Lompat ke isi utama
Kiki saat bertugas menjadi MC di kantor Pemda Searang

Kiki Lovely, Usaha yang membuat Pemuda ini Belajar Mandiri

Muhammad Arif Taufiqurrahman, pemuda difabel intelektual yang punya segudang bakat dan potensi, melalui usaha yang dirintisnya, Kiki Lovely, Pemuda ini belajar untuk dapat mandiri

 

 Solider.id, Semarang  -   Setelah 18 tahun menanti hadirnya seorang momongan, tepat di Semarang, 7 Mei 1999, lahir Muhammad Arif Taufiqurrahman, sebagai nama yang disematkan. Kiki, begitu ia biasa mendapat sapaan. Putra tunggal dari pasangan Asmono (almarhum) dan Sinem (60 tahun). Menjadi anak semata wayang bagi kedua orangtua tentu membuat Kiki berlimpah kasih sayang. Namun itu tak membuat Kiki tumbuh dengan sifat manja atau kolokan. Ditinggal Ayah berpulang saat masih  TK, Sinem mendidik Kiki dengan polos dan ketulusan. Maka tumbuhlah Kiki menjadi pemuda yang penuh perhatian, mudah akrab dan merangkul teman dalam rasa kekeluargaan. Kiki merupakan remaja difabel psikossial down syndrome yang sehari-hari aktif di komunitas difabel kota ini.

 

Terbiasa mandiri, Kiki kini mengelola usaha yang ia jalankan bersama ibunya dengan branding “KIKI LOVELY”.

“Menjual telur asin rempah dan bacem. Kalau dapat uang, uangnya ditabung mau buat belajar nyopir.” Begitu Kiki mengisahkan jenis usaha yang ia lakukan. Lagi-lagi senyumnya tak ketinggalan sambil mengatakan keinginannya untuk belajar setir mobil.

 

Kemudian dengan terbata cerita Kiki mengalir pelan. Sambil mengingat langkah-langkah yang ia lakukan, suara cadelnya Kiki mengurutkan.

“Telur dicuci satu-satu. Lalu membuat bumbu. Terus air dan bumbu diaduk jadi satu. Terus telur bersih dimasukkan. Wis. Ngono thok....” Tersenyum lebar, Kiki dengan lancar menyampaikan proses membuat telur asin yang hampir dua tahun ini  dia jalankan.

 

Satu demi satu jenis bumbu yang digunakan dengan mudah ia sebutkan. Garam, jahe, cabai  dan bawang putih. Beranjak ke dapur ia menyiapkan alu dan lumpang. Mengambil wadah garam dan beberapa perlengkapan, Kiki membawa serta baskom dan sendok sayur sebagai tambahan. Tak hendak pameran. Ini waktunya Kiki menyiapkan tugas rutin yang telah biasa ia kerjakan. Di pojok meja makan, lima lapis tray, berisi telur bebek mentah telah siap ia bersihkan. (Satu tray berisi 30 butir telur). Sesekali tugas Kiki membersihkan telur masih dibantu Ibunya karena kadang tugas Kiki membersihkan telur masih belepotan.

 

Baca Juga: Pemuda Difabel yang Khusyuk Bermusik

 

Dari empat jenis bumbu yang disiapkan, Kiki mulai membersihkan jahe dan cabai merah, mengupas bawang, hingga mencucinya dan menumbuk dalam lumpang. Tidak perlu halus, hanya sekedar mencincang. Sesekali terlihat tangan Kiki bergantian dari tangan kiri ke tangan kanan. Wajahnya polos kekanakan. Tersenyum memperlihatkan sederatan giginya yang hilang, kadang Kiki berkeluh kecapekan. Tapi dengan tegas penuh kelembutan, sang Ibu akan mengingatkan Kiki yang masih suka bercanda dan malas-malasan.

“Dalam satu minggu saya menyiapkan sekitar 150 butir telur bebek untuk dibuat telur asin rempah. Tempe dan tahu untuk dibuat bacem saya siapkan sekitar masing-masing 50 potong untuk sehari. Hanya saja kami membuat bacem seminggu dua kali, hari Senin dan Rabu, jadi tidak setiap hari.” Ujar Sinem. Ia melanjutkan  bahwa usaha jualan telur asin yang mereka lakukan awalnya hanya untuk mengisi kesibukan dan mengajari Kiki untuk menambah keterampilan.

 

Bermodal sekitar 480 ribu untuk belanja telur, Sinem menceritakan kadang hasil yang didapat tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan. Sering dalam perjalanan pulang telur pecah sekitar 15 hingga 20 butir. Belum lagi setelah proses perendaman hingga matang.

“Itu belum nanti kalau sudah matang sama Kiki akan dibagi pada teman-teman. Tidak untuk kami jual. Lagian Kiki senang berbagi, maksudnya supaya teman-teman bisa ikut merasakan.” Nada puas terlihat jelas di binar mata Sinem.   

“Memiliki banyak teman yang sayang sama Kiki, saya hanya bisa berharap agar Kiki bisa mandiri dan mempunyai penghasilan. Bagi saya itu sudah cukup untuk menjadi bekal buat Kiki menyiapkan masa depan.”

 

Asa sederhana yang diharapkan Sinem mengingat Kiki anak semata wayang. Lalu Sinem juga menceritakan saat pernah mendapat pesanan langsung 200 butir telur asin bumbu rempah dari Gubernur Jawa Tengah. Satu butir telur asin bumbu rempah laku ditawarkan dengan harga 5000 rupiah.

 

Perempuan yang dalam keseharian masih bekerja di Dinas Pasar Prembaen ini, tak segan mengantar Kiki kemanapun dia harus ikut kegiatan dari pagi hingga petang. Saat ini, Kiki aktif di dua komunitas, ia mengasah bakatnya dalam bidang olah kata. Berlatih menyanyi dan belajar Master of Ceremony membantu Kiki menambah keterampilan berbahasa.

“Pengen kaya Kak Odi, mau jadi MC.” Begitu jawab Kiki setiap ditanya tentang cita-cita yang ingin dia wujudkan. Kak Odi adalah mentor Kiki dalam kelas Public Speaking dan Master of Ceremony di Komunitas Sahabat Difabel. Sementara untuk kelas menyanyi Kiki tekun melatih potensi di Bina Bunda Sahabat Disabilitas.

 

 Kiki juga telah dua kali dipercaya menjadi MC dalam kegiatan komunitas yang ia ikuti. Yakni MC untuk acara “Ramadhan Berbagi” bersama Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, dan menjadi MC dalam acara Ngobrol Pintar secara virtual berjudul “Difabel Berani Vaksin”, bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang.

 

Menjajal kemampuan dengan mengasah keterampilan di bidang seni musik, Kiki juga lihai menggebuk drum. Ikut terlibat dalam “75 Drummer Merdeka” dalam acara HUT Kemerdekaan RI ke 75 bersama Gilang Ramadhan Studio, Kiki juga mencoba ikut serta dalam acara Home Concert Rhythm Therapy yang digelar oleh GRSB Gilang Ramadhan Solo, dalam rangka Hari  Pahlawan dengan tema “My Parents My Hero”.

 

Selain seabrek kegiatan yang ia tekuni tersbut, ia juga memiliki hobi memfoto. Biasanya, Kiki senang memotret objek dengan menggunakan HP miliknya.

 

Menamatkan sekolah sejak TK hingga SMA di YPAC Semarang, lalu bergabung dengan komunitas untuk memperdalam keterampilan dan memperbanyak teman, Kiki adalah sosok yang menyenangkan. Meski terkesan pendiam, Kiki selalu nyambung bila dilibatkan dalam obrolan. Hanya sesekali kalimat yang disampaikan Kiki masih terbolak-balik, perlu bantuan untuk dikoreksi ulang. Namun Kiki selalu paham dengan isi percakapan. Kadang kata perkata, Kiki masih mengalami kesulitan untuk mengucapkan. Apalagi bila istilah tersebut merupakan bahasa yang baru saja dia dengarkan. Berkat pelatihan yang diikuti di kelas Public Speaking Kiki mengasah bahasa dan berhasil menambah kosa kata.

“Dulu sama orang-orang dia itu dikira tidak bisa bicara karena lebih banyak tersenyum dan diam.” Sambil tersenyum Sinem menuturkan dari rumah mereka, di Jalan Kalialang Baru Rt 01 Rw 07 N0. 14, Sukorejo, Gunungpati, Semarang.

 

Harapan baru terus ditumbuhkan Sinem dalam membimbing Kiki menyiapkan masa depan. Mengurus izin usaha untuk berjualan telah mereka kantongi, hingga Sinem tak perlu khawatir lagi. Kini Kiki pun telah fasih berjualan. Tak pernah malu  menawarkan pada teman-teman, bahkan pada setiap orang yang ia dapatkan. Dengan keramahan ia akan mengatakan,

“Aku panen telur asin lho. Siapa mau beli telpon nomor 081327002258.” Pungkas Kiki menutup obrolan dengan senyum mengembang.[]

 

Reeporter:  Yanti

Editor       : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.