Lompat ke isi utama
Sri Sudarti saat diwawancarai oleh seorang mahasiswa peneliti. ( sumber foto : Fb)

Suka Duka Difabel Menjalani Perawatan Positif COVID-19

Solider.id - Sekitar pertengahan April 2021, Muhammad Ismail, pegiat difabel, yang bekerja sebagai staf SIGAB Indonesia menjalani perawatan di sebuah rumah sakit swasta di Surakarta setelah terkonfimasi positif COVID-19. Sekitar 2-3  hari sebelum swab, pertama kali waktu di rumah (Solo) ia mengalami  sedikit keluhan gatal tenggorokan ringan. Lalu ia pergi bekerja ke Yogya dan merasakan gejala makin berat di sana. Kemudian ia mengambil langkah pulang kembali ke Solo dengan kondisi batuk yang tertahankan disertai rasa kecemasan,  namun ia melakukan prokes ketat, bermasker, membersihkan tangan dengan handsanitizer sebab khawatir batuknya tersebar saat naik Comuter Line (KRL).

 

Setiba di Solo ia langsung periksa ke praktik dokter  dan meminta obat melalui fasilitas BPJS Kesehatan. Ismail  berpikir dirinya akan mendapat tindakan lanjutan yakni swab, namun ternyata hanya mendapat resep obat batuk. Siang harinya Ismail memberanikan diri mendaftar tes swab secara swadaya dan hasilnya positif. Ia lalu meminta anak laki-lainya untuk membantu melapor kepada Ketua RT setempat, lalu datang ke puskesmas. Pihak puskesmas kemudian meminta semua yang tinggal dalam rumah itu untuk melakukan swab secara gratis dan bagi semua anggota keluarga Ismail, yakni istri dan dua anaknya. Dari tes swab yang telah dilakukan,  diperoleh kabar bahwa hasilnya positif.

 

Setelah semua diperiksa kondisinya, hanya Ismail yang dianggap cukup berat gejalanya, maka oleh pihak puskesmas Ismail diantar ke rumah sakit dan menjalani perawatan lebih dari dua minggu. Sedangkan istri dan dua anaknya cukup melakukan isolasi mandiri di rumah.

 

Baca Juga: Isolasi Mandiri bagi Difabel Penyintas Covid – 19, Hambatan dan Tantangannya

 

Selama di rumah sakit, Ismail ditangani oleh dokter dan perawat. Ia juga masih melakukan aktivitas bekerja secara online, dan beberapa kali tampak terlibat aktif di ruang diskusi daring. Saat solider.id bertanya tentang hambatan apa yang dialaminya terkait komunikasi dengan petugas kesehatan oleh sebab kondisi Tuli? Ismail menjawab tidak ada masalah  karena perawat berkomunikasi menggunakan coretan di kertas. Di kemudian hari, Ismail menyiapkan media berupa buku tulis yang dikirim oleh kerabatnya.

 

Beda lagi pengalaman yang diungkapkan oleh Sri Sudarti, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Setda Surakarta sekaligus Ketua Pelaksana Harian Tim Advokasi Difabel (PH TAD) yang juga terkonfirmasi positif COVID-19. Dengan gejala yang dinilai ringan , Sri Sudarti setelah melapor ke puskesmas setempat kemudian diminta untuk menjalani karantina di Asrama Haji Donohudan. Sri Sudarti menolak sebab khawatir tempat karantina tersebut tidak akses bagi pengguna dua kruk  seperti dirinya. Kebetulan pendapatnya dikuatkan oleh Ketua RT setempat dan para relawan tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat Palang Merah Indonesia (SIBAT PMI) bahwa jika dengan gejala ringan, asal tetap melakukan komunikasi dengan puskesmas, maka lebih baik melakukan Isolasi Mandiri di rumah. Sri Sudarti telah mendapatkan dua kali vaksin Sinovac pada awal vaksin ini digulirkan bagi ASN/PNS dan petugas pelayanan publik.

 

Oleh kondisi difabilitasnya, Sri Sudarti kemudian berhasil mengubah perspektif para pemangku kebijakan di tingkat puskesmas, pegiat Jogo Tonggo dan satgas COVID-19 di kelurahan, dengan memberikan perhatian secara khusus kepadanya, selain mengirimkan obat-obatan dan vitamin yang ia perlukan. “Mereka jadi belajar apa itu difabilitas, dan bagaimana mobilitas seorang difabel seperti saya,”terang Sri Sudarti.

 

Kondisi isolasi mandiri di rumah juga membuat suami dan anak-anak yang tidak terpapar COVID-19, makin bertambah perhatian dengan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan melayaninya dengan tulus hati. Ia memberikan panduan kepada anak-anaknya dari kamar tempat isolasi.

 

Bagi difabel fisik polio seperti Sri Sudarti, menyandang status positif COVID-19 itu tidak enak, sebab menurutnya ia menanggung rasa sakit, apalagi ketika sekujur tubuhnya yakni di bagian tulang mengalami kesakitan karena linu. “Ini menyakitkan sekali, karena menurutku, tulang-tulang ini yang diserang,”tutur Sri Sudarti yang saat tulisan ini dibuat, tengah menjalani isoman hari ke-10.[] 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.