Lompat ke isi utama
pemaparan tetang difabel psikososial

Pentingnya Dukungan Keluarga bagi Difabel Psikososial saat Terapi Farmakologi

Solider.id, Surakarta -Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa berat (psikotik) yang bersifat kronis. Penyebabnya adalah multifaktor (biologis, psikologis, sosial) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan neurokimia di otak. Skizofrenia adalah suatu kondisi yang membuat seseorang menjadi terganggu fungsi kehidupan dan sosialnya. Hal ini mengakibatkan mereka  menjadi tidak produktif di masyarakat. Demikian penjelasan dari dr. Rina Sugiyanti Sp.KJ dalam webinar Selaras Nyawiji seri 2 bertema pengobatan dan perawatan skizofrenia, Minggu (25/7). 

 

Dalam Undang-Undang nomor 8 tahun 2016, Orang Dengan Skizofrenia (ODS) masuk kategori disabilitas mental atau dalam isu gerakan difabilitas disebut difabel psikososial. Gejala yang sering terdapat pada ODS diantaranya adanya waham atau keyakinan ‘aneh’ yang salah dan tidak sesuai dengan kenyataan, juga ada kekacauan pembicaraan dan perilaku yakni bicara tidak nyambung, perilaku menyerang, mematung, dan lainnya. Juga mengalami halusinasi yakni gangguan persepsi panca indera tanpa stimulus contohnya : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sedangkan gejala negatif ditunjukkan dengan ekspresi wajah datar, menarik diri, sulit merasakan kesenangan, dan miskin pembicaraan. Jika gejala ini menetap minimal sebulan disertai tidak adanya fungsi sehari-hari terkait akademik, pekerjaan, relasi,dan perawatan diri, maka diagnosa harus ditegakkan.

 

Lalu apakah ODS harus minum obat terus-menerus? Rina Sugiyanti (Psikiatri) menerangkan bahwa menurut penelitian,  25% membutuhkan pengobatan seumur hidup, dengan gejala stabil dan dapat berfungsi lagi kehidupannya baik personal maupun sosial, 50% mengalami pulih, kambuh dan berulang sebagai representasi dari pengobatan yang tidak tuntas, stresor berulang, lingkungan tidak kondusif, respon obat kurang baik dan fungsi terbatas, serta 25% mengalami kesembuhan dengan deteksi dan penanganan dini (cepat dibawa berobat) dan fungsi kembali normal.

 

Beberapa hal memengaruhi diagnosis, prognosis, dan perjalanan penyakit di antaranya faktor biologis yakni riwayat keluarga, faktor psikologis yakni perkembangan emosi dan kepribadian yang tidak dewasa, dan faktor sosial karena keterbatasan ekonomi. Riwayat keluarga akan memengaruhi respon terapi yang baik. Sumber dukungan selain keluarga adalah komunitas dan adanya keyakinan atau keimanan.Keterbatasan ekonomi berpengaruh ketika ODS tidak dapat hadir dalam sesi terapi karena tidak ada yang mengantar.

 

Rina menyampaikan pula tantangan dalam pengobatan skizofrenia yakni stigma gangguan jiwa, dukungan lingkungan dan keluarga, kurangnya kepatuhan terapi dan obat-obatan yang tersedia di fasilitas kesehatan. Stigma skizofrenia lebih besar dari stigma depresi, bipolar, dan penyalahgunaan obat terlarang. Secara fenomena sosial, stigma ini dialami oleh ODS dan caregiver (pendamping). Stigma ini memperoleh kelaziman di masyarakat awam. “dan ada sebuah keluarga yang lebih memilih status pasien karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang daripada status sebagai seorang dengan skizofrenia,” terang Rina.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.