Lompat ke isi utama

Hambatan Difabel Peroleh Sarana Protokol Kesehatan di Tempat Publik

Solider.id – Hardiyo, perwakilan organisasi difabel Pusat Pemberdayaan Disabilitas “Mitra Sejahtera” Gunungkidul mengeluhkan bahwa beberapa fasilitas umum yang dibangun saat ini masih sulit terjangkau karena ditujukan untuk mereka yang nondifabel. Berkaitan dengan upaya pencegahan Covid – 19, ia menambahkan difabel seringkali merasa kesulitan mengakses sarana cuci tangan di tempat umum. Hal itu ia ungkapkan pada saat kegiatan Lokakarya Diseminasi Nasional Praktik Baik dan Pembelajaran Program HBCC Tanggap Covid 19 Dengan Intervensi Higiene. Kegiatan diselenggarakan oleh Stiching Nederlandse Vrijwilligers atau SNV Indonesia, bersama HBCC atau Hygiene And Behaviour Change Coalition (Koalisi Perubahan Perilaku dan Kebersihan) secara daring pada (27/7).

 

Hardiyo menjelaskan Beberapa model atau bentuk tempat cuci tangan yang tersedia di lapangan tidak memungkinkan untuk digunakan oleh  difabel karena tempatnya yang terlalu tinggi. Atau karena beberapa teman difabel pengguna kursi roda tidak bisa memfungsikan kakinya. Hal ini menjadi pertimbangan bersama SNV untuk dibuatkan desain dengan  menggunakan sensor sehingga mereka yang kakinya tidak berfungsi dapat terbantu dan tidak mengalami kesulitan.

 

Bagi Hardiyo menjadi sebuah kesyukuran karena selama sembilan bulan dirangkul SNV telah banyak capaian yang didapatkan. Mitra Sejahtera telah difasilitasi dan bisa memberi masukan untuk pihak pasar, terminal, sekolah maupun puskesmas sehingga mulai ramah terhadap difabel.

“Kendala informasi tetap kami dapatkan karena selama ini media juga kurang memberi informasi yang benar dan tepat seperti apa. Belum lagi keterbatasan pemahaman kawan-kawan difabel masih harus ditingkatkan.” Dengan kondisi Gunungkidul yang memiliki luasan wilayah 46% dari DIY yang banyak terdiri dari pegunungan, bagi Hardiyo ini menjadi tantangan bagaimana ia dan kelompok binaannya bisa menyampaikan informasi tentang covid 19 secara tepat sehingga tidak terjadi kesimpang siuran. Karenanya melalui kegiatan ini Hardiyo mengharapkan agar penyedia fasilitas umum mulai memikirkan kebutuhan teman-teman difabel dalam hal pelayanan.

 

Baca Juga: Cegah Covid-19: tips dan Saran dari dokter bagi Difabel Netra

 

Sementara, Jamjam Muzaki selaku Tim Mediasi Perubahan Perilaku Satgas Covid 19 Kemendikbud RI mengungkapkan bahwa demi inklusifitas, beberapa sarana memang harus kita perbaiki dan modifikasi sehingga akses untuk teman-teman difabel bisa menjadi percontohan.  perbaikan fasilitas umum dilakukan agar difabel tetap bisa terlibat dalam menjaga protocol kesehatan.

 

Kegiatan yang mengangkat tema  “Pencegahan Covid 19 Di Sekolah, Puskesmas, Fasilitas Umum Melalui Program AMPL yang Inkusif”. Selain Hardiyo yang mewakili organisasi difabel Gunungkidul,  kegiatan ini juga melibatkan  nara sumber  Jaka Dwisana, Mantri Pasar Angkruksari Bantul, Adib Kurniawan, S.Pd, Guru UKS MIN 2 Sleman

 

Hadir membawakan paparannya, Saniya Niska selaku programme Manager kegiatan,  setelah kata sambutan dari Ismene Stalpers selaku Direktur SNV Indonesia. Hadir pula dalam kegiatan ini Jamjam Muzaki selaku Tim Mediasi Perubahan Perilaku Satgas Covid 19 Kemendikbud RI dan dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO selaku Dit. Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat.

 

Didanai oleh Unilever dan pemerintah Kerajaan Inggris, kegiatan ini telah dilakukan sejak September 2020 lalu di delapan kecamatan dan dua kota di Jawa dan Nusa Tenggara Barat. Kegiatan mencakup 101 sekolah dan madrasah, 119 puskesmas, pasar dan terminal bus. Sasaran kegiatan menjangkau para perempuan dan anak, pemuda, petugas kebersihan, pemerintah daerah dan organisasi difabel setempat.

 

“Kegiatan ini berfokus pada higienitas dan perubahan perilaku untuk meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan sebagai bentuk kontribusi terhadap pencegahan covid 19.” Saniya Niska selaku proram manager menjelaskan program kerjanya. Karenanya untuk mendukung kegiatan kampanye perubahan perilaku di Puskesmas, pasar dan terminal-terminal, telah dilatih 1200 petugas kesehatan, untuk melakukan pembersihan permukaan pasar dengan desinfeksi di berbagai dinas dengan replikasi modul di seluruh fasilitas dampingan.

 

Dilakukan untuk meningkatkan kesadaran  publik melalui media masa dan sebagai kampanye perubahan perilaku, Saniya juga menyatakan kegiatan ini juga dimaksud sebagai upaya adanya perubahan perilaku melalui media digital maupun media sosial.

 

Karena menjadi wahana kampanye perubahan perilaku, maka Jaka Dwisana dari Dinas Pasar Angkruksari menyampaikan adanya beberapa kebiasaan baru yang mulai diberlakukan di pintu masuk pasar.

“Adanya sarana tempat cuci tangan pakai sabun, dipahamkan tentang upaya menjaga jarak, maupun penggunaan masker secara benar.” Begitu Jaka Dwisana menuturkan harapannya melalui media kit yang disediakan sebagai sarana untuk pengingat protokol kesehatan.

 

Beda penanganan pada pasar dan terminal, tentu beda pula kampanye yang digunakan sebagai sarana perubahan perilaku bagi lingkungan pendidkan. Diwakili Adib Kurniawan, S.Pd, dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Sleman, maka materi yang disampaikan berupa school of Five.

“Yakni sebuah pendekatan yang dilakukan dengan melibatkan siswa dan guru melalui bekal pengetahuan, membuat komitmen bersama, penguatan melalui pelatihan dokter kecil sebagai role model, apresiasi melalui stiker, sertifikat maupun trofi. Harapan kita dengan meningkatnya pengetahuan, motivasi dan rasa percaya diri makin tumbuh melalui penerapan 3 M.” Demikian Adib yang dalam keseharian mengampu sebagai guru UKS MIN 2 Sleman.[]

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.