Lompat ke isi utama
Nabila saat mewawancarai seorang difabel netra

Pandemik - Perempuan Difabel Harus Bagaimana?

Perempuan difabel menjadi sosok paling rentan pasca pandemik Covid – 19. Mereka sering dijadikan sasaran kekerasan rumah tangga, kekerasan seksual, hingga rentan terhadap pengabaian pemerintah. Namun dibalik kerentanan itu semua, perempuan difabel mampu berkontribusi membuat keadaan lebih baik pada saat pandemi terjadi.

 

olider.id, Makassar -  Tahun ini adalah tahun kedua dengan covid-19 di Indonesia. Sejak datangnya pada pertengahan Maret 2020, pandemi covid-19 telah merenggut banyak korban jiwa. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 hingga Kamis (22/7/2021) pukul 12.00 WIB menunjukkan, ada penambahan 49.509 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini terdapat 3.033.339 kasus sejak 2 Maret 2020. Beberapa daerah dengan jumlah kasus covid-19 tertinggi saat ini melakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Ini ditujukan agar masyarakat lebih memperketat protokol kesehatan (protkes), lebih menjaga jarak, dan lebih membatasi kegiatan di luar rumah.

 

Jawa Barat menjadi daerah dengan kasus harian positif Covid-19 tertinggi dengan 10.499 kasus. Di urutan kedua, DKI Jakarta melaporkan penambahan sebanyak 7.058 kasus.

 

Kemudian Jawa Timur di urutan ketiga dengan 6.625 kasus, disusul Jawa Tengah 5.371, Banten 3.333 kasus. Lalu D.I. Yogyakarta dengan 1.978 kasus, Kalimantan Timur 1.952, Bali 1.250 dan Sumatera Utara 1.235.

 

Setiap hari, bukannya menurun dan akhirnya bebas corona, Indonesia malah makin dibanjiri kasus positif corona. Jumlah pasien positif covid-19 setiap harinya kian bertambah, dan sudah ada beberapa rumah sakit yang mulai penuh dengan pasien. Ini menunjukkan bahwa corona virus bukan hal yang bisa disepelekan dan langkah pemerintah untuk menerapkan PPKM di sejumlah daerah adalah langkah yang tepat.

 

Seperti namanya, PPKM atau pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat adalah cara yang diharap bisa menekan laju peningkatan pasien covid di Indonesia. Segala kegiatan masyarakat, kecuali kegiatan yang krusial mulai dibatasi. Di Makassar sendiri, mall dan toko-toko hanya terbuka hingga sore hari. Malam hari jalanan sudah tidak ramai seperti biasa, dan toko-toko sudah tutup. Sebagian toko masih melayani delivery makanan di malam hari.

 

Di samping jumlah pasien yang melonjak dan PPKM yang diharap bisa menekan laju peningkatan positif corona virus, apakah nasib perempuan difabel sempat untuk dipikirkan? Apa yang mereka lakukan saat suami tidak mendapatkan pekerjaan, sementara tabungan sudah kering terkuras satu tahun belakangan?

 

Baca Juga: Pandemi Terus Berlarut, Peran Perempuan Difabel Penting untuk Hidup Terus Berlanjut

 

Perempuan difabel adalah salah satu kelompok rentan di Indonesia. Saat pandemic terjadi, kerentanan perempuan difabel bertambah berlipat-lipat. Perempuan difabel rentan terhadap kekerasan rumah tangga, rentan terhadap kekerasan seksual, rentan terhadap kondisi tidak mampu bekerja, rentan terhadap kondisi kelaparan, rentan terhadap pengabaian pemerintah dan sebagainya. Pandemik, perempuan difabel harus bagaimana?

 

Ini adalah tahun-tahun berat dan siapapun kita merasakan kedukaan itu secara bersamaan. Kerabat yang satu persatu meninggal dunia, pekerjaan yang semakin sulit didapatkan, harga pangan yang tidak murah, bantuan langsung tunai yang tidak terbagi secara menyeluruh, dan segudang musibah lain yang sedang menimpa. Sebagai perempuan difabel, kita bisa melakukan beberapa hal untuk melindungi diri dan keluarga dari pandemik covid-19.

 

Yang pertama, memakai masker setiap kali bepergian. Usahakan memakai masker dua lapis agar benar-benar terlindung dari covid-19. Ingatkan adik, kakak, orang tua, orang-orang di rumah, atau suami dan anak-anak jika sudah menikah untuk memakai masker saat ingin bepergian. Jangan menyentuh sembarangan barang di luar rumah, menjaga jarak dengan orang yang tidak kita kenali dan tidak kita ketahui aktivitasnya sehari-hari, dan tetaplah di rumah jika tak ada urusan mendesak di luar rumah. Manfaatkan teknologi untuk mencari tambahan pendapatan. Menjual online dengan metode posting di media sosial, atau menulis di platform berbayar bisa menjadi pilihan yang baik. Melakukan pekerjaan apa saja yang kita bisa kerjakan, dan baik untuk diri sendiri bukan hal yang buruk.

 

Baca Juga: Perempuan Difabel sangat Terdampak Pandemi Covid - 19

 

Di rumah, selalu ingatkan anggota keluarga untuk mandi dan meletakkan pakaian kotor setelah digunakan pada mesin cuci atau baskom cucian setelah bepergian. Kita sebisa mungkin bisa menghidangkan makanan-makanan dengan vitamin tinggi di rumah. Sayuran dan buah-buahan bisa menjadi pilihan yang tepat. Hindari makan makanan tidak bergizi seperti makanan cepat saji, makanan instan, dan makanan berminyak. Selain itu, meminum sesendok madu setiap pagi dan malam hari bisa menambah kekebalan tubuh.

 

Hampir semua orang mengalami ketidak stabilan emosi di masa pandemik begini. Di rumah sepanjang hari, tidak memiliki banyak kegiatan, dan tidak bertemu dunia luar kadang kala membuat orang stres. Sebagai perempuan, ibu, kakak, dan istri kita bisa berfungsi banyak dalam membangun suasana rumah yang tenang pun nyaman. Kita harus mencintai diri sendiri, menghargai diri sendiri, untuk mulai membahagiakan anggota keluarga lain. Selalulah percaya bahwa kita bisa, kita kuat, dan kita berharga agar tetap bahagia menjalani hari.

 

Karena kita adalah perempuan yang kuat, yang memiliki peran besar untuk menuntun bangsa ini keluar dari pandemik dengan keadaan baik-baik saja. Kita harus mengingatkan seluruh anggota keluarga untuk selalu menerapkan protocol kesehatan, dan selalu menjaga kesehatan. Kita adalah perempuan-perempuan kuat yang dibutuhkan di dalam keluarga. Dari sekarang, mulailah melakukan hal-hal kecil untuk dampak yang sangat besar di hari kemudian.[]

 

Penulis: Nabila May

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.