Lompat ke isi utama
posteer kegiatan Solider.id, Semarang -Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, bersama UNICEF Indonesia dan Yayasan Plato, mengadakan pelatihan Roots Indonesia. Sebuah pelatihan berkelanjutan yang dilakukan sebagai bentuk Program Dukungan Pencegahan Perundungan di lingkungan sekolah.   Dalam sambutan pembukaannya, Pramoda Dei Sudarmo, M.BA, M.PA, Staf Khusus Bidang Kompetensi dan Manajemen Kemendikbudristek Republik Indonesia mengungkapkan, kegiatan pelatihan Roots Indonesia dilakukan pemer

Pelatihan Fasilitator, Ciptakan Agen Perubahan untuk Kurangi Perundungan

Solider.id, Semarang -Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, bersama UNICEF Indonesia dan Yayasan Plato, mengadakan pelatihan Roots Indonesia. Sebuah pelatihan berkelanjutan yang dilakukan sebagai bentuk Program Dukungan Pencegahan Perundungan di lingkungan sekolah.

 

Dalam sambutan pembukaannya, Pramoda Dei Sudarmo, M.BA, M.PA, Staf Khusus Bidang Kompetensi dan Manajemen Kemendikbudristek Republik Indonesia mengungkapkan, kegiatan pelatihan Roots Indonesia dilakukan pemerintah untuk menebus tiga dosa besar dunia pendidikan yang selama ini telah dilakukan. Yakni kekerasan seksual, perundungan dan intoleransi.

 

Pelatihan ini ditujukan bagi calon-calon fasilitator di 19 kota/kabupaten di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, pelatihan diadakan secara daring berturut selama tiga hari sejak 14 hingga 16 Juli 2021. Peserta juga berasal dari  pemerhati pendidikan dan anak, pengawas sekolah, guru dan dosen, serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)  LPA (Lembaga Perlindungan Anak), serta organisasi difabel. Adapun tujuan diadakannya pelatihan Roots Indonesia agar para fasilitator dapat menghasilkan calon-calon agen perubahan, dalam hal ini para siswa di tingkat SMP, SMA atau SMK dan yang sederajat yang dilibatkan dalam pelatihan pencegahan perundungan.

Hadir memberikan sambutannya, perwakilan dari UNICEF Indonesia, Ali Aulia Ramly, sebagai PLT Kepala Perlindungan Anak, Kepala Direktorat SMP Kemendikbudristek, Drs. Mulyatsyah, M.M, Chika Natasha, Tim Staf Khusus Mendikbudristek yang menyampaikan paparannya tentang Program Roots Nasional, PUSPEKA sebagai pendukung untuk Program Pencegahan Perundungan/Roots, Ian Iapoh Simarmata sebagai Koordinator Pencegahan Perundungan PUSPEKA, dan  Plt. Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemdikbudristek Republik Indonesia, Ir. Hendarman M.Sc, P.Hd

 

Dari kegiatan Pelatihan Roots Indonesia, Dei Sudarmo berharap semoga bisa menjadi sejarah baru untuk mengatasi kasus perundungan yang selama ini terjadi dalam dunia pendidikan. Hal ini mengingat sistem pendidikan masih belum merdeka dari kekerasan fisik dan psikologis yang menjadi tantangan bersama bagi dunia pendidikan Indonesia.

Diikuti oleh 100 orang calon fasilitator dari tiga provinsi, pemateri utama diambil dari Yayasan Setara, Plato Foundation dan LPA Klaten. Materi yang disampaikan meliputi 15 program yang terkait dengan bagaimana menangani perundungan dengan meningkatkan rasa percaya diri pada teman sebaya, termasuk leadership dan komunikasi, membangun hubungan yang sehat, hingga bagaimana pengaruh siswa saat menghadapi konflik dengan mengubah beberapa perilaku positif. Bentuk kegiatan yang harus diikuti oleh para fasilitator berupa pelatihan membuat program kampanye anti perundungan di sekolah yang dilakukan secara online maupun offline. Pelatihan kampanye anti perundungan ini dilakukan dalam bentuk diskusi kelompok, permainan peran, menyiapkan dan membuat media kampanye berupa poster, flyer atau video yang diunggah di media sosial, hingga menyiapkan calon agen perubahan untuk terlibat dalam Roots Day (hari kampanye anti perundungan) bersama orangtua dan pihak sekolah.

 

Salah satu peserta pelatihan Paulus Mujiran, S.Sos, Msi, Direktur Yayasan Kesejahteraan Keluarga Sugiopranoto, Semarang, menyatakan bahwa pelatihan ini sangat menarik dalam rangka memberi perspektif tentang bully dan cara menanganinya.

“Lebih komprehensif dan sistematis karena modul yang dipakai juga cukup sederhana dan mudah  digunakan, sehingga bisa diterapkan pada sahabat difabel yang rentan dengan kasus perundungan.” Ujar Paulus yang dalam keseharian juga merangkul beberapa organisasi dan komunitas difabel sebagai mitra kerja Yayasan Sosial Sugiopranoto, Semarang.

 

Sementara Muchmammad Ilyas, M. Pd, sebagai Kepala sekolah SMA Negeri 1 Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur mengungkapkan bahwa sekolahnya yang ditunjuk menjadi penyelenggara pendidikan inklusi sejak tahun 2012, memiliki siswa dengan ragam difabilitas yang tersebar di kelas X, XI, dan XII, kasus perundungan tak hanya melibatkan siswa difabel, melainkan juga siswa reguler. Ia juga mengatakan bahwa dengan adanya kerjasama yang baik antara orangtua atau wali siswa, guru BK dan guru pendamping difabilitas, sejauh ini kendala yang ada bisa diatasi dengan segera.

“Yang menjadi kendala bagi kami adalah bagaimana mengembalikan kondisi mental mereka seperti keadaan sebelum menjadi korban perundungan. Pada umumnya untuk memulihkan kondisi mental  difabel memerlukan waktu yang relatif lama. Dan dengan melibatkan para orangtua, guru BK dan guru pendamping difabel, maka pemulihan kondisi mental mereka akan bisa tercapai terutama jika didukung dengan komunikasi yang baik. Semua bisa diselesaikan.” Muchammad Ilyas kembali mengatakan. Ia bahkan menambahkan bahwa materi yang diberikan selama pelatihan Roots bisa digunakan sebagai bahan ajar bagi agen perubahan dengan difabilitas.

“Materi dan metode yang kita dapatkan juga sangat mungkin diterapkan untuk teman-teman difabel. Apalagi jika diantara 40 agen perubahan itu menyertakan difabel. Dengan menyertakan difabel sebagai agen perubahan akan menghilangkan kesan diskriminatif dan memberikan semangat tersendiri bagi sahabat difabel.” Demikian Ilyas menambahkan.

 

Sebagai salah satu panitia penyelenggara, Naning Pudji Julianingsih, dari Child Protection Specialist UNICEF Indonesia perwakilan Jawa Tengah mengaku, bahwa kegiatan Roots Indonesia kali ini memang belum sepenuhnya bisa diterapkan untuk siswa-siswi difabel.

“Sepertinya perlu diberikan pelatihan khusus karena memang desain  pelatihan ini masih sangat terbatas. Dan terus terang saja pelatihan kali ini sangat belum memadai untuk kita terapkan pada anak-anak difabel, karena saat ini kami belum memiliki langkah khusus untuk bisa memfasilitasi mereka agar bisa ikut terlibat dalam pelatihan.” Ujar Naning dalam penjelasannya.

“Kami justru berharap agar dari peserta pelatihan mengusulkan apa yang harus kami lengkapi agar pelatihan ini bisa diakses oleh semua, termasuk teman-teman difabel atau para guru yang akan mengajar difabel. Nantinya apa yang disampaikan oleh peserta akan kami usulkan ke Kemendikbud supaya juga dikembangkan materi dan metode pelatihan bagi difabel.”[]   

 

Reporter: Yanti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.