Lompat ke isi utama
forum penyelamat pendidikan tunanetra

Titik Terang Perjuangan Forum Penyelamat Pendidikan Tunanetra

Solider.id - Pertengahan 2019 silam, ranah media marak mengabarkan pemberitaan polemik yang terjadi di komplek Wyata Guna Jalan Pajajaran 50 - 52 kota Bandung. Permasalahan meluas setelah munculnya permintaan kaji ulang dari pelajar dan mahasiswa penerima manfaat layanan asrama, terhadap kebijakan Peraturan Menteri Sosial atau Permensos Nomor 18 Tahun 2018 tentang Organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, diantaranya tentang alih fungsi panti menjadi balai, yang saat itu di jabat oleh Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita, M.Si.

Seiring perkembangannya hampir dua tahun berlalu, runtutan imbas dari kebijakan tersebut berujung kepada persoalan kepemilikan lahan seluas 4,5 hektar di komplek Wyata Guna, dengan lahan hibah 3 hektar dan sisanya 1,5 hektar masih menjadi hak ahli waris. Fakta dan data berupa sertifikat pun, dijadikan tolok ukur keabsahan persyaratan terkait hak dan kewajiban dalam pengelolaan tanah hibah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan masyarakat difabel netra di tanah air.

 

Salah satu hak bangunan yang berada di lokasi stategis itu adalah gedung sekolah khusus difabel netra, yang sekarang dikenal dengan nama SLBN A Pajajaran kota Bandung yang sempat akan direlokasi. Dalam sejarahnya, pusat pendidikan yang sudah berdiri sejak 1901 menjadi sekolah difabel netra yang tertua di Asia Tenggara.

 

Bagai mengurai benang kusut, Forum Penyelamat Pendidikan Tunanetra (FPPT) yang diketuai oleh Dr. H. Ahmad Basri Nursikumbang, Drs.,M.Pd. menjadi penggerak dalam usaha penyelamatan pusat pendidikan difabel netra di Wyata Guna, dengan berbagai jalur birokrasi maupun jalur lembaga independen negara.

 

Perjuangan forum pun sudah melewati tiga generasi kepemimpinan di Kementerian Sosial, mulai dari Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita, M.Si. hingga masa jabatannya berakhir. Lalu, Dr. Edhy Prabowo,S.E.,M.M.,M.B.A yang sekarang digantikan oleh Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T.

 

Baca Juga: Carut Marut Kepemilikan Lahan Wyata Guna, Bukti Sejarah jadi Fakta

 

Percepatan penghibahan tanah bagi SLBN A Pajajaran kota Bandung.

Dalam acara nasional Temu Inklusi ke 4 yang diselenggarakan oleh Sasana Inklusi dan Advokasi Difabel – SIGAB Indonesia, Tri Rismaharini Menteri Sosial, saat pidato sambutan menyebutkan adanya kasus sekolah di Bandung yang terus berlarut dan akan secepat mungkin diupayakan jalur penyelesaiannya.

 

Pertengah Maret kemarin, saat Menteri Sosial mengunjungi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra – BRSPDSN Wyata Guna Bandung, sempat berdialog singkat dengan Sofwan dan Rianto mahasiswa yang berada di asrama. Mereka menyampaikan permasalahan yang terjadi di Wyata Guna sejak dikeluarkannya kebijakan Permemsos Nomor 18 Tahun 2018.

“Kami berharap dialog singkat bersama Ibu Risma dapat menjadi langkah jalan keluar dari permasalahan yang selama ini terus berlarut-larut,” kata Sofwan.

 

Awal April ini, Sekretaris Direktur Rehabilitasi Sosial Kemensos melakukan kunjungan ke SLBN A Pajajaran kota Bandung dalam rangka proses penghibahan tanah di komplek Wyata Guna dan diterima langsung oleh kepala Bagian Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Langkah tersebut merupakan lanjutan dari kunjungan Menteri Sosial sebelumnya pada 18 Maret. Menurut keterangan anggota FPPT, kunjungan tersebut menunjukan areal yang akan dihibahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

 

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan jajarannya menyambut baik langkah progresif dari proses penghibahan tanah kepada pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat. “Harapan kedepan, agar SLBN A Pajajaran dapat terus melakukan pengembangan layanan pendidikan bagi difabel netra dengan menjangkau standar layanan minimum pendidikan,” pungkasnya.

 

Titik terang dari semua proses perjuangan Forum Penyelamat Pendidikan Tunanetra atau FPPT sudah mulai ditemukan. Sekolah khusus bagi difabel netra akan tetap berada di komplek Wyata Guna, sesuai amanat dalam sejarahnya.

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.