Lompat ke isi utama

LPDS Sampaikan Literasi Digital dan Pengumuman Lomba Menulis tentang Difabel

Solider.id - Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) mengadakan perlombaan menulis dengan tema Menggali Potensi Mengukir Karya. Kegiatan   diadakan untuk tiga kategori. Kategori wartawan/jurnalis, kategori disabilitas, dan kategori umum. Ada lebih dari tiga puluh juta total hadiah untuk para pemenang. Di setiap kategori ada masing-masing satu pemenang yang akan mendapat predikat  masing –masing yang terdiri dari juara satu,  juara dua, dan masing-masing satu juara tiga.

 

Perlombaan menulis ini dibuka untuk umum tanpa batasan usia. Pengumuman lomba sendiri diadakan bertepatan dengan hari ulang tahun LPDS ke 33 tahun. Yang dirayakan via zoom, Jumat, 23 Juli 2021 pada webinar bertajuk Media dan Disabilitas.

 

Webinar itu menghadirkan Dr.(H.C).Ir.Tri Rismaharini, M.T., (Menteri Sosial) dan Prof.Dr.Ir.K.H. Mohammad NUH, DEA (Ketua Dewan Pers) sebagai keynote speech. Serta menghadirkan narasumber yang meliputi Wili Yatno, Senny Marbun, Cheta Nilawati (wartawan tempo), Nicky Clara (founder Berdaya Bareng).

 

Baca Juga: HUT LPDS Ajak Media Ubah Cara Pandang Isu Difabel

 

Acara berjalan hikmat dan semarak, bersama moderator Cory Olivia yang mampu membuat partisipan di dalam room Zoom tidak bosan. Pada sore hari itu kebetulan Dr.(H.C).Ir.Tri Rismaharini, M.T tidak bisa hadir dikarenakan acara mendadak. Ini diketahui dari Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat yang mewakili beliau.

“Penyandang disabilitas yang memanfaatkan internet di Indonesia adalah 5%, sementara ada 45% masyarakat non disabilitas yang bisa mengakses internet. Ini adalah bentuk ketimpangan yang nyata. Oleh karena itu, upaya penanggulangan ketimpangan ini perlu kita lakukan dengan cara sosialisasi digital. Penyadaran masyarakat tentang pentingnya disabilitas mengakses internet juga perlu dilakukan. Agar penyandang disabilitas bisa lebih melek teknologi. Media sosial juga memiliki peran untuk menyampaikan berita kepada masyarakat. Artinya, ini menunjukkan bahwa media sosial sebagai bagian dari media massa bisa mengambil peran di masyarakat dalam penyajian berita. Saat ini kondisi disabilitas di media menghadirkan hal-hal yang kurang seharusnya. Misalnya, berbau negatif hingga membuat disabilitas di Indonesia terkena stigma. Maka oleh diskusi, dialog, dan seluruh kegiatan yang dilakukan lembaga pers sangat diapresiasi oleh pemerintah. Karena lembaga pers telah memedulikan disabilitas, dengan menghadirkan pedoman penyiaran penyandang disabilitas,” ungkap Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Harry Hikmat (23/07/2021).

 

“Harapan kami media masa terus mendorong inklusifitas terhadap disabilitas, dan membantu untuk menghilangkan diskriminasi. Dan terutama untuk menghilangkan dan menghentikan penyiaran berlebihan terhadap disabilitas. Semoga kedepannya hak disabilitas semakin terpenuhi, termasuk hak untuk mendapat pemberitaan yang akses dari media massa,” lanjut Harry Hikmat.

 

Selain Harry Hikmat, hadir pula Prof.Dr.Ir.K.H. Mohammad Nuh, Dea (Ketua Dewan Pers. Ia menyampaikan banyak hal terkait difabel dan hubungannya dengan media. Ia juga menguraikan banyak opininya, sebagai ketua dewan pers, tentang bagaimana menurut beliau difabel seharusnya digambarkan dalam suatu pemberitaan media massa.

“Dari sisi penyebutan, kita menyebutnya cacat. Oleh karena itu dulu ada sekolah anak-anak cacat. Itu sekarang berubah, menjadi disabilitas. Kami waktu di kemendikbud menyebutnya berkebutuhan khusus. Meskipun di undang-undang disebut disabilitas, tetapi saya lebih suka menyebut mereka berkebutuhan khusus. Kenapa? Karena dis itu artinya tidak baik, artinya negatif, artinya sesuatu yang berkekurangan. Misalnya information, dan dis information. Oleh karena itu, izinkan saya menggunakan istilah berkebutuhan khusus. Karena masing-masing orang tidak ada yang negatif, tidak ada yang kurang. Masing-masing utuh,” ujar ketua dewan pers tersebut (23/07/2021).

 

Webinar ini kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang lomba menulis yang diadakan LPDS. Harapannya, dengan terlaksananya webinar dan perlombaan menulis yang mengangkat tema difabel ini, akan semakin banyak wartawan dan jurnalis yang menggambarkan difabel secara layak di media. Dan menyajikan beritanya juga dengan bentuk yang bisa diakses oleh difabel , seperti apa yang sempat juga dijelaskan Ceta sebagai salah satu narasumber yang merupakan difabel netra sekaligus wartawan tempo. Seperti yang kita ketahui, sekarang sudah ada sebagian media yang peduli pada isu-isu difabel, dan membuat website mereka ramah difabel. Sudah banyak juga terlahir wartawan-wartawan difabel, yang diharapkan bisa menggambarkan disabilitas secara real dan tanpa dilebih-lebihkan. Tetapi fakta bahwa media masih sering mengangkat kisah pilu dan melebih-lebihkan derita difabel, juga tidak bisa ditutupi.[]

 

Penuls : Nabila

editor   : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.