Lompat ke isi utama
POSTER jAKARTA lIBRARY peringati hari autis

Jakarta Library Gelar Mini Talkshow Hari Peduli Autis

Solider.id, Surakarta  - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dipusip) DKI Jakarta melalui Jakarta Library, menyelenggarakan mini talkshow bermedia zoom meeting untuk memperingati Hari Peduli Autis yang jatuh tiap tanggal 2 April. Mini talkshow yang dihelat pada Kamis (2/4) menghadirkan Taufik Hidayat, bidang advokasi dan hubungan antar organisasi Yayasan Autis Indonesia, Agnes Widha Thesiana, perintis Jakarta Ramah Autis dan orangtua remaja autis dan dimoderatori oleh Agatha Febriany.

 

Agnes Widha, ibunda Elfram, remaja autis yang saat ini sudah duduk di bangku SMP Negeri di Kota Surakarta menyatakan bahwa saat pandemi COVID-19 banyak terjadi perubahan psikologis pada diri Elfram. Ketika Elfram masih belajar di SD, bisa dibilang ia sudah melampaui hal-hal yang dirasa memberatkan dengan sosialisasi yang semakin bagus. Namun pandemi telah mengubah segalanya, sebab Elfram yang dahulu sudah memiliki insight yang bagus, tiba-tiba suka menyendiri. Ditambah dengan lingkungan sekolah yang baru, lalu tiba-tiba pandemi datang yang mengharuskan pembelajaran jarak jauh, sehingga tidak ada interaksi sosial secara intensif, maka Elfram mengalami kemunduran.

 

Supaya tidak mengalami kemunduran yang lebih luas lagi, sang Ibu kemudian mencarikan aktivitas yang cocok bagi Elfram yakni memfasilitasi hobi memasak. Wujud fasilitasi tersebut yakni dengan membuka warung rice bowl yang berada masih dalam lingkungan rumah. Berangkat dari hobi makan ayam, lalu juga suka memasak di dapur, Agnes Widha mencoba mengeksplorasi minat dan bakat Elfram dalam memasak dan berdagang. Elfram sendiri yang mempersiapkan bahan-bahan masakan dan mengolah serta sajikan kepada para pembeli. 

 

Baca Juga: Jakarta Library Gelar Mini Talkshow Pemenuhan Hak Difabel

 

Saat pandemi semua hal terkait Elfram sepenuhnya menjadi perhatian utama bagi Agnes. Ia merasa lebih dekat kembali kepada anak semata wayangnya. Ia merasa ada kompromi-kompromi di antara mereka. “Saya jadi lebih mengenal anak saya. Oh dia sudah remaja sekarang dan sudah sampai di tahap sini,”terang Agnes. Terkait support system dari lingkungan bagaimana peran orangtua mampu memberi literasi kepada lingkungan, keluarga, tetangga satu RT, Agnes telah melakukannya bahkan semenjak Elfram didiagnosa autis di usia 22 bulan. Mereka bisa saling menjaga Elfram. “Oh itu anak aku di rumah sendirian. Nah support system ini banyak gunanya,” jelasnya lagi. Support system yang sudah dibuka oleh Agnes kepada keluarga, teman dan tetangga sampai pada tahap mereka ikut berbangga dengan proses tumbuh kembang dan kemandirian yang ditunjukkan oleh Elfram. Di masa pandemi COVID-19 di lingkungan rumahnya ada siskamling dan Elfram ikut serta. Para tetangga mau berkomunikasi dengan Elfram dan anak itu sudah mendapatkan kenyamanan dari lingkungan di sekitarnya sehingga Agnes Widha tidak merasa khawatir.

 

Taufik Hidayat, narasumber lainnya mengutip sebuah penelitian bahwa terdapat 80% keluarga dengan anak autis mengalami kehidupan yang berubah saat pandemi COVID-19. Meski tingkat derajat perubahan mereka berbeda-beda, namun hal ini penting untuk menjadi perhatian besar. Taufik menceritakan tentang Rahman sang anak yang saat ini sudah lulus kuliah sehingga tidak mengalami perubahan yang tidak terlalu besar. Dari semua perubahan, ada angka yang menunjukkan 46% perubahan pada anak dan remaja autis yakni pada berat badan yang lebih besar serta 35% perubahan perilaku.

 

Menurutnya Taufik masih banyak keluarga dengan anak autis yang membutuhkan bantuan dari terapis dan sekolah. Selain itu, kebutuhan atas literasi keluarga juga terhambat terkait dampak pandemi. Program literasi keluarga ini sudah diinisiasi jauh sebelum pandemi datang. Literasi keluarga ini dianggap penting karena menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan itu kuncinya ada pada keluarga. “Walau background saya terapis. Saya tidak ingin ortu bergantung kepada saya,” terang Taufik. Selain terapis, Taufik juga bergerak di advokasi terutama tahun ini ada tema inklusif di tempat kerja maka ia bekerja sama dengan direktorat di Kemenaker.

 

Taufik mengemukakan bahwa pada saat pandemi ada terapi visual yang akan membantu anaknya dalam terapi. Untuk program pendidikan jarak jauh, pada 17-20 Maret ia diundang Kemendibud untuk fasilitasi layanan pendidikan khusus dan membuat modul bagaimana keluarga membantu dalam pendampingan anak. Menurutnya hal ini bisa jadi blessing dan challenge jika orangtua benar-benar selama 24 jam bersama anak. Dengan demikian ada keluarga yang menyadari keadaan anaknya di rumah dan ada kepuasan mental dan spiritual. Sisi positifnya juga ada yakni kemandirian semakin meningkat dan perilaku bertambah baik.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.