Lompat ke isi utama
poster webinar inklusi kagama UGM

Mengenal Lebih Dalam Difabilitas, jalan Menuju Inklusifitas

Solider.id – Memberikan ruang yang sama kepada semua masyarakat dari berbagai latar belakang, agama, ras, etnis, suku, gender, dan difabilitas adalah perwujudan dari inklusivitas. Dalam sebuah webinar yang mengangkat tentang inklusivitas, diharapkan masyarakat lebih inklusif dan semakin banyak ruang-ruang yang terbuka juga inklusif.

 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengatakan diskusi webinar ini akan menarik ketika kita bisa bersepakat untuk mengidentifikasi kebutuhan yang harus ada, dan kebijakan publik apa yang harus dibuat, dan kapan itu bisa dilakukan.

“Setiap tahun teman-teman difabel menyampaikan catatan-catatan kritis, meskipun belum sepenuhnya terlaksana, namun gerakan-gerakan ini bisa menegur para pengambil keputusan untuk lebih peduli,” kata Ganjar saat menjadi narasumber di webinar, Sabtu (27/3).

Ganjar Pranowo dalam webinar Inklusif

 

 Ia juga menugaskan dinas-dinas di Jawa Tengah untuk membuat program baru dan mengajak organisasi difabel untuk berkolaborasi, agar kemudian bisa mengerti pada soal-soal yang akan diambil dalam kebijakan publik.

 

Sementara itu, Bima Indra, seorang penggiat isu difabel menerangkan cara berinteraksi dengan difabilitas, dimana salah satu bentuk dalam kesetaraan.

“Dalam berinteraksi dengan difabel daksa, jika ingin membantu, jangan langsung membantu tapi tawarkan dulu hendak membantu apa, jangan menitipkan barang bawaan pada kursi roda difabel karena itu adalah wilayah privasinya, dan jangan berbicara dengan pendamping difabel daksa jika membawa pendamping namun berbicaralah pada orang difabelnya,” tuturnya.

 

Untuk berinteraksi dengan difabel Tuli, jangan memanggil dengan bahasa verbal namun menepuk pundaknya atau melambaikan tangan didepanya, berbicaralah dengan cara berhadapan langsung dengan pencahayaan yang baik supaya teman Tuli dapat membaca jelas gerak bibir kita, serta hindari berbicara sambil makan karena gerak bibir atau ucapan akan sulit dipahami.

“Ada perbedaan antara Tuli dan tuna rungu, jika Tuli itu adalah identitas sosial dan lebih nyaman terdengar dan sebagian besar teman Tuli menguasai bahasa isyarat untuk media komunikasi mereka dan teman dengar. Sedangkan tuna rungu terkesan diskriminatif, karena merupakan diagnosa medis yang berarti ketidakmampuan mendengar atau kerusakan organ. Berinteraksi dengan Tuli jangan takut jika belum bisa bahasa isyarat atau bahasa oral, karena bisa juga menggunakan tulisan, ” ucapnya.

 

Hal pertama dalam berinteraksi dengan difabel netra adalah memperkenalkan diri agar teman difabel netra tahu dengan siapa mereka berada. Dalam mendampingi difabel netra, ada etika-etika yang harus dipahami yakni mengkomunikasikan tawaran untuk mendampingi dengan cara menyentuhkan punggung tangan pendamping ke punggung tangan difabel netra, hal ini dimaksudkan agar difabel netra dapat mengetahui dengan pasti bagian lengan yang harus dipegang difabel netra, dan pendamping berada di depan sedangkan difabel netra berada setengah langkah dari pendamping.

“Ada hal-hal yang dilarang ketika kita berkomunikasi dengan difabel netra yaitu jangan menguji kemampuan misal ketika sedang bertemu dan menyuruh menebak nama kita, beritahukanlah ketika kita meninggalkan mereka, jangan mendorong atau memegangnya dari belakang disaat mendampingi, jangan berteriak dari kejauhan, dan hindari penggunaan kata tunjuk (itu, disana, disitu),” jelasnya.

 

Dalam berinteraksi dengan difabel mental, jangan melarang mereka melakukan hal-hal yang membuat mereka rileks.

“Saat berinteraksi dengan difabel intelektual, yang paling penting adalah selalu gunakan kata-kata yang sederhana dan pendek, sehingga teman-teman difabel mental tidak memerlukan effort yang tinggi untuk memahami apa yang kita maksud,” tuturnya.[]

 

Reporter : Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.