Lompat ke isi utama
Deskripsi foto: diskusi santai di puncak Gunung Wedon bersama organisasi Pelestari Purbakala dan Budaya Indonesia (PPBI) Bekti Luhur.

Gerakan Inklusi Merawat Hutan di Gunung Wedon Malang

olider.id, Malang - Kesetaraan dalam konteks inklusi disabilitas, diantaranya ditandai dengan adanya pelibatan difabel di sektor apapun. Pelibatannya pun harus secara utuh dimulai dari proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga evaluasi. Teknis pelibatannya yang masih jamak terjadi adalah difabel dirangkul atau diajak untuk berperan aktif. Namun sudah berbeda yang terjadi di Malang, Jawa Timur, sekelompok anak muda difabel menjadi motor penggerak kegiatan sosial dan lingkungan hidup yang melibatkan warga masyarakat nondifabel.

 

Pagi yang cerah, sekira pukul 09.00 WIB, beberapa anak muda difabel berada di puncak Gunung Wedon. Tampak semangat masing-masing membawa arit, golok, dan cangkul. Nampak pula beberapa perempuan nondifabel anggota kader Posyandu Disabilitas. Ya, hari itu mereka mengadakan gotong royong pembersihan puncak sebuah bukit di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang yang berada di ketinggian sekira 660 mdpl.

 

Masing-masing anak muda itu diantaranya, Priyo Utomo seorang difabel fisik, lalu Kholil dan Erik, keduanya difabel netra, juga Elin, istri Kholil yang pula difabel netra. Pemuda lainnya Ezra, difabel mental akibat epilepsi, dan Dauji difabel intelektual, siswa SLB. Nampak pula Sumiati, perempuan tuli yang aktif memberikan pelajaran Bisindo di berbagai kesempatan. Tak ketinggalan Yudha, orang yang pernah mengalami kusta atau OYPMK.

“Nampaknya memang belum lazim bagi masyarakat luas, namun biasa bagi kami, kelompok difabel mengadakan kegiatan di alam liar yang sudah tentu jauh dari standar aksesibilitas,” tutur Sekjen Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS), Widi Sugiarti, Minggu, 18 Juli 2021 di Gunung Wedon.

 

Ini adalah kegiatan inisiasi, lanjut Widi sapaan akrabnya. Difabel merawat hutan dan gunung, yang kedepan juga harus melibatkan nondifabel atau masyarakat umum, khususnya penduduk sekitar. Perawatan lingkungan ini mendesak mengingat beberapa sisi gunung hutannya gundul dan mengalami longsor sehingga berbahaya bagi kampung di sekitarnya.

“Untuk perawatan hutan dan gunung ini telah disepakati bersama pihak Perhutani melalui Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Wonorejo, dan pemerintah desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang,” terang perempuan penyintas kesehatan jiwa itu.

 

Selain misi pelestarian lingkungan hidup, misi lainnya adalah hapus stigma dan  inklusifitas, tandas Widi. Hapus stigma bahwa kami memiliki beberapa divisi pelestari lingkungan, namanya Difabel Pecinta Alam atau Difpala, juga terdapat Sekolah Alam Gunung Wedon sebagai pusat pendidikan dan pelatihan difabel mendaki gunung, yang lulusannya tergabung dalam Timsus Pendaki Difabel.

 

Fokus Difpala saat ini melakukan penghijauan di Gunung Wedon, sedangkan Timsus Pendaki Difabel selain sukses mendaki jalur ekstrim Gunung Banyak (1.315 mdpl) Gunung Butak (2.868 mdpl), Gunung Kawi (2.603 mdpl), penjelahan Gunung Arjuno yang bulan Agustus nanti sampai di puncak Ogal Agil (3.339 mdpl), serta melakukan penanaman bibit pohon dan aksi pungut sampah di sepanjang jalur pendakian.

 

Baca Juga: Aksi Nyata Masyarakat Difabel Wujudkan Rasa Peduli Terhadap Alam

 

Aksi-aksi divisi pelestari lingkungan, dari sisi kemampuan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang terlatih serta siap fisik dan mental, tak lagi terpaku pada soal difabel dan nondifabel. Artinya warga masyarakat luas yang nondifabel sekalipun, belum tentu mampu melakukannya.

 

Kemudian misi berikutnya adalah inklusifitas, saatnya difabel melibatkan non difabel dalam kegiatannya. Masih dikatakan Widi, konsep pelibatan difabel dalam proses pembangunan harus didasari oleh kemampuan.

“Okelah di tahap awal kita memerlukan kebijakan afirmatif, hal difabel menjadi prioritas, sebab pada prinsipnya memang secara SDM kita masih banyak mengalami ketertinggalan,” tutur Widi. Namun untuk selanjutnya harus diupayakan peningkatan kapasitas difabel agar menjadi ahli pada bidang-bidang tertentu yang dikuasai, sehingga pelibatan akan menjadi lebih bermartabat.

 

Setidaknya saat ini kami ahli di bidang pengelolaan jaringan dan memiliki pengalaman praktis di bidang lobi dan advokasi di tingkat lokal, maka ini yang menjadikan kami mampu menjadi penggerak inklusi, terang Widi. Beberapa organisasi telah terlibat dalam perawatan hutan dan gunung ini yaitu Pramuka, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Pelestari Purbakala dan Budaya Indonesia (PPBI) Bekti Luhur.

“Bersama Pramuka dan PMI, kami menginisiasi Bhumi Perkemahan Inklusi, sedangkan bersama PPBI Bekti Luhur kami merawat situs-situs peninggalan sejarah di Gunung Wedon,” terang Widi.  Terdapat pula komunitas anak muda internasional State of Youth (SOY) Malang yang mendukung pemberdayaan serta koordinasi dengan dinas terkait yaitu Museum Singosari, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, imbuhnya.

 

Lanjutnya, termuat dalam kitab Negarakertagama tulisan Mpu Prapanca, tempat yang dulunya diperkirakan bernama Wedhawedan ini pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk. Raja Majapahit tersebut melakukan ziarah pada pejabat Tumapel yang didharmakan di lokasi tersebut.  

“Ya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, selain mencapai misi hapus stigma dan misi inklusifitas, juga melestarikan lingkungan dan mengembangkan eco-wisata inklusif,” pungkas Widi.

 

Dukungan lintas sektor

Dalam kesempatan lainnya, pada bulan Juni lalu saat pertemuan Sarasehan Bhumi Perkemahan Inklusi Gunung Wedon, Perhutani melalui KRPH Wonorejo mendukung sepenuhnya kegiatan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS). Mereka mengapresiasi gerakan pelestarian hutan yang melibatkan masyarakat.

“Pada prinsipnya kami mendukung selama kegiatan tidak boleh merusak fungsi hutan,” tandas KRPH Wonorejo, Supriyono, didampingi stafnya Syaiful, Kepala Desa Turirejo, Arief Sukmawanto, Kepala Dusun Turi, Arifin.

“Gagasan Bhumi Perkemahan Inklusi ini sangat tepat, kami selama ini kesulitan memperoleh tempat berkemah sebab wilayah yang makin sempit terdampak pembangunan infrastruktur,” imbuh Ketua Pramuka Kwarran Lawang, Gunarto.

 

Dalam kesempatan yang sama, dukungan juga diberikan PMI Lawang. “Kami akan berkontribusi memberikan edukasi tanggap bencana, serta mendukung adanya jalur pendakian gunung yang ramah difabel,” ujar Wakil Ketua PMI Lawang, Setyo Hardjulun.

“Saya sebagai PMI dan juga pecinta budaya, sekaligus warga setempat, meminta agar kegiatan di Gunung Wedon tidak merusak peninggalan sejarah dan kearifan lokal,” imbuh Sekretaris PMI Lawang, Theo.

 

Sebagai informasi, PMI Lawang merupakan mitra LINKSOS untuk kegiatan edukasi tanggap bencana bagi difabel. Menyikapi gempa Malang beberapa waktu lalu, kedua lembaga ini bersama BPBD Kabupaten Malang melalukan edukasi ke beberapa komunitas difabel di wilayah terdampak gempa.

 

Masih terkait dengan dukungan upaya pelestarian heritage di Gunung Wedon, Ketua Pelestari Purbakala dan Budaya Indonesia (PPBI) Bekti Luhur dan LINKSOS merencanakan perawatan situs di Gunung Wedon secara berkala.

“Dimulai dari bulan Agustus nanti, kami akan mengirimkan bantuan tenaga untuk gotong royong di puncak Gunung Wedon,” tutur Ketua PPBI, Budi. Selama tiga hari bekerja disini, jadi kami akan ngecamp disini.

 

Kita akan ciptakan view yang bagus di puncak ini sehingga pengunjung akan senang dan tertarik untuk kembali berkunjung. Berikutnya kita juga memperbaiki jalur pendakian untuk memudahkan difabel mendaki, juga lansia dan anak-anak sekolah, pungkasnya.[]

 

Penulis: Ken

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.