Lompat ke isi utama

Cerita dari Para Difabel Penyintas Covid-19

Solider.id - Muhammad Fahmi Husein adalah seorang penyandang Duchenne Muscular Dystrophy (DMD). Hal itu membuatnya menjadi seorang difabel, karena penyakit itu melemahkan otot. Hanya telapak kaki dan tangannya yang dapat digerakan. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, ia selalu membutuhkan asistensi khusus.

 

Suatu ketika diakhir 2020, ia harus terpapar Covid-19, bersama dua anggota keluarga yang lain, yakni Ibu dan adiknya. Ia sendiri tak paham mengapa dirinya dapat terpapar Covid-19, karena dalam kesehariannya ia selalu mematuhi protocol kesehatan seperti menggunakan masker dan rutin membersihkan diri. Namun, dugaan terbesarnya, ia terpapar dari ibunya, yang sebelumnya bepergian untuk keperluan tertentu.

 

Fahmi menjelaskan, bahwa tiba-tiba ia merasakan gejala Covid-19 seperti kehilangan kemampuan penciuman dan indera perasa. Singkat cerita, ia kemudian melakukan swab tes PCR, dan hasilnya positif. Begitu juga dengan ibu dan adiknya, yang mendapatkan hasil serupa.

 

Alhasil, Fahmi, ibu dan adiknya wajib melakukan isolasi mandiri. Selama menjalani isolasi mandiri, Fahmi mendapatkan asistensi dari ibunya yang juga terpapar Covid-19. Jika ibunya tidak turut terpapar covid-19, Fahmi pun tak mengetahui bagaimana nantinya pemberian asistensi baginya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, karena sang ibu pun juga terpapar Covid-19 bersama dirinya, aktivitas selama isolasi mandiri pun menjadi lebih mudah karena kehidupan berjalan seperti seperti biasanya, dimana ibunya sering menjadi asistennya.

 

Baca Juga: Menjadi Tuli Positif Covid-19, Hafidh Takut Semakin Terstigma

 

Fahmi menceritakan, bahwa rumahnya harus diberi pembatas, guna keperluan melakukan isolasi mandiri. Keluarga yang tidak terpapar covid-19 ada di satu sisi, sementara sisi yang lain digunakan untuk isolasi mandiri. Fahmi melakukan isolasi mandiri selama lebih dari 14 hari. Pasca negatif dari Covid-19 pun, dampak dari virus tersebut tak serta merta hilang. Hingga kini, Fahmi masih merasakan gangguan pada paru-parunya. Sehingga, sampai sekarang, ia masih melakukan control secara rutin ke rumah sakit.

 

Pengalaman terpapar Covid-19 juga diceritakan oleh Ali Afandi, seorang difabel netra yang tinggal di Yogyakarta. Ali begitu ia akrap disapa, menceritakan pengalamannya menjadi penyintas Covid-19 melalui sambungan telepon pada 25/03/2021. Ali terpapar Covid-19 karena bepergian keluar kota menjelang pergantian tahun. Setibanya di Yogyakarta, ia kemudian merasakan gejala Covid-19, yakni kehilangan indra penciuman.

 

Ali telah berpikir, bahwa ia terpapar Covid-19, karena dirinya barusaja bepergian keluar kota. Singkat cerita, ia melakukan swab tes PCR di Puskesmas, dan hasilnya pun positif. Beruntungnya, meskipun ia bepergian keluar kota bersama keluarganya, hanya ia yang dinyatakan positif Covid-19.

 

Ia pun kemudian melakukan isolasi mandiri dirumahnya. Dirumahnya, disiapkan satu kamar untuk Ali. Ali melakukan isolasi mandiri selama lebih dari 14 hari. Ketika melakukan isolasi mandiri, ia tidak berinteraksi dengan anggota keluarganya. Ia mengurung diri di kamar. Bahkan kamar mandi yang digunakannya, setiap hari harus disemprot dengan disinfektan.

 

Setelah dinyatakan negatif dari Covid-19 pun, dampak dari virus tersebut tak lantas hilang. Kemampuan penciumannya tak lekas kembali normal. Perlu waktu lebih dari sebulan untuk mengembalikan kemampuan penciumannya. Diawal Maret 2021, kemampuan penciuman Ali baru kembali sepenuhnya.

 

Virus Covid – 19 masih mengancam kehidupan kita. Menjalankan protocol kesehatan dan mengusahakan program vaksinasi yang mudah dan dapat dijangkau oleh difabel adalah hal-hal yang bias dilakukan untuk mengurangi mata rantai penyebaran Covid – 19. Beberapa cerita penyintas Covid – 19 menjadi bukti bahwa virus ini sangat mungkin menyerang siapapun dan akhirnya membawa dampak pada stabilitas kesehatan mereka, []

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.