Lompat ke isi utama
Calal To Action, meaningfull Participation of Young Person With Dsability

Ajakan Aksi untuk Pelibatan dan Partisipasi Penuh dari Orang Muda Difabel

Solider.id - Orang muda difabel tiga kali lebih rentan mengalami kekerasan fisik, seksual, dan emosional. Perempuan dan anak perempuan difabel juga menghadapi banyak hambatan tambahan hingga sepuluh kali lebih rentan mengalami kekerasan seksual. Ketidaksetaraan dan diskriminasi interseksional ini menjadi lebih menantang selama pandemi Covid-19. Lebih dari 850 juta anak muda, atau hampir setengah dari populasi pelajar dunia, tidak dapat duduk di bangku sekolah di lebih dari 100 negara. Sementara banyak negara beralih ke pembelajaran online dan jarak jauh, negara-negara lain menghadapi kenyataan pahit dari kesenjangan digital seperti kurangnya akses ke teknologi pembelajaran inklusif, koneksi internet yang tidak stabil atau perangkat dan teknologi bantu yang belum memadai.

 

Untuk memastikan bahwa orang muda difabel memiliki akses yang sama ke semua layanan, kebijakan dan program harus inklusif dan dapat diakses oleh semua orang muda difabel tanpa memperhitungkan identitas interseksional lebih lanjut termasuk gender, orientasi seksual, komunitas adat, dan orang muda difabel dalam situasi jalanan, konflik bersenjata, dan lain-lain.

 

Pada November 2020 lalu, the Office of the Secretary-General’s Envoy on Youth menyelenggarakan konsultasi virtual global bersama orang muda difabel. Konsultasi ini dihadiri 75 orang muda difabel lebih dari 50 negara berasal dari latar belakang yang beragam. Mereka menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan terkait orang muda difabel untuk melibatkan orang muda difabel dalam program dan kebijakan mulai dari perencanaan, implementasi hingga evaluasi. Call to Action atau Ajakan Aksi ini adalah salah satu bentuknya. Call to Action (CTA) adalah sebuah ajakan atau dorongan untuk melakukan tindakan, dalam hal ini adalah ajakan aksi agar partisipasi penuh dari orang muda difabel diakomodir dan diperhitungkan.

 

Baca Juga: Hambatan dalam Interseksionalitas Orang Muda Difabel

 

Ada empat ajakan aksi yang digaungkan, antara lain, pertama, membangun platform yang menjamin partisipasi inklusif orang muda difabel. Hambatan untuk partisipasi aktif dan pemenuhan hak asasi manusia orang muda difabel termasuk isu-isu seperti otonomi tubuh, kurangnya akses ke layanan, dan keterbatasan membuat keputusan sehari-hari serta kurangnya akses untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di ruang kebijakan.

 

Salah satu hambatan utama untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik dan politik adalah kurangnya platform komunikasi untuk menginformasikan orang muda difabel tentang berbagai peluang keterlibatan. Hal ini dapat diatasi dengan pembentukan lembaga atau organisasi untuk orang muda agar menghasilkan pemimpin-pemimpin dari orang difabel muda. Namun akan sulit dicapai selama visibilitas orang muda difabel tetap tidak terlihat dan tersebar dalam ruang-ruang advokasi gerakan difabel yang lebih besar. Sebuah platform atau ruang advokasi yang ditunjuk yang memastikan kepemimpinan dan partisipasi inklusif orang muda difabel dalam Youth Agenda 2030 dalam sistem PBB akan menjadi langkah pertama untuk menjembatani kesenjangan ini.

 

Kedua, mengatasi kesenjangan dalam keterlibatan orang muda difabel dalam agenda hak-hak pemuda dan hak-hak difabel yang lebih luas. Ada bias dan kurangnya kesadaran tentang pengakuan hak-hak dasar bagi orang muda difabel seperti akses ke akomodasi yang layak dalam pendidikan, pekerjaan,  kesehatan dan lain-lain. Pada saat yang sama, orang muda difabel memiliki ekstra cost atau kebutuhan tambahan dibanding orang muda nondifabel, ini yang seringkali diabaikan.

 

Orang muda difabel saat ini tidak memiliki cukup kesempatan dalam advokasi di tingkat global atau kurangnya kapasitas yang dibutuhkan untuk secara efektif mengadvokasi hak-hak mereka sebagai orang muda difabel. Ajakan Aksinya, Pemerintah perlu segera mengatasi ketidaksetaraan dan hambatan ini dengan pemenuhan hak pendidikan dan informasi, pelatihan kerja, kesempatan kerja, dan sistem perlindungan sosial yang inklusif difabel.

 

Ketiga, interseksionalitas orang muda difabel dengan kelompok marjinal lainnya. Orang muda diperlakukan naif karena usianya sementara secara bersamaan diperlakukan sebagai orang yang tidak mampu atau terbebani karena kedifabilitasannya. Sebagai narasi tandingan representasi sosial dan budaya semacam itu, penting untuk mengenali dan memperkuat kepemimpinan orang muda difabel.

 

Keempat, melibatkan orang muda difabel sebagai mitra yang sama untuk mewujudkan perubahan sistemik. Isu-isu yang dihadapi dunia saat ini bukan hanya isu mengenai hak dasar, tetapi juga tentang perubahan iklim, kesehatan mental, dan isu terkini lainnya. Karena setiap perubahan untuk meningkatkan taraf hidup orang muda difabel membutuhkan mobilisasi individu yang berpikiran sama, baik dari orang muda difabel dan non-difabel dalam kampanye dan upaya advokasi.

 

Sumber:

https://www.un.org/youthenvoy/wp-content/uploads/2021/06/CALL-TO-ACTION…

https://www.un.org/esa/socdev/documents/youth/fact-sheets/youth-with-di…

 

Penulis: Alvi

Editor: Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.