Lompat ke isi utama
panduan isolasi mandiri bagi anak difabel

Cerita Anak Difabel yang Terpapar COVID-19 dan Bagaimana Petunjuk Pendampingannya

Solider.id, Surakarta - Yuni Setyoningsih adalah ibunda Yehezkiel atau akrab dipanggil Iel. Ia bersama suami dan iel terkonfirmasi positif COVID-19 dan menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Saat isoman tersebut, Yuni dan suami mengalami gejala ringan, namun tidak pada Iel karena anak cerebral palsy itu demam dan lemas. Maka Yuni pun lalu mengontak dan berkosultasi dengan dokter Jo yang juga seorang terapis serta dokter lainnya seorang spesialis anak. Sebagai seorang kepala sekolah dan terapis di sebuah yayasan di Surakarta, Yuni bercerita bahwa sebagian besar keluarga anak-anak yang terapi di yayasannya terkonfirmasi positif.

 

Yuni berkisah, ada salah seorang ibu dari anak difabel yang tidak tertolong lalu meninggal dunia. Ia menyadari bahwa saat pandemi, tidak semua tempat terapi di rumah sakit yang melayani BPJS membuka layanan. Maka yayasan yang diampu Yuni tetap melakukan terapi namun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Itu terjadi di awal pandemi hingga beberapa waktu yang lalu sebelum tutup. Ia juga menambahkan bahwa mungkin yang terpapar COVID-19 masih minim pengetahuan dan tidak tahu cara penanganan. Ia menghubungi para keluarga yang melakukan isoman tersebut serta menghubungi komunitas, menggerakkan Jogo Tonggo (menjaga tetangga), meminta bantuan dari alumni sekolahnya, lalu mengirimkan berbagai bantuan terutama sayur segar bagi para keluarga isoman.

 

Pandemi COVID-19 gelombang kedua yang ditandai serangan virus varian delta menyisakan kesedihan di kalangan anak-anak Sanggar Inklusi Tunas Bangsa Polokarto Sukoharjo karena anggota mereka, Wahyu Wibowo juga bepulang ke hadirat Tuhan. Menurut penuturan salah seorang keluarganya, remaja difabel cerebral palsy tersebut mengalami panas demam selama dua hari. Ketika hendak dibawa ke rumah sakit, ternyata semua ruang IGD penuh dan ia dibawa pulang kembali lalu tidur selamanya. Tentu masih ada cerita-cerita sedih lainnya yang dialami oleh anak-anak difabel yang tidak bisa ditulis di sini, dan hanya terdokumentasi dengan ucapan bela sungkawa yang mendalam di  media sosial.

 

Dalam sebuah webinar yang digelar oleh LeanOn bersama PPRBM Solo, dr. Yossep F. William, Kasubdit koordinasi relawan kesehatan menyampaikan data COVID-19 proporsi kasus berdasarkan usia per 23 Juni 2021, usia 0-5 tahun yang terpapar adalah 3,1%, dan rentang usia 6-18 tahun adalah 10,4%. Ia membagi faktor risiko paparan pada seseroang menjadi empat bagian yakni : rendah apabila tinggal seorang diri, sedang yairu ada pada keluarga kecil yang membatasi mobilitas, tinggi yakni anggota keluarga lebih dari dua yang aktif beraktivitas di luar rumah, dan sangat tinggi pada keluarga multigenerasi, yang memiliki mobilitas tinggi dan tinggal di lingkungan padat penduduk. Dan keluarga menyumbang kontribusi klaster terhadap meningkatnya kasus positif di dalam suatu negara yakni 85%.

 

Ia menyampaikan pentingnya vaksinasi bagi anak Indonesia sebab kasus COVID-19 pada anak meningkat pesat, 1 dari 8 orang tertular adalah anak, berpotensi mengalami long COVID-19, anak lebih rentan terutama varian Delta, anak bisa jadi sumber penularan bagi orang dewasa, dan mencegah munculnya mutasi baru. Sementara itu sejak Juni 2021 telah dilakukan vaksinasi terutama di Jakarta, untuk anak usia 12-17 tahun dengan menggunakan Sinovac, sedangkan bagi usia bagi anak usia 3-11 masih perlu uji klinis.

 

Baca Juga: Pengalaman Difabel Dampingi Keluarga Isoman Covid-19 Tanpa Terpapar

Panduan Isolasi Mandiri

Lalu bagaimana panduan isolasi mandiri untuk anak difabel? Dokter Maria Galuh, Sp.A menyampaikan panduan isolasi mandiri yakni bersyarat : tidak bergejala/asimptomatik, gejala ringan (batuk, pilek, muntah, diare, ruam-ruam), anak aktif (bisa makan dan minum), menerapkan etika batuk, memantau gejala/keluhan, pemeriksaan suhu tubuh dua kali pagi dan sore, dan lingkungan rumah memiliki ventilasi yang baik. Hal itu dengan catatan bahwa orangtua masih dapat mengasuh anak yang positif, orangtua atau pengasuh yang berisijko rendah terhadap gejala COVID-19, jika ada anggota keluarga yang positif maka bisa diisolasi bersama, jika orangatua dan anak beda status maka berikan jarak tidur dua meter, kasur dipisah, dan memberikan dukungan psikologis kepada anak.

 

Catatan bagi anak difabel, pastikan bahwa ruangan memiliki akses berupa ramp, pintu masuk, meja, kursi, toilet, sedangkan bagi anak difabel mental dan intelektual biasanya ruangannya menyesuaikan dengan kondisi kedifabilitasannya. Pada anak mental intelektual, maka perlu pengawasan yang lebih ketat. Dan pastikan pendamping bukan yang terpapar positif, ODP, atau PDP. Juga ada media penanda misalnya bagi anak netra maupun Tuli, berupa simbol bantuan yang bila ada emergency mudah dijangkau. Batasi juga akses ruang untuk keluar dan masuk, pembagian kerja antar keluarga juga harus jelas, memonitor secara rutin dan berkala dan memberikan asupan gizi. Pastikan bahwa mereka tidak mengalami penurunan kondisi. Dan laporkan selalu keadaan anak kepada bidan desa, puskesmas atau dokter melalui akses aplikasi online.

 

Alat yang perlu disediakan di rumah adalah thermometer dan oxymeter. Sedangkan obat yang perlu disiapkan di rumah adalah obat demam, multivitamin dan zink. Protokol isoman antara lain : periksa suhu anak pagi dan sore, periksa saturasi oksigen dan denyut nadi, pantau laju nafas, berikan makanan bergizi, berikan bayi ASI, memakai makser, cuci tangan, tetap di rumah, jaga jarak dan menerapkan etika batuk.

 

Komunikasi dengan anak difabel yang menjalani isoman harus tetap dijaga dengan memberikan dominasi waktu, dan ruang seluas-luasnya untuk berkomunikasi, menyampaikan info yang sederhana, tidak berbelit-belit, tidak membuat jenuh, menarik perhatian dan anak dapat fokus. Untuk anak difabel ganda bisa menggunakan gambar, dan bahasa sederhana. Untuk anak difabel mental bila merasa bosan bisa beraktivitas keluar dengan pengawasan dan prokes ketat dan kegiatan yang bervariasi untuk meminimalisir relaps. Isi kegiatan dengan sebagaimana kegiata rutin mereka. Hubungan komunikasi dengan aggota keluarga lain atau teman bisa melalui telepon, menulis kartu atau menggambar.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.