Lompat ke isi utama
tampilan toyota sienta welcab diambil dari youtube B Channel

Impresi Mahasiswa Difabel UGM Gunakan Toyota Sienta Welcab

Solider.id, Yogyakarta – pada bulan Agustus 2020 silam, perusahaan otomotif  Toyota Astra Motor mengeluarkan varian baru pada salah satu mobil yang mereka produksi. Toyota Sienta Welcab namanya. Mobil berjenis MPV Compact ini hadir untuk memenuhi kebutuhan pengguna mobil bagi lansia dan difabel yang ingin bermobilitas dan dengan  mudah kendaraan ini memiliki kursi yang fleksibel dan mempermudah difabel fisik. Toyota Sienta Welcab merupakan pengembangan dari Toyota Sienta Tipe V yang sudah hadir di pasaran otomotif Indonesia.

Berdasarkan ulasan oto.com, Toyota Sienta Welcab menawarkan  fleksibilitas tinggi.  Ia memiliki pintu geser yang dapat membuka lebar untuk masuk ke dalam. Pada tipe ini juga sudah tersedia pintu geser otomatis yang akan mempermudah kawan difabel mengaksesnya secara mandiri. Tentu hal ini akan mempermudah bagi pengguna difabel. Pada varian Welcab ini, memungkinkan bangku belakang berotasi mengarah ke luar, kemudian diturunkan secara elektris agar lebih mudah dicapai.

Kursi khusus hanya terletak di baris kedua sebelah kiri dengan kapasitas bobot maksimum 100 kg. Fitur ini merupakan produksi pabrikan alias genuine part. Lengkap dikombinasi sandaran tangan di sisi kanan, headrest, sandaran kaki, dan tentunya sabuk pengaman. Untuk mengaktifkan fitur welcab, pengguna cukup mengoperasikannya melalui remote yang terseedia dan atau mempergunakan aplikasi yang dapat diundah di ponsel pengguna kendaraan. Sementara dibagian baris ketiga, hanya terdapat satu kursi saja dengan harapan dapat mempermudah menyimpan kursi roda.   

 

Muhammad Fahmi Husaen, sebagai mahasiswa difabel UGM, berkesempatan untuk mencoba kendaraan difabel tersebut. Fahmi menjelaskan bahwa di kursi tengah sebelah kiri mobil terdapat kursi otomatis yang bisa digerakkan keluar sehingga akan memudahkan difabel daksa untuk mengaksesnya.   

 

Selain itu, Fahmi juga menceritakan pengalamannya menggunakan kendaraan tersebut dari UGM menuju rumahnya yang berada di Turi, Sleman. Menurutnya kendaraan itu tidak sepenuhnya aksesibel. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi penilaiannya terhadap kendaraan tersebut. Di antaranya, seperti desain mobil yang relatif minimalis menyebabkan tak banyak ruang di dalam mobil. Sehingga saat Fahmi ingin meletakkan kursi rodanya di bagian belakang, ia mengalami kesulitan karena bagian belakang tidak cukup luas untuk dapat menyimpan kursi roda.

 

“Walaupun sudah ada kursi otomatis, tapi setelah saya gunakan ternyata tidak cukup ergonomis. Bahkan legroom (ruang untuk kaki) tak cukup luas sehingga kaki saya terpaksa menekuk. Tentu jika perjalanan memakan waktu lama pasti akan menghambat gerakan kaki difabel yang duduk di situ. Serta ruang duduk yang relatif sempit akan sangat menyulitkan bagi difabel yang memiliki badan besar,” jabarnya.

 

Fahmi juga cukup menyayangkan hanya ada satu kursi yang bisa dioperasikan secara otomatis. Artinya, hanya satu orang difabel saja yang dapat mengakses kendaraan itu dengan mudah, sedangkan sisanya harus mengaksesnya seperti menaiki mobil pada umumnya.

 

“Meski begitu saya turut mengapresiasi adanya pabtikan otomotif yang mulai peduli dan secara defult menyediakan berbaga aksesibilitas bagi penggunanya” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.