Lompat ke isi utama
Joni Yulianto dalam webinar kebencanaan

Kaji Kebutuhan Pascabencana harus Memperhatikan Difabel

Solider.id – Difabilitas kerap sekali tertinggal saat terjadi bencana, dari keterlibatan dalam relawan bencana maupun orang yang membutuhkan bantuan. Dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, Indonesia menggunakan metode Kaji Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna). Pada webinar yang diselenggarakan Senin (22/3) silam, membahas tentang Jitupasna yang inklusif.

 

Joni Yulianto, dewan pengawas Sigab menuturkan bahwa inklusi tidak boleh dilupakan dalam hal apapun karena kelompok rentan dimana difabel termasuk didalamnya adalah kelompok yang paling terdampak dalam situasi bencana.

“Di awal Covid kami melakukan asesmen sederhana, mungkin belum bisa dibilang Jitupasna, karena saat itu kami melakukan dengan cepat dan ingin segera mengetahui bagaimana covid berdampak pada difabel,” ujar Joni.

 

Dari asesmen tersebut, Joni mengungkapkan pelibatan organisasi difabel melahirkan satu persepsi baru yaitu difabel bisa melakukan sesuatu dan tidak hanya menunggu. Menurutnya, asesmen itu dapat membuat suatu pembelajaran bahwa difabel harus ikut terlibat dalam proses-proses kajian yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kepentingan difabel.

 

Baca Juga: Memberi Ruang Potensi Difabel dalam Mengurus Kebencanaan

 

Berkaitan dengan Jitupasna, dalam hal ini keberadaan dan keterlibatan kelompok rentan merupakan kunci yang tidak hanya dipertimbangkan namun juga difasilitasi, karena yang paling mengetahui akan dampak bencana adalah kelomok-kelompok yang terdampak ini.

“Seringkali atas nama kepraktisan, kemudahan, bahkan kajian ini sudah dibingkai menjadi program, kita seringkali membuat penyederhanaan dimana kelompok yang selama ini dianggap sulit dijangkau justru diambil keterwakilannya saja, yang akhirnya mereduksi banyak informasi. Kata kunci yang tepat untuk Jitupasna yang inklusif adalah harus memastikan menjangkau masyarakat yang terdampak, karena kita ingin melihat dampak yang direhabilitasi dan penyedia akses yang harus direkonstruksi,” ucapnya.

 

Ia sedikit menceritakan tentang konsolidasi saat Covid terjadi, hanya mengobrol via zoom yang diikuti oleh organisasi difabel dari berbagai daerah dan banyak informasi yang didapat, namun yang bisa berbagi disini hanya teman-teman difabel yang mempunyai akses sumberdaya cukup baik, sehingga tidak merepresentasikan situasi yang sebenarnya terhadap difabel. Kajian Jitupasna tidak hanya mengidentifikasi kerusakan atau dampak yang terjadi di masyarakat, akan tetapi Jitupasna mampu mengidentifikasi kapasitas-kapasitas yang hilang.

“Berbicara tentang inklusivitas, lebih banyaknya bukan yang sudah ada atau hilang, tapi dari yang tidak ada dan perlu dimiliki, karena ketika itu bisa diidentifikasi dengan baik rehabilitasi dan rekonstruksi perlu menuju kesana. Tidak mungkin bebicara tentang inklusi untuk kelompok rentan, ketika kemudian rehabilitasi dan rekonstruksi hanya berpijak pada hal yang tadinya ada dan perlu dikembalikan untuk menjadi ada,” ujarnya.

 

Reporteer: Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.