Lompat ke isi utama
poster sosialisasi vaksin Covid - 19

Ajakan Memahami Pentingnya Vaksin COVID-19 Bagi Difabel Terus Dilakukan

Solider.id, Surakarta - Ajakan untuk memahami pentingnya vaksinasi COVID-19 bagi difabel terus dilakukan oleh Suryatiningsih Budi Lestari atau akrab dipanggil Nuning, Ketua Yayasan Ciqal. Ajakan tersebut ia sampaikan baik secara langsung maupun daring melalui WhatsApp Group di lima kabupaten DI.Yogyakarta. Nuning masih menemukan banyak persoalan di lapangan terkait pemahaman pentingnya vaksinasi COVID-19 yakni kesenjangan pengetahuan. Beberapa kasus ia temui misalnya pertanyaan dari difabel polio, bahwa apa guna vaksin, jika dahulu ia pernah menerima vaksin polio, namun tetap saja masih terkena penyakit itu. Maka tugas Nuning adalah meluruskan pemahaman tersebut. Demikian penjelasan Nuning dalam siaran talkshow TVRI Yogyakarta bertema aksesibilitas vaksin COVID-19 bagi lansia dan disabilitas, Jumat (2/4).

 

Terkait kesenjangan pemahaman tersebut juga meliputi tempat diberikannya vaksin, apakah sudah memenuhi aksesibilitas atau belum. Pertanyaan yang langsung dijawab oleh Endang P, M.Kes narasumber dari Dinkes DIY bahwa pelaksanaan vaksin nanti pada difabel diusahakan di puskesmas atau rumah sakit dan hal tersebut sudah memenuhi aksesibilitas. Difabel akan menjadi kelompok prioritas baik akan menjadi kelompok/komunitas, berbasis institusi/organisasi atau massal. Saat ini diakuinya data sudah siap namun ia memohon permintaan maaf jika belum bisa menjangkau seluruh difabel di DIY. Sistemnya adalah data tersebut dikirim ke pusat kemudian dari pusat dikembalikan lalu pihak dinas kesehatan membuat undangan. Dinas kesehatan sedang mengupayakan vaksin COVID-19 bisa masuk melalui Jamkesus. Meski diakui oleh Nuning bahwa di Jamkessus masih banyak difabel yang tidak masuk karena yang masuk itu difabel dengan kriteria miskin.

 

Nuning menambahkan bahwa pada tanggal 20-an Maret lalu ada surat edaran dari Kemensos yang didalamnya mencantumkan pendaftaran dan di situ juga tertulis bahwa dinsos tidak memfasilitasi transportasi menuju tempat vaksinasi. Dengan demikian Nuning benar-benar berharap bahwa tempat vaksin nanti adalah aksesibel. “Kalau ini menjadi ketakutan teman-teman maka saya akan jadi corong teman-teman kalau ada ketakutan hanya karena infrastruktur. Ayo kita mau sehat kan. Kita mau memotivasi teman-teman untuk mendaftar. Kita akan mengorganisir lagi agar mereka melakukan pendataan melalui organisasi masing masing,”terang Nuning.

 

Baca Juga: Vaksin COVID-19 Aman Bagi Difabel, Mengapa Tidak?

 

Narasumber lainnya dokter E.Winny menyatakan mengapa difabel harus mendapat prioritas vaksin COVID-19 sebab difabel yang berat sulit melakukan kegiatannya sendiri dan sangat tergantung kepada pendamping. Sedang akses layanan kesehatan bagi mereka terbatas. Sedangkan bagi difabel fisik atau sensorik yang dianggap ringan, mereka melakukan aktivitas biasa dan bekerja di luar rumah sehingga memiliki risiko yang sama dengan lainnya. Dalam hal ini Nuning turut menambahkan bahwa difabel berat yang hanya beraktivitas di dalam rumah, termasuk pengguna kursi roda, sehingga kurang bergerak yang mengakibatkan imunitas tubuh mereka berkurang sehingga rentan. Nuning mengakui bahwa informasi terkait vaksin COVID-19 bagi difabel ini sangat kurang sehingga pihaknya terus gencar melakukan sosialisasi.

 

Dokter E. Winny menambahkan bahwa vaksinasi ini adalah upaya herd community. Kalau dalam satu kelompok yang memang aktif dan berisiko itu sudah memiliki kekebalan, ia bisa melawan infeksi COVID-19. Harapannya mereka adalah yang tidak kena, akan lebih kebal daripada yang tidak divaksin, sehingga risiko untuk tertular tidak jadi tinggi.

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.