Lompat ke isi utama

Pandemi Terus Berlarut, Peran Perempuan Difabel Penting untuk Hidup Terus Berlanjut

Solider.id - Gerakan Peduli Disabilitas Dan Lepra Indonesia (GPDLI) mengadakan bincang santai secara daring melalui diskusi dengan tema “Peran Perempuan Dalam Menjaga Protokol Kesehatan dan Mentalitas Dalam Mendalami Covid 19 Selama PPKM.”

 

Membuka acara diskusi, Nuah Tarigan, ketua GPDLI dengan sebuah pesan, bahwa orang pertama yang paling berperan dalam kehidupan kita dan keluarga adalah perempuan, Ibu. Melalui acara diskusi yang dikemas dalam Virtual Kongkow (ngobrol santai), ia berharap tak ada lagi perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan seperti yang selama ini sering terjadi.

 

Hadir mengisi acara diskusi Yustitia Arif dari Audisi Foundation, komunitas yang melakukan advokasi dan pemberdayaan bagi beragam difabilitas untuk Indonesia inklusi dan berpusat di wilayah Banten. Hadir pula Luluk Ariyantiny, ketua Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo (PPDis), Isnal Dina dari Erkad, dan Bendahara GPDLI, Nieke Monika Khulsum.

 

Baca Juga: Perempuan Difabel sangat Terdampak Pandemi Covid - 19

 

Luluk Ariyantiny, aktifis difabel dari Situbondo tak keberatan bertukar pengalaman atas apa yang selama ini dilakukan oleh para perempuan (difabel) di Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo atau PPDis. Pihaknya banyak melakukan pendampingan bagi anggotannya yang lebih banyak tinggal di wilayah pedesaan.  PPDis telah berhasil merangkul tujuh desa untuk menjadi kelompok difabilitas dampingan.

“Di sini kami tak hanya melibatkan teman-teman difabel, tetapi mereka semua yang peduli dengan isu inklusi sosial yang memiliki komitment sama untuk mewujudkan desa inklusi. Karenanya kami melibatkan para kader desa, karang taruna, teman-teman putus sekolah, tokoh agama, hingga para perangkat desa.” Kata Luluk yang mengisahkan bahwa PPDis telah bergerak sejak 2012.

 

Bicara peran penting perempuan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitarnya, Luluk menceritakan, bagaimana para perempuan di desanya berusaha dan membiasakan diri untuk saling mengingatkan tentang kebiasaan baru yang harus mulai diterapkan. Seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, penggunaan masker, hingga melakukan kegiatan dari rumah untuk menghindari kerumunan.

 

Karenanya selama pandemi berlangsung, PPDis melakukan berbagai upaya agar anggotanya tetap bisa berkegiatan.

“Salah satu contohnya untuk ketahanan pangan, kami membagikan bibit sayur dan tanaman jangka panjang. Tetapi karena tidak semua mahir di bidang pertanian, beberapa ada yang gagal. Dan dengan melibatkan dinas terkait seperti dinas pertanian, dan menggandeng penyuluh desa, kami memberikan pelatihan menanam yang baik tanpa menggunakan pupuk kimia.”

 

Melalui upaya kegiatan ketahanan pangan inilah, PPDis berhasil membekali anggotanya dengan beragam aktivitas yang bisa dikerjakan sebagai usaha sampingan. Para ibu (difabel) yang bisa saling menguatkan, justru menjadi cara yang survive di tengah pandemi panjang. Bahkan bisa mendapat penghasilan tambahan.

”Sejak pandemi, teman-teman bisa mengubah usaha mereka dengan usaha yang lebih luas. Beberapa dari mereka bahkan bisa melakukan kerja sama dengan kelompok difabel lain di lintas desa.”

 

Luluk melanjutkan, karena bagaimanapun meski semua kegiatan dilakukan dari rumah, upaya yang diberikan PPDis sejak Juli tahun lalu telah memperlihatkan perkembangan.

“Hal ini sengaja kami lakukan agar stigma yang selama ini beredar bisa mulai dirubah. Dengan peningkatan kapasitas anggota, dalam hal ini ibu-ibu atau perempuan difabel, mereka bisa berbuat banyak, bahkan di masa pandemi tetap bisa melakukan peran aktif dan menjadi sosok penting bagi keluarga dan masyarakat.” Kata Luluk di pemungkas obrolan.  

 

Sementara itu, Yustitia Arif yang juga merupakan staff Angkie Yudistia menyarankan agar sebelum kita mengubah orang lain, maka yang terpenting adalah kita mengubah pola pikir kita.

“Mengubah pola pikir kita dan menunjukkan bahwa kita mampu, ini akan menjadi pembuktian dan menjadi resonansi bagi lingkungan.  Melalui sikap kita yang welcome, tidak mudah tersinggung, dan open minded, dari sini stigma tentang kita akan terhapus dengan sendirinya.” Menyampaikan pendapatnya sebagai seorang difabel daksa, Yustitia berkisah bahwa ia tetap bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah tangga yang baik, sebagai istri dan sebagai pengacara.

“Karena tidak semua orang bisa paham kemampuan kita sebagai difabel. Sehingga kita perlu mengedukasi mereka, kita buka pikiran mereka bahwa difabel bukan semata keterbatasan fisik semata, tetapi kondisi lingkungan atau sikap yang justru membuat seseorang menjadi difabel.” Ujar Yustitia kemudian.

“Dan untuk bisa melakukan peran yang setara dengan lainnya, difabilitas hanya memerlukan adanya dukungan dan kesempatan dari lingkungan.” Lanjut perempuan yang dengan perannya sebagai advokat, juga mulai melirik pengacara-pengacara muda untuk berbagi informasi seputar isu difabilitas.[]

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.