Lompat ke isi utama

Support System Bagi Difabel Mental Psikososial, Caregiver dan Hal Penting Lainnya

Solider.id, Surakarta- Sumiyati, seorang caregiver bagi suaminya, Amirul Eko guru olah raga yang bipolar, adalah perempuan yang bekerja sebagai pegawai negeri. Ia bertugas menjadi perawat di salah satu puskesmas di Kabupaten Sragen. Ibu dari dua anak tersebut meski juga memiliki pekerjaan dengan latar belakang kesehatan namun merasakan bahwa dukungan komunitas sangat dibutuhkannya. Apalagi ia tidak memiliki dukungan yang kuat dari kerabat terdekat. Dengan dukungan komunitas yang didalamnya beranggota tidak hanya penyintas gangguan jiwa, caregiver juga terdapat para profesional seperti psikolog dan psikiater, Sumiyati berharap bahwa apa yang selama ini dia rasakan sebagai caregiver, dan jika ada persoalan-persoalan terkait dengan keluarganya akan terjawab. Persoalan tersebut meliputi tumbuh kembang anak, juga terkait terapi pengobatan yang dijalani oleh suaminya.

 

Hal sama juga dirasakan oleh Muhammad Wildan, anak tunggal dari seorang ibu penyintas skizofrenia. Ia dan ibunya tinggal dalam satu rumah dan selama ini apa yang dia rasakan dan alami hanya bisa ia rasakan sendiri. Jika ada pertemuan keluarga besar, Wildan ingin mengungkapkan masalah, namun banyak dari kerabatnya tersebut yang tidak percaya bahwa ia memiliki banyak masalah, meski sekadar berbagi cerita. Dengan berjumpa dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo, ia jadi menemukan keluarga baru, tempat untuk mengadu dan sekadar curhat terkait kegiatannya sehari-hari dan berbagi pengalaman hidup. Komunitas memberi ruang aman Wildan untuk bercerita apa pun masalah yang dihadapinya. Seperti pada kegiatan yang belum lama ini dilakukan oleh KPSI Simpul Solo Raya yakni pertemuan secara tatap muka yang diselenggarakan di Taman Balekambang Solo.

 

Selain memberi ruang aman untuk bercerita, komunitas juga wahana untuk membangun jejaring, bisnis contohnya. Hendra, penyintas skizofrenia yang bekerja dengan berjualan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan saat pandemi seperti masker serta lainnya, juga memanfaatkan komunitas sebagai media pemasaran. Tidak hanya pada group WhatsApp KPSI Solo Raya yang memiliki jadwal “Sabtu Berjualan” namun dengan memanfaatkan pertemanan di antara penyintas dan caregiver maka peluang pemasaran itu selalu ada. Hal sama juga dilakukan oleh Agus Sila, penyintas dari Kabupaten Sukoharjo yang berjualan jamu di saat pandemi COVID-19 dan pernah membuka warung kelontong di rumah. Hendra dan Agus Sila, dua di antara penyintas mental psikososial yang berhasil dan pulih dari kungkungan skizofrenia dengan disiplin dan taat dalam terapi pengobatan. Komunitas dan tentunya dukungan keluarga telah membuat keduanya mampu bangkit dan lepas dari tantangan dengan insight luar biasa sehingga berdaya sampai hari ini.

 

Baca Juga: Difabel Mental dan Intelektual paling Rentan dalam Proses Hukum

 

KPSI Terus Berbagi Pengetahuan Kepada Masyarakat untuk Kikis Stigma

Jerrie Hadinoto, seorang penyintas kesehatan mental, skizo-afektif, yang tinggal di Yogyakarta adalah salah satu pegiat di KPSI Simpul Yogya. Lewat siaran IG Live-nya belum lama ini, Jerrie berbagi kisah pengalaman hidup yang dijalaninya. Bermula dari saat berkuliah semester dua di UGM tahun 1999-2000, Jerrie mengalami kondisi depresi setelah dipicu oleh suatu masalah, inginnya cuma tidur, untuk kegiatan mandi saja ia malas. Ia sempat berhenti kuliah. Ketika mulai kuliah lagi ia mengalami fase manic, yakni sangat aktif, kurang tidur, overthinking dan pikiran tidak tenang. Kemudian tahun 2001 ia dirawat di RS Puri Nirmala. Selama 20 tahun ini, ia sudah tiga kali menjalani rawat inap. Jerrie mengaku dukungan dari keluarga sangat besar artinya bagi dirinya.

 

Dalam siarannya tersebut, Jerrie menyatakan pernah mengalami delusi atau waham kebesaran. Ia merasa orang yang hebat dan pintar sendiri. Ia ketika masuk rumah sakit pernah didiagnosa sebagai bipolar, skizo-paranoid juga skizo-afektif. Ia pernah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Beruntung ia memiliki keluarga yang mengerti dan paham serta memberi dukungan terapi pengobatan apalagi di keluarga besarnya, kakek Jerrie seorang psikiater, jadi saat fase-fase awal muncul waham, ia dibantu oleh sang nenek untuk segera memeriksakan diri.

 

Sama halnya dengan KPSI Simpul Solo Raya yang dalam setiap pertemuan selalu didampingi oleh profesional seperti dr Maria Rini Indriarti, Psikiater. Saat KPSI Simpul Yogya siaran bersama Jerrie pun didampingi dua profesional yakni psikiater Ida Rochmawati dan Warih Andan. Menurut Ida Rochmawati, penting untuk terus-menerus memberikan pemahaman kepada keluarga, caregiver dan masyarakat luas tentang mengikis stigma bagi penyintas gangguan jiwa. Pengetahuan-pengetahuan terkait kesehatan jiwa dan ragamnya akan terus disuarakan agar masyarakat paham, bahwa penyakit gangguan jiwa sama dengan penyakit bilogis lainnya. Kalau di bipolar, ada episode gangguan mood, dan episode perasaan.

 

Beberapa waktu lalu KPSI juga menggelar diskusi terkait tiga gejala utama, dan tujuh gejala tambahan. Ada satu titik depresi, ada bahagia berlebihan, ide banyak, tidak punya lelah, tidak bisa tidur karena rasanya senang. Ketika hal itu membuat mereka senang dengan gelajanya, kemudian menjadi tidak produktif, idenya berpindah pindah, sehingga tidak tuntas apa yang harus dia kerjakan. Ketika dalam diri satu orang, episode turun dan naik, itulah yang disebut bipolar, dua kutub dari suasana perasaan. Kalau skizo-afektif, ada gejala skizofrenia yang dirasakan seseorang, tapi juga ada gejala manic yang dirasakan bersama sama. Bisa tipe manic, kalau suasana perasaan naik, bisa juga depresi. Bisa kita bayangkan betapa tidak enak dan nyamannya orang mengalami gangguan itu.

 

Jerrie tidak pernah merasa ada orang yang menyepelekannya karena ia memiliki keluarga yang mendukung sepenuhnya. Hal ini dibenarkan oleh Warih Andan, bahwa dukungan dari orang dengan gangguan jiwa adalah support system. Menurutnya tidak ada penyebab tunggal dalam gangguan jiwa,  yang ada dia antaranya adalah faktor biologis,fisiologi, dan sosial. Dalam faktor biologis, ada gangguan, yang secara normal otak kita membutuhkan zat kimia dalam menghantar listrik. Pada kondisi normal, zat kimia punya nilai normal sehingga ketika kita normal diatur kondisi itu, pada kondisi gangguan jiwa ada yang tidak normal. Ada zat yang tidak normal dan dalam skizofrenia, dopaminnya berlebih.  Supaya normal, maka obat berfungsi mengembalikan dopamin agar berfungsi dengan baik. Obat itu meregulasi dopamin agar kembali normal. Efek dari obat misalnya mengantuk, ada yang tubuhnya  lemas namun seiring berjalannya waktu efek itu menghilang. Menurut dr. Warih Andan, jangan sekali-kali menggunakan istilah ketergantungan sebab penggunaan obat adalah suatu kebutuhan. Ia berharap stigma di masyarakat makin berkurang. “Gangguan jiwa adalah masalah biologis. Kenapa stigma muncul? Karena gangguan jiwa wujudnya adalah perilaku, perbuatan dan pembicaraan yang tidak terorganisir maka, gejala ini hanya salah satu faktor saja dan mengapa gangguan ini sering dianggap bukan medis dan selalu dihubungkan dengan magis,”pungkasnya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.