Lompat ke isi utama
Anak-anak difabel sedang menjalani asesmen

Masa Pandemi, Anak-anak Difabel Alami Kerentanan Dua Kali

Solider.id, Surakarta - Di masa pandemi yang menginjak dua tahun ini, anak-anak difabel merupakan kelompok rentan terpapar COVID-19, apalagi dengan adanya varian Delta. Meski tidak ada data yang valid, namun di berbagai daerah terjadi peningkatan pasien anak-anak difabel yang terkonfirmasi COVID-19. Beberapa hal menjadi penyebab, salah satunya karena tertular oleh orang dewasa baik keluarga atau tetangga dan teman bermain. Sudah 1,5 tahun mereka tidak dapat menikmati keceriaan karena untuk bersekolah pun mesti dilakukan secara virtual.

 

Informasi terkini kejadian COVID-19 pada anak-anak secara umum (non difabel) meningkat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) banyak menerima laporan kasus COVID-19 pada anak. Di level dunia ada 12 juta anak terkonfirmasi COVID-19 dengan angka kematian 0,3%-1,2%. Demikian dikatakan oleh Prof.dr. Bambang Supriyanto, juru bicara Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 pada pada sebuah forum diskusi.

 

Di forum diskusi lainnya dan dalam kesempatan berbeda, Samto, Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud menyatakan bahwa di masa pandemi kita mengalami guncangan, yang mengubah sistem perekonomian, pendidikan, dan  yang terjadi pada anak dengan difabilitas adalah mengalami kerentanan dua kali lipat. Sejak awal pandemi, Kemendikbud sudah melakukan pendampingan dan konsultasi tentang pendidikan khusus, terutama anak anak yang tidak dapat belajar daring, maka pihaknya mencetak braile. Saat ini terdapat 50 sekolah yang mempunyai alat cetak braille untuk mencetak buku braille dan membuat video pembelajaran.

 

Kementerian juga membuat panduan khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang hanya sebagian kecil dapat belajar secara daring. Pihaknya juga memberikan layanan guru kunjung yang memberikan layanan konsultasi kepada orang tua tentang bagaimana mengajarkan anak berkebutuhan khusus saat di rumah. Ada juga orangtua yang melakukan konsultasi kepada guru terkait kurikulum. Terdapat pula panduan  umum yang diterbitkan oleh kemendikbud, juga panduan khusus. Ada dua hal utama bagaimana belajar di rumah dan bagaimana sekolah harus memberikan  layanan kepada anak-anak dengan hambatan belajar. Pedoman yang pertama adalah kesehatan, dan perkembangan yang diberikan terkait layanan kesehatan. 

 

Bagaimana saat Juli 2021 kasus COVID-19 naik? Apa yang perlu dipersiapkan oleh orangtua?

Kementerian sudah menyiapkan panduan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Namun pascapeningkatan kasus positif COVID-19,  pihak kementerian mengimbau hendaknya menahan diri supaya tidak terburu buru untuk melakukan PTM meski kebijakan  tergantung daerah masing-masing.  Daerah zona hijau atau kuning dipersilakan melakukan PTM dengan protokol kesehatan ketat dan melaksanakan minimal 3 hal yakni menyediakan fasilitas untuk pola hidup bersih, tempat cuci tangan, sabun, masker, ruangan dengan sirkulasi udara yang diatur. Penentu kegiatan PTM adalah orangtua, kalau masih khawatir lebih baik belajar di rumah.

 

Sekolah tidak boleh memberikan bonus misalnya siswa yang datang PTM diberi bonus.  Di sekolah harus ada SOP (standart operasional prosedur) dan protokol kesehatannya, siapa yang cek suhu, orangtua tidak boleh menunggu di sekolah, tidak boleh ada kegiatan olah raga, kantin harus tutup, lama belajar dua jam, dan harus terbatas yakni maksimal 50%, namun bagi anak autis dan difabilitas mental, satu orang sehari masuk satu orang. Ketiga yakni harus melakukan edukasi, yang SOP-nya adalah Sekolah Aman Bencana. Meski implementasi pendidikan inklusi beda ketika melihat konteks perkotaan dan perdesaan.

 

Cerita Remaja Difabel Netra Saat PPKM Darurat

Annisa (16), siswa baru di sebuah SMA negeri di Surakarta bercerita kepada solider.id bahwa dia baru saja dipulangkan ke rumahnya di Boyolali dari mess atau pemusatan pelatihan untuk Peparda cabang olah raga catur di Solo Baru, Sukoharjo. Annisa, difabel netra mengaku  bahwa lebih dari separuh temannya sesama atlet di mess terkonfirmasi positif COVID-19, maka ia dan kawan-kawan yang hasil swabnya negatif langsung dipulangkan.

 

Saat solider.id menanyakan tentang bagaimana Annisa mengakses pendidikan di sekolahnya tatkala melakukan pemusatan latihan apakah terganggu, Annisa menjawab tidak terganggu. Ia bisa melakukan media pembelajaran dengan zoommeeting tanpa kendala ketika tahun ajaran baru dikenakan. Difabel netra yang memiliki berbagai prestasi sebagai atlet catur tersebut harus menelan kekecewaan karena harus berhenti berlatih namun ia tetap bersemangat ketika pelatihan kemudian dilakukan secara virtual dengan media zoommeeting.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.