seksualitas sehingga ia bisa menolak dan melaporkannya kepada orangtua. Selain itu ia belajar sendiri tentang seksualitas kepada teman. Menurutnya kalau kita menghindari topik ini malah tidak bagus.[]

 

Reporter  : Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.