Lompat ke isi utama
ilustrasi penelitian tentang difabel

Kritik terhadap Penelitian-Penelitian tentang Difabel

Solider.id – Dalam pencarian Google Scholar Engine, penelitian tentang isu difabel secara umum mencapai angka tujuh belas ribuan penelitian paska tahun 2016, dengan delapan ribu penelitian yang spesifik mengangkat perempuan difabel. Tema-tema penelitiannya berkisar tentang peran Women Crisis Center atau Pengada Layanan untuk Perempuan, juga penelitian tentang perempuan difabel sebagai kepala keluarga, dalam keterwakilan politik, dan advokasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa secara pengetahuan sudah ribuan penelitian diproduksi, tapi penelitiannya sebagian besar dilakukan oleh para akademisi. Sedangkan untuk wilayah sebarannya, sebagian besar penelitian masih diselenggarakan di pulau Jawa dengan pendekatan dan bahasa yang masih obyektif atau penelitiannya berjarak seperti orang luar yang melihat masalah.

 

Penelitian tentang difabel semakin banyak tapi fenomena hasil riset yang bernada negatif juga banyak. Ro’fah Makin, pendiri Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan bahwa PLD sedang menyusun guideline bagaimana melakukan riset tentang difabel. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian difabel di UIN, yaitu hasil penelitian harus memberikan kontribusi dan feedback pada difabel.

 

Etika meneliti dalam penelitian tentang difabel memang masih menjadi masalah krusial. Para peneliti di akademisi mendorong metodologi riset aksi dimana penelitian memberi dampak pada kelompok difabel yang diteliti, tapi ini dianggap subyektif dan tidak akademis. Ro’fah menambahkan beberapa kritik terhadap penelitian tentang difabel. Pertama, tentang landasan konseptualisasi atau epistemologis tentang difabel yang tidak memberdayakan. Selama ini konsep yang digunakan cenderung opresif. Kedua, riset aksi yang dilakukan tidak memberikan kontribusi untuk peningkatan kondisi hidup difabel yang masih banyak belum terpenuhi haknya. Ketiga, bagaimana produksi pengetahuan tersebut harus memiliki kesetaraan. Dalam hal ini adalah hubungan peneliti dengan responden difabel, dimana banyak penelitian hanya  menempatkan difabel sebagai obyek atau target saja, tidak melibatkan secara langsung dalam penelitian atau dijadikan subyek.

 

Baca Juga: Riset Mengenai Difabel: Bagaimana Seharusnya?

 

Sayangnya, banyak peneliti yang masih memandang difabel dari cara pandang medical model, dimana problem difabel ada pada diri difabel itu sendiri, seperti tidak bisa jalan, butuh ditolong, disembuhkan, dan lain-lain. Akibatnya, difabel digambarkan sangat stigmatif sehingga terjadi marjinalisasi. Selain itu, pengalaman dan pengetahuan difabel tentu saja tidak dipertimbangkan. Penelitian seharusnya membuat perubahan, bukan melulu soal mendapatkan temuan yang belum pernah terketahui sebelumnya. Oleh karenanya penelitian tentang difabel seharusnya juga secara langsung meningkatkan kondisi kesejahteraan difabel yang menjadi subyek penelitian. Selain itu, fungsi penelitian untuk memproduksi pengetahuan tersebut dapat dijadikan advokasi dan digunakan dalam konteks pemberdayaan, tidak hanya untuk tujuan perubahan di level kebijakan saja.

 

Posisi peneliti dapat menjadi aksi politis tentang bagaimana membantu menghilangkan penindasan dan memfasilitasi pemberdayaan difabel. Peneliti yang menggunakan social model sebagai landasan epistemologi penelitiannya harapannya tidak akan berlindung dibalik kata ‘obyektif’ dalam memandang difabel sebagai obyek penelitian saja, tapi memastikan keterwakilan keragaman pengalaman difabel dengan melibatkan difabel sebagai subyek penelitian.

 

Hasil riset seharusnya dapat dipakai untuk dua hal, pertama mereproduksi diskriminasi, ketidaksetaraan dan marjinalisasi yang ada terkait difabel atau kelompok rentan lain, dan kedua, hasil riset dapat menjadi empowerment atau memberdayakan kelompok-kelompok yang sudah disebutkan sebelumnya. Kebanyakan hasil riset dipakai untuk tujuan pertama, karena kuasa pengetahuan masih didominasi oleh pihak-pihak dari luar difabel. Dengan membuat hasil riset yang mudah dibaca oleh siapa pun, maka kita sedang membuka power atau kuasa atas pengetahuan tadi kepada si pemilik pengalaman dan pengetahuan, yakni kelompok difabel itu sendiri.

 

Sebagai penutup, dalam penelitian perlu dibangun koneksi antara kebijakan, penelitian dan aksi. Pembuatan kebijakan harus evidence based, demikian juga penelitian. Masih banyak area yang bisa diteliti untuk penelitian-penelitian tentang difabel. Namun sebagai peneliti hendaknya selalu memperhatikan voice power atau suara-suara kelompok yang diteliti serta representasi yang harus dimunculkan dalam konteks penelitian sehingga menjadi penelitian yang memberdayakan. []

 

Penulis: Alvi

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.