Lompat ke isi utama
ujian terbuka doktoral bahas isu difabel

Riset Mengenai Difabel: Bagaimana Seharusnya?

Solider.id – isu difabel sebagai sesuatu yang dianggap belum banyak orang mengetahuinya seringkali memikat para akademisi dan peneliti untuk mendalami dan melakukan penelitian terhadapnya. Banyak lembaga dan organisasi difabel pada suatu ketika dibanjiri olah proposal penelitian yang ingin menjadikan difabel sebagai kajian. Lalu benarkah berbagai penelitian tersebut sudah dijalankan dengan sudut pandang dan cara yang tepat?

 

Ro’fah dalam sebuah diskusi online belum lama ini  menceritakan, Dari pengalamannya membimbing puluhan skripsi, thesis, dan disertasi (S3), dirinya kerapkali menjumpai gambaran tentang difabel yang tidak tepat. Hal ini karena informasi itu di dapat dari karya akademik (buku atau artikel di dalam jurnal), maka informasi itu dianggap benar dan terus dikutip.

 

Salah satu diskripsi yang tidak tepat mengenai difabel, biasanya dijumpai ketika peneliti menggambarkan karakteristik atau ciri-ciri difabel yang cenderung menstigmatisasi. Misalnya saja, difabel netra kerap digambarkan sebagai individu yang memiliki kecurigaan terhadap orang lain, mempunyai Perasaan mudah tersinggung, dan memiliki Ketergantungan berlebihan. Sama halnya dengan difabel netra, difabel Tuli juga sering dideskripsikan sebagai seseorang yang memliki Pergaulan terbatas, sukar menyesuaikan diri, cepat marah, dan mudah tersinggung. Tidak jauh berbeda, individu dengan autis juga kerap dilabeli sebagai seseorang yang asyik main sendiri,  acuh terhadap lingkungan, dan memiliki gangguan dalam tingkah laku.

 

Riset yang menghasilkan cara pandang yang tidak tepat terhadap difabel tersebut, memicu kritik dari para akademisi asal Inggris yang memperkenalkan konsep social model of disability. Akademisi seperti Colin Barnes, Mike Oliver, dan Tom Shakespeare menuding munculnya pandangan yang tidak tepat terhadap difabel dalam produk riset, disebabkan karena para peneliti masih menggunakan perspektif medical model of disability. Alih-alih melihat isu difabel sebagai isu sosial, konsepsi medical model of disability justru melokalisasi isu difabel sebagai permasalahan individual. Padahal, hambatan yang dialami oleh difabel, seringkali hadir karena hambatan sosial yang diciptakan oleh masyarakat. Oleh karenanya, Ro’fah menyarankan kepada para periset yang hendak meneliti isu difabel untuk merujuk pada akademisi yang berpegang pada konsepsi social model of disability seperti Colin Barnes, Mike Oliver, dan Tom Shakespeare.

 

Ro’fah melanjutkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peneliti yang akan meriset isu difabel. pertama, para peneliti harus berpegang pada konsepsi social model of disability. Konseptualisasi ini mesti dijadikan kerangka dasar penelitian.

 

Kedua, penelitian yang dikerjakan harus bersifat memberdayakan, alih-alih hanya bertujuan memenuhi rasa ingin tahu. Sederhananya, sebuah penelitian harus memberikan dampak positif dan memberi manfaat kepada difabel.

 

Ketiga, political standpoint juga perlu dimiliki oleh peeliti yang akan meneliti isu difabel. artinya, seorang peneliti harus mempunyai keberpihakan terhadap isu difabel. Hal ini lazim, ketika seorang peneliti melakukan penelitian tentang isu-isu marjinal.

 

Keempat, alih-alih menempatkan difabel hanya sebagai objek penelitian, difabel mesti diposisikan sebagai subjek. difabel dapat terlibat dalam proses penelitian. Hal ini menjadi penting, guna memastikan suara difabel dapat tersampaikan, dan keragaman difabel dapat terepresentasikan.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.