Lompat ke isi utama
ilustrasi hari film nasional

Selamat Hari Film Nasional, Ayo Buat Film Bertema Difabel

Solider.id - Hari Film Nasional – HFN diperingati pada 30 Maret setiap tahun sebagai penghormatan terhadap kelahiran tokoh perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Di tanggal yang sama, 71 tahun silam menjadi tonggak kebangkitan film nasional. Untuk kali pertama diproduksi di tanah air sebuah film berwarna hitam putih produksi 1950 ‘Darah dan Doa’ (Long March of Siliwangi) disutradarai dan diproduseri oleh Usmar Ismail.

 

Film tersebut mengisahkan perjalanan panjang (Long march) prajurit Republik Indonesia yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Dilansir dari berbagai sumber, untuk mengenang karya Usmar Ismail sebagai bapak Perfilman Indonesia, momentum bersejarah Hari Film Nasional tahun ini mengusung tema, ‘100 tahun Usmar Ismail.’

 

Perjalanan panjang dunia perfilman terus bergerak dengan mengangkat isu beragam. Jenis film yang membidik isu difabel, berhasil merebut perhatian masyarakat. Film isu difabel yang diangkat ke layar lebar seperti: Hafalan Shalat Delisa – 2011  mengangkat difabel Fisik. Ayah, Mengapa Aku Berbeda? – 2011 mengangkat difabel Tuli. Jingga – 2016 mengangkat difabel Netra. Film dokumenter, Sejauh Kumelangkah – 2019, mengangkat isu difabel Netra, meraih piala citra untuk film dokumenter pendek terbaik.

 

Merambah kepada Asia Tenggara, pemerintah setiap negara ASEAN terus berbenah untuk mewujudkan kawasan inklusif bagi seluruh komunitas pada 2025 mendatang, termasuk komunitas difabel. Salah satu upaya yang ditempuh yaitu melalui bidang perfilman. Harapan secara global, melalui produksi film mampu meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pengarusutamaan hak masyarakat difabel di semua bidang kehidupan.

 

Seperti yang disampaikan oleh Gufroni Sakaril, ketua umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) pada lokakarya kompetisi film pendek 2019 lalu, melalui film diharapkan dapat mengangkat isu perlindungan hukum, perlindungan ketenagakerjaan bagi masyarakat difabel sesuai dengan ASEAN Enabling Masterplan 2025. Film dokumenter tersebut juga bisa menjadi salah satu upaya untuk penghilangan stigma dan diskriminasi terhadap difabel.

 

Festifal Film Dokumenter 2019 juga menjadi momentum kemunculan film bertema difabel yang masuk program The Feelings of Reality. Seperti judul: Alun garapan Riani Singgih. Menjadi Agung garapan Yovista Ahthajida. Aisyah garapan Ahmad Syafi’I Nur Illahi. Saling garapan Ridho Fisabilillah. Menjadi Teman garapan Aji Kusuma. Bulu Mata Kaki garapan Firman Fajar Wiguna. Apa di Kata Nadakanlah, Apa di Nada Katakanlah garapan Gracia Tobing. Indera Kaki garapan Ihsan Achdiat. Delapan film tersebut diproduksi 2019, yang dimentori oleh Ajiwan Arief dan M Ismail dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia. Empat film diantaranya diputar dengan teknologi virtual reality – VR.

 

Catatan penting dalam produksi film bertema isu difabel

Memproduksi film yang mengangkat isu difabel memiliki tantangan tersendiri. Seperti yang diakui oleh Aji Kusuma saat menggarap filmnya berjudul menjadi teman dalam FFD 2019, “Perlu belajar untuk menjadi inklusi, serta hal yang ditampilkan dari difabel dalam frame adalah kegiatan sehari-hari,” ujarnya, yang dikutif dari laman tirto.id.

 

Sebagai contoh, tokoh difabel dalam sebuah film yang diperankan oleh artis dan aktor nondifabel. Mereka belajar keras untuk mendapatkan karakter yang diperankan sesuai tokoh asli, hingga mempelajari secara langsung kepada difabel yang sesuai dengan skenarionya.

 

Namun, tidak dapat dipungkiri akan tetap ada perbedaan alamiah, saat tokoh difabel diperankan oleh nondifabel dengan yang diperankan langsung oleh individu difabel. Melalui film-film yang mengangkat isu difabel ini, diharapkan juga memberi ruang gerak kepada seniman difabel untuk turut menjelajah dunia akting.

 

Beberapa hal lain yang menjadi catatan penting dalam pembuatan film dengan mengangkat isu difabel diantaranya:

 

Penokohan atau tokoh difabel yang dihadirkan dalam film tersebut hendaklah dihadirkan secara wajar, meskipun dalam kontek akting semata. Karakter tokoh yang tidak proporsional malah akan dapat menghadirkan citra negatif terhadap difabel di kehidupan nyata. Misalnya, lebih menonjolkan sisi keterbatasannya tanpa diimbangi dengan sisi kemampuannya.

 

Alur mundur atau regresi seperti masa lalu dari penokohan atau tokoh difabel tidak perlu diceritakan secara detil. Misalnya, penyebab tokoh dalam film tersebut menjadi difabel, tidak perlu dikisahkan dengan rinci tentang kesulitan atau tantangan di masa awal menjadi difabel baru. Atau tokoh yang memang sudah diberi peran sebagai difabel, tidak perlu dirinci penyebab difabel dalam alur regresinya.

 

Mengapa demikian? Sebab, di dunia nyata kehidupan masyarakat difabel memiliki warna, cara, dan gaya berbeda dalam menjalani kodratnya sebagai individu difabel, meskipun terdapat kesamaan atau kemiripan dari jenis kedifabelan yang dimilikinya. Ini dapat berefek kepada persepsi dan perspektif masyarakat umum yang menyaksikan film tersebut terhadap individu difabel.

 

Menekankan dalam skenario sebagai naskah film tentang citra difabel sebagai subyek bukan objek. Seperti yang dituangkan dalam agenda ASEAN Enabling Masterplan 2025, melalui film dapat menjadi salah satu upaya untuk penghilangan stigma dan diskriminasi terhadap difabel. Menempatkan tokoh difabel sebagai subyek bukan objek dalam penggarapan sebuah film, akan berdampak terhadap edukasi yang diterima oleh masyarakat secara universal tentang sosok difabel.

 

Rumusan dari poin-poin yang menjadi catatan penting dalam memproduksi film yang mengangkat isu-isu difabel tersebut, dibuat oleh para mentor dari Sigab dalam Festifal Film Dokumenter 2019.

 

Penulis: Srikandi Syamsi

Editor  : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.