Lompat ke isi utama
animasi gedsi

Pentingnya Penelitian Berbasis GEDSI

Solider.id – Sebelum membahas lebih jauh tentang penelitian berbasis GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion), mari kita kenali dulu apa itu GEDSI? Membicarakan Gender Equality, Disability and Social Inclusion atau Kesetaraan Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial, disingkat GEDSI, tentu tidak bisa terlepas dari istilah ‘pendahulunya’ yaitu GESI. Penyematan kata Disability ini bukan tanpa sebab, namun sebuah kesengajaan.

 

Dilansir dari laman web Australia-Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), GEDSI adalah isu dan kepentingan semua pihak. Dalam pelaksanaannya perlu menggabungkan kegiatan khusus GEDSI dan juga pengarusutamaan GEDSI melalui pendekatan dua jalur (a twin track approach). Sedangkan Fatum Ade, tim program Woman Disability Crisis Centre (WDCC)  SAPDA mengatakan bahwa tujuan menyebut GEDSI adalah untuk mengarusutamakan difabel secara lebih spesifik karena kalau hanya inklusi sosial, definisinya masih sangat luas sehingga difabel tidak akan terangkat.

 

Akar Ketertindasan yang Berbeda

Fakta empiris menunjukkan pengalaman ketertindasan perempuan non difabel berbeda dengan pengalaman ketertindasan perempuan dengan difabel. Dengan kata lain, perempuan difabel memiliki pengalaman ketertindasannya sendiri, lebih kompleks dan berlapis ketimbang pengalaman ketertindasan perempuan non difabel. Cara pandang terhadap otoritas tubuh perempuan difabel haruslah menjadi kacamata utama dalam melihat aspek diskriminasi khusus yang dialami oleh perempuan difabel.

 

Terkait konsep, kesetaraan gender, disabilitas dan inklusi sosial dijadikan sebagai budaya tanding antara konsep feminis dan konsep inklusi yang ada. Inklusi sosial sendiri adalah sebuah proses mendorong penguatan interaksi sosial dari berbagai masyarakat dengan latar belakang sosial yang berbeda maupun mekanisme institusi yang terbuka untuk memutus hambatan-hambatan dan membuka akses untuk partisipasi bermakna dalam semua ruang kehidupan sosial. Ketika bicara inklusi sosial kita akan bicara keberagaman, juga tentang konsep penting bagi peran sosial perempuan difabel di publik dan privat. Inklusi sosial seringkali gender blind atau tidak memperhatikan isu perempuan difabel sebagai bagian penting di samping keberagaman itu sendiri.

 

Bagi perempuan difabel sangat terlihat bahwa tubuh merupakan akar ketertindasan karena dianggap tidak normal. Ini juga terkait dengan kuasa laki-laki dalam memandang perempuan difabel, seperti apakah perempuan difabel layak dijadikan istri, cantik atau tidak. Pun peran sosial perempuan difabel ditiadakan apabila ia memilih hamil, berkarir atau menikah, dan hal tersebut akan jadi masalah. Oleh karena itu, budaya tanding yang memproduksi pengetahuan dari sisi pendokumentasian pengalaman-pengalaman perempuan difabel sangat diperlukan.

 

Dengan memasukkan isu difabel secara eksplisit dalam GEDSI akan menganalisa lebih detail terkait dengan kedifabilitasan dan peran gendernya di ranah tidak hanya publik, namun lebih penting lagi adalah ranah domestik, dan pada semua sektor kehidupan perempuan difabel.

 

Penelitian Berbasis GEDSI

Penelitian dalam konteks penelitian perempuan difabel bertujuan tidak hanya mendapat pengetahuan baru dan menyelesaikan persoalan yang ada, tapi juga pendekatan berbasis pengalaman dan penguatan hak serta bagaimana implementasinya dengan nilai non diskriminatif. Selain juga tentang interseksionalitas dimana meletakkan relasi dan diskriminasi berlapis terhadap perempuan difabel dalam situasi beragam.

 

Tahun lalu, SAPDA menyelenggarakan sebuah Konferensi Nasional untuk memaparkan hasil riset advokasi berbasis GEDSI. Ide besarnya adalah pelibatan tiga kelompok, yakni perempuan difabel, perempuan dengan anggota keluarga difabel dan pemerhati isu perempuan difabel dan gender sebagai perisetnya. Hal ini dilakukan Sapda karena melihat penelitian yang sudah ada kerap hanya dilakukan oleh lembaga penelitian maupun kampus dimana komunitas yang diteliti jarang mengetahui hasil penelitiannya atau tidak mendapatkan manfaat dari penelitian.

 

Banyak perempuan difabel, perempuan dengan anggota keluarga difabel dan perempuan pemerhati isu perempuan difabel dan gender juga tidak punya akses untuk meneliti. Kalau pun ada kesempatan, tak jarang hasilnya tidak diakui dan dinilai tak bisa dipertanggungjawabkan karena dipandang tidak akademis, sehingga terjadi kesenjangan produksi pengetahuan yang hanya dikuasai oleh kelompok akademisi atau peneliti.

Bagaimana memasukkan GEDSI dalam sebuah penelitian?

Penelitian yang berperspektif GEDSI tentu saja merupakan penelitian dimana penelitinya paham soal gender, difabilitas, keberagaman dan inklusi sosial. Dalam penelitian yang dilakukan ketiga kategori kelompok perempuan tadi, tidak semua periset perempuan tersebut memahami GEDSI secara fasih dan keseluruhan, terlebih mereka juga pemula di bidang ini. Namun ketika tiga kelompok tersebut mampu menjiwai penelitiannya karena mereka sendiri yang membuat perencanaan, mengetahui situasi difabel di sekitar mereka di daerah masing-masing dan kemudian menuliskannya, maka harapannya hasil penelitian tersebut akan sesuai dan bermanfaat bagi kehidupan difabel di lingkungan sekitar para peneliti perempuan tersebut. ‘Sense’ GEDSI bisa dirasakan jika dalam sebuah penelitian subyek penelitiannya tidak diobyektifikasi dan hasil risetnya memberdayakan difabel karena cerminan dari suara-suara difabel yang selama ini terbungkam. Penelitian tidak hanya mengangkat masalah yang terjadi, namun sekaligus juga menawarkan pilihan pertimbangan solusi.

 

Kelebihan lainnya, hasil penelitian yang dibuat dalam bentuk tulisan populer memungkinkan dibaca oleh banyak kalangan. Meski tak dipungkiri juga bahwa hasil penelitian oleh kelompok yang dianggap tak cakap secara akademis ini dapat juga dipakai sebagai riset advokasi karena sudah berbasis bukti valid. Peneliti akan kembali ke daerah masing-masing, sebagai perempuan difabel warga masyarakat, sebagai orangtua yang memiliki anggota difabel dan perempuan pemerhati isu difabel dan gender yang akan melakukan advokasi kepada pemerintah daerahnya masing-masing untuk ditindaklanjuti.

 

Menjadikan pengalaman perempuan difabel dalam sebuah karya ilmiah menjadi tantangan bagi dunia akademis yang masih mementingkan standar metodologi dalam penelitian. Maka dibutuhkan semakin banyak produksi-produksi pengetahuan yang ditulis sendiri oleh perempuan difabel agar dapat digunakan dan diakui sebagai referensi, sesuai slogan ‘nothing about us without us’.  []

 

Penulis: Alvi

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.