Lompat ke isi utama
tangkapan layar diskusi kesehatan jiwa

Sayangi Dirimu Dengan Pahami Kesehatan Jiwa

Solider.id -  Menjadi pembicara dalam talkshow Kesehatan Jiwa yang digelar oleh President University, Cikarang, Nyoman Sudiasa tak sendiri. Ia hadir untuk mengisahkan pengalamannya sebagai survivor skizofrenia, didampingi dr. Agnes Martaulina Haloho, Sp. K.J. Dokter spesialis kejiwaan yang dalam keseharian bertugas di Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya.

 

Mengusung tema “Love Yourself by Knowing More About Your Mental Health”, talkshow yang dilakukan secara daring tersebut diadakan sebagai bentuk pengabdian masyarakat mahasiswa Teknik Elektro dan mahasiswa IT, President University yang berkolaborasi dengan Rumah Berdaya, Denpasar, Bali. Rumah Berdaya sendiri merupakan wadah pemberdayaan bagi difabilitas skizoffrenia yang dikelola bersama KPSI Simpul Bali. Turut hadir menyampikan sambutan dosen pembimbing Statepersonship Project President University, Drs. Gatot Imam Nugroho, AK., MBA., CA.

 

 Nindy Putri Amalia salah satu panitia dalam kegiatan teersebut menyampaikan bahwa dalam kondisi seperti sekarang, dimana pandemi tak hanya mempengaruhi kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental, talkshow yang diadakan bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat agar mulai mengenal kesehatan mental.

“Selain itu dari acara ini kami harap bisa menjadi cara untuk meningkatkan awareness masyarakat demi menghilangkan stigma orang dengan kesehatan mental.”  

 

Untuk memahamkan masyarakat, Agnes Haloho memilih menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami  awam.

“Gangguan jiwa adalah kumpulan gejala dari gangguan pikiran atau perasaan dan gangguan tingkah laku, yang menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari dari orang tersebut.” Begitu Agnes memberikan penjelasan. Agnes juga mengatakan bahwa secara klinis bermakna, gangguan jiwa juga berpengaruh pada pola perilaku, sehingga menimbulkan distress atau perasaan tidak nyaman dan dapat menimbulkan difabilitas bagi mereka yang mengalaminya.

“Tiga hal utama yang menjadi pemicu gangguan kesehatan jiwa antara lain penyebab biologis, yang artinya bisa dikarenakan faktor keturunan atau ketidak seimbangan zat kimia di otak. Bisa juga karena sebab psikologis dimana orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa tidak bisa menyesuaikan diri dengan terjadinya perubahan lingkungan. Sementara penyebab ketiga adalah faktor sosial, hal ini akibat adanya satu masalah yang tidak dapat diatasi, serta kurangnya dukungan keluarga atau lingkungan.”

 

Dengan menjelaskan penyebab terjadinya gangguan kesehatan jiwa, alumni Universitas Erlangga yang melanjutkan jenjang pendidikan di Universitas Trisakti, Jakarta, berharap masyarakat lebih awal dalam mengenali gangguan kesehatan jiwa bila mengalami beberapa gejala seperti yang sudah disampaikan.

“Karena orang yang memiliki kesehatan jiwa, mereka bisa menyesuaikan diri secara konstruktif dan akan memperoleh kepuasan dari perjuangan. Mereka juga lebih puas memberi daripada menerima. Merasa bebas dari ketegangan, dan menerima kekecewaan sebagai pelajaran untuk masa depan. Mereka suka menolong orang lain dan menyelesaikan permusuhan secara kreatif dan konstruktif, sehingga memiliki daya kasih yang lebih besar.” Dari sini Agnes mengingatkan bahwa semakin dini gangguan kesehatan mental dikenali gejalanya, makin mudah pula mempercepat proses pemulihan karena bisa segera diberi tindakan.

 

Baca Juga: Dwi Lestari dan Kelompok Difajiwa Berdaya Desa, Tantangan dan Harapan

 

Berlanjut dengan Nyoman Sudiasa yang menceritakan kisah hidupnya sejak didiagnosa mengalami skizofrenia, Nyoman tak segan pula mengingatkan pada para penyintas seperti dirinya untuk mulai mengurangi konsumsi berita tak penting.

“Dengan keadaan seperti sekarang, berita semacam itu hanya akan menguras energi kita. Orang-orang seperti kita sudah ter-preasure (tertekan). Jangan sampai berita-berita negatif akan menimbulkan kecemasan dan memicu kita relaps. Kita harus lebih banyak mengkonsumsi berita yang sifatnya juga hiburan.” Begitu Nyoman menyampaikan.

 

Bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Sosial Denpasar dan menjadi survivor skizofrenia  telah membuat Nyoman Sudiasa kaya pengalaman.

“Dulu saya pemalu. Sekarang setelah sudah stabil, saya senang bercerita tentang pengalaman saya. Maka saya sampaikan pada teman-teman bahwa yang utama adalah pengobatan. Itu akan membantu kita mengurangi halusinasi. Lalu dukungan keluarga. Karena dukungan keluarga membuat kita merasa diterima, itu faktor utama yang akan membantu proses penyembuhan. Yang ketiga adalah bersosialisasi. Proses ini membantu kita beradaptasi dengan lingkungan.” Ujar pria yang didiagnosa mengalami skizofrenia sejak 2001 lalu.

 

Dalam harapannya, Nyoman juga ingin agar kegiatan semacam ini lebih sering diadakan.

“Edukasi semacam ini menjadi sangat bermanfaat. Jangkauannya lebih luas karena dengan bahasa yang umum mudah dicerna masyarakat. Bagi mereka yang memiliki anggota keluarga dan mengalami gangguan kesehatan jiwa, mereka hanya ingin didengar. Dengan mendengar apa yang mereka ceritakan dan menerima mereka, itu akan menjadi sarana pemulihan.” Nyoman menambahkan.

 

Sebagai perwakilan panitia, dalam obrolan terakhir sebelum menutup kegiatan, Nindy Amalia menyampaikan harapan dari kegiatan talkshow yang berhasil digelar dan diikuti oleh sekitar 200 orang masyarakat umum dan perwakilan mahasiswa.[]

 

 Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.