Lompat ke isi utama
gambar tangan memegang tulisa STOP Covid - 19

Isolasi Mandiri bagi Difabel Penyintas Covid – 19, Hambatan dan Tantangannya

Solider.id – Di masa pandemi covid-19 akses kesehatan menjadi lebih vital dari hal lainnya. Kondisi ini dirasakan oleh semua masyarakat, termasuk difabel. Saat masyarakat difabel terpapar covid-19, keharusan untuk melakukan isolasi mandiri terkadang menjadi tantangan tersendiri.

 

Dalam pelaksanaannya, masyarakat difabel banyak yang membutuhkan bantuan pendamping. Terutama hal ini bagi difabel yang lebih berat dan senantiasa membutuhkan dampingan orang lain.

 

Ketersediaan obat yang rutin dikonsumsi juga menjadi sangat terbatas, baik yang biayanya di-cover oleh pemerintah maupun tidak. Mereka harus sering mendatangi tempat perawatan untuk mendapatkan obat, sehingga wajib menyiapkan anggaran tersendiri untuk kebutuhan jasa transportasi, selain obat yang dibeli.

 

Bagi masyarakat difabel yang masih tinggal di tempat kontrakan petakan, proses isolasi mandiri di rumahjuga menjadi tantangan tersendiri. Saat salah satu anggota keluarga ada yang terpapar, lebih mudah untuk menularkan atau tertuar. Tidak tersedianya sarana MCK yang memadai dan kamar pribadi untuk mengisolasi diri, membuat mereka yang terpapar tetap harus hidup berdampingan dengan anggota keluarga lainnya.

 

Menurut Dewi Tjakrawinata dari Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (Yapesdi), hingga saat ini data dan informasi khusus terkait masyarakat difabel yang terpapar, yang meninggal atau yang melakukan isolasi mandiri belum ada secara terpisah. Meski dirinya mengetahui ada masyarakat difabel yang terpapar dan melakukan isolasi mandiri.

 

Baca Juga: Pengalaman Isolasi Mandiri Difabel Netra

 

Pengalaman difabel saat isolasi mandiri

Bagi difabel yang masih tinggal bersama keluarga dengan fasilitas rumah pribadi, proses isolasi mandiri masih dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Difabel yang terpapar dapat mengisolasi diri di ruangan khusus seperti kamar pribadi. Penggunaan kamar mandi pun hanya bersama anggota keluarga, sehingga masih dapat terpantau dari sisi kesehatan keluarga dan terpelihara kebersihan sarana MCK yang digunakan. Kebutuhan lain, seperti pendamping atau keperluan obat masih dapat ditangani dengan maksimal.

 

Namun, bagi difabel yang tinggal di tempat kontrakan petakan akan mengalami tantangan yang lebih besar saat terpapar dan harus melakukan isolasi mandiri di rumah.

 

Seperti yang terjadi pada Maulana yang tinggal dengan istri dan anaknya di rumah petakan di Bandung. Maulana  yang seorang difabel Netra sempat terpapar Covid-19 masih merasa beruntung, sebab kontrakanya memiliki dua ruangan. Selama melakukan isolasi mandiri, ia dapat mengisolasi diri di kamar, sementara istri dan anaknya menempati ruang depan.

 

Untuk pendamping, ia masih dapat mengandalkan istrinya yang nondifabel. Namun, fasilitas beberapa kamar mandi yang berada di luar, digunakan untuk bersama penghuni kontrakan lainnya. Akses kamar mandi yang semula dirasakan tanpa masalah berubah menjadi kurang nyaman sejak dirinya terpapar.

“Yang menjadi risih kalau ke kamar mandi. Tiap saya selesai menggunakan kamar mandi selalu dibersihkan ulang oleh istri dengan disikat bahkan disemprot sanitizer spray,” kenangnya.

 

Bahkan setiap dipantau perkembangan kesehatannya oleh petugas Covid setempat, selain rumah kontrakannya semua fasilitas kamar mandi pun ikut disemprot cairan disinfektan. Sehingga, para penghuni kontrakan lain memberikan satu kamar mandi khusus yang boleh digunakan oleh keluarga Maulana.

 

Secara pribadi, informasi hotel yang dirujuk pemerintah sebagai tempat bagi masyarakat yang membutuhkan ruang untuk isolasi mandiri sudah diketahui. Namun berbagai pertimbangan lain muncul dan akhirnya tetap melakukan isolasi mandiri di rumah kontrakannya.

“Ada hotel yang dirujuk khusus buat isolasi mandiri dan itu tidak dipungut bayaran, bahkan disediakan makan,” tuturnya.

 

Akan tetapi, dirinya merasa lebih khawatir tinggal di lingkungan yang baru dikenali tanpa pengawasan pendamping, termasuk mengakses kamar mandi yang memiliki dua sumber air yaitu panas dan dingin meski berada di dalam kamar pribadi hotel.

 

Baca Juga: Pengalaman Difabel Dampingi Keluarga Isoman Covid-19 Tanpa Terpapar

 

Rekomendasi isolasi mandiri yang akses dan layak bagi difabel

Kebutuhan difabel terhadap bantuan pendamping, membuat kebijakan isolasi mandiri yang berlaku tentu tidak dapat dijalankan seperti yang seharusnya. Bagi difabel yang terpapar dan perlu pendamping, harus ada alternatif bagaimana keamanan pendamping saat berinteraksi. Misalnya, penyediaan alat pelindung diri (APD) bagi pendamping, selain masker, sarung tangan plastik atau karet dan sanitizer.

 

Tempat rujukan isolasi mandiri yang disediakan juga harus mudah dijangkau, nyaman dan aman bagi difabel. Misalkan, fasilitas isolasi mandiri tetap di hotel agar ruang kamar dan kamar mandi dapat digunakan secara pribadi. Pastikan air yang digunakan di seluruh ruangan kamar mandi air dingin saja untuk meminimalisir kemungkinan buruk.

 

Jalur jalan bagi difabel Netra yang biasa menggunakan ubin guiding block, dapat disiasati menggunakan meterial berbahan karet atau yang tidak licin dan tidak permanen sehingga bila sudah tidak digunakan dapat dicopot (seperti puzzle). Tetap gunakan warna kontras untuk memudahkan difabel lowvision.

 

Lalu, bagaimana bila difabel Tuli yang terpapar? Akses isolasi mandiri di rumah pada umumnya tidak begitu sulit. Namun, bila menggunakan fasilitas isolasi mandiri seperti di hotel sangat diperlukan teks petunjuk, baik untuk arah maupun untuk fungsi dari fasilitas yang ada di hotel tersebut.

Misal, di kamar mandi untuk keran air ada yang menggunakan warna saja sebagai simbol keterangan. Ini bisa dilengkapi dengan teks seperti merah untuk air panas, biru atau hijau untuk air dingin. Fasilitas lain yang dapat dilengkapi, semisal tombol alarm emergency yang dapat diakses jika membutuhkan bantuan dari luar ruangan. Akses juru Bahasa isyarat lewat video converence juga dibutuhkan untuk memberikan akses komunikasi Tuli dengan tenaga kesehatan atau satgas Covid – 19 untuk memantau keadaan pasien Tuli. Selain itu, pastikan bahwa pasien Tuli mempergunakan sarana komunikasi dengan teks melalui gawai yang terhubung dengan keluarga atau petugas yang berwenang.

 

Tempat isolasi mandiri bagi difabel fisik mungkin dinilai sudah banyak tersedia. Biasanya di setiap hotel sudah dilengkapi dengan fasilitas lift dan ramp, yang dapat diakses oleh pengguna kursi roda, kruk dan alat bantu lainnya.

 

Fasilitas kamar mandi terkadang yang masih kurang akses dari ukuran pintunya. Secara umum, ukuran pintu kamar mandi lebih sempit daripada pintu masuk kamar hotel. Hal ini akan menyulitkan difabel fisik pengguna kursi roda. Untuk kondisi lantai kamar mandi, akan lebih nyaman bagi difabel pengguna kruk bila dilengkapi dengan besi pegangan pada setiap dinding.

 

 

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     :Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.