Lompat ke isi utama
PPDI Bandung punya lahan bercocok tanam dengan dukungan dinas sosial

Produktifkan Lahan Tidur Difabel Jawa Barat Inisiatif Bentuk Kelompok Tani

Solider.id - Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk dapat melakukan banyak hal baru dalam aktivitasnya. Pun demikian, dengan masyarakat difabel yang berada di lingkup Jawa Barat. Mereka mulai merambah pada bidang pertanian, dengan berinisiatif memanfaatkan sepetak lahan kosong di halaman belakang kantor Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Jawa Barat, yang saat ini berlokasi di kawasan komplek Dinas Sosial Jawa Barat Kota Cimahi.

 

Upaya mereka membuahkan respons positif, baik dari ketua PPDI Jawa Barat maupun dari Dinas Sosial Jawa Barat. Mereka bukan hanya diberi kesempatan untuk menggarap lahan kecil tersebut, melainkan diamanahi untuk mengelola lahan tidur yang ada di sekitarnya dengan luas kurang lebih satu hektar.

 

“Awalnya kami yang suka berkunjung ke sekretariat PPDI Jabar ini, hanya memperhatikan tanah kosong di halaman belakang. Ide untuk bercocok tanam pun muncul spontan begitu saja yang berawal dari ketidak sengajaan untuk memanfaatkan lahan yang ada, tentu dengan izin dari pak ketua PPDI Jabar. Kami coba menanam bibit kacang dan sudah mulai tumbuh. Upaya kami direspon sangat baik oleh pak ketua, dan ditawari untuk mengelola lahan di belakangnya yang lebih luas,” tutur Raditya Widjaksana mewakili difabel fisik.

 

Semua perizinan dan prosedural keabsahan legalitas untuk dapat mengelola lahan tidur milik Dinsos Jawa Barat tersebut dibantu oleh Norman Yulian, S.E, selaku ketua PPDI Jawa Barat. Dengan mengantongi izin untuk mengelola tanah seluas satu hektar itu, mereka pun membentuk satu tim kerja dengan nama Kelompok Tani Disabilitas Pratama Mandiri. Kelompok tani ini dibuat sebagai bentuk keseriusan para difabel untuk merambah dunia pertanian.

 

Di area lahan tidur itu juga terdapat dua kolam yang mereka perbaiki dan manfaatkan untuk menanam bibit lele dan ikan nila. Semua penggunaan pupuk untuk tanamannya menggunakan pupuk organik. Saat ini lahan yang sudah tidak terawat selama enam tahun tersebut mulai ditumbuhi berbagai benih tanaman diantaranya; jagung, cabai rawit, kangkung, tomat, bayam dan singkong, selain tanaman musiman yang memang sudah tumbuh besar, seperti pohon melinjo juga pisang dan pohon besar lainnya.

 

Yang menjadi unik adalah, mereka mengelola lahan seluas itu dengan biaya swadaya dari kelompok tani yang mereka dirikan. Disampaikan Raditya Widjaksana, yang diangkat menjadi ketua kelompok tani disabilitas pratama mandiri, bentuk swadaya pun tercetus dari ide timnya. Langkah tersebut disepakati sambil berjalan menyusun program kerja yang berharap dapat didukung oleh pihak-pihak terkait untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan.

“Lahan tidur ini baru kami garap sekitar dua bulan, semua biaya perbaikan kolam, pembelian bibit tanaman, sampai ke pembelian alat kerja yang dibutuhkan semua masih dari hasil patungan bersama tim. Dan lahan seluas ini dibersihkan dari rumput liar yang sudah meninggi oleh kami juga. Semua difabel yang tergabung berbagi peran dalam pengerjaan sesuai dengan kemampuannya,” ungkap Ono Sae, pengurus tim kelompok tani disabilitas pratama mandiri yang sudah fasih dengan pengetahuan bercocok tanam.

 

Mereka yang tergabung di kelompok tani disabilitas ini berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan partisipan beberapa daerah lainnya yang berkunjung ke kantor PPDI Jawa Barat. Mereka juga dari ragam kedifabelan, seperti Polio, Pengguna kusi roda, Cerebral Palsy, Tuli.

 

Pembersihan lahan dari rumput liar yang sudah tumbuh tinggi itu lakukan bertahap dan belum selesai seluruhnya. Lahan dan dua kolam yang sudah dibersihkan berangsur ditanami bibit bibit tadi hingga menunggu panen. Meski demikian, keberadaan lahan tidur yang mulai diproduktifkan oleh masyarakat difabel ini sudah menggaung, dan juga mendapat kunjungan ke berbagai pihak. Diantaranya, Dinas Sosial Jawa Barat, pemerintahan tingkat kecamatan setempat, Dinas Pangan, kunjungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan awak media.

“Harapan kedepan, dari hasil panen ini nantinya dapat menjadikan salah satu bentuk pemberdayaan difabel yang bernilai ekonomis. Selain untuk menghilangkan kepenatan dari rutinitas dan kembali ke alam dengan menggarap lahan tidur menjadi lahan produktif,” pungkas Raditya Widjaksana, yang ditemui di lokasi pertanian.[]

 

Reporter : Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan  Arief

 

The subscriber's email address.