Lompat ke isi utama
diskusi satunama tentang isolasi mandiri

Yayasan Satunama Gelar Webinar Kebencanaan Gulirkan Tatacara Isolasi Mandiri bagi Difabel

Solider.id, Surakarta -Berbicara tentang kebencanaan, ada dasar perlindungan hukum difabilitas yang tercantum dalam UNCRPD atau Konvensi Hak-hak Penyandang Difabilitas. Pada pasal 11 Situasi Berisiko dan Darurat Kemanusiaan : Negara-negara Pihak harus mengambil semua kebijakan yang diperlukan untuk menjamin perlindungan dan keselamatan penyandang disabilitas dalam situasi berisiko, termasuk situasi konflik bersenjata, darurat kemanusiaan, dan terjadinya bencana alam, selaras dengan kewajiban mereka di bawah hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia internasional.

 

Sedang pasal 2 Pelaksanaan dan Pemenuhan hak difabel berasaskan: penghormatan terhadap martabat, otonomi individu, tanpa diskriminasi, partisipasi penuh keragaman manusia dan kemanusiaan, kesamaan kesempatan, kesetaraan, aksesibilitas, kapasitas yang terus berkembang dan identitas anak, inklusif dan perlakuan khusus dan perlindungan lebih. Hal tersebut diakomodir oleh Undang-undang nomor 8 tahun 2016 di pasal 3 dan bagian keenambelas.

 

Demikian penjelasan panjang dari Rohni S. Maail, staf ahli pendamping BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Pusat pada serial webinar yang dihelat oleh Yayasan Satunama, bertema Mental Health, Disability Institute “Kebencanaan dan Difabilitas”, Rabu (14/7). Peran BNPB sendiri diatur dalam Perka BNPB nomor 14 tahun 2014 Tentang penanganan, perlindungan, dan partisipasi difabel dalam penanggulangan bencana yang bekerja sama degan BPBD di semua provinsi/kabupaten/kota untuk prioritas difabilitas ketika bencana.

 

Baca Juga: Pengalaman Isolasi Mandiri Difabel Netra

 

 

Sedangkan upaya penanganan COVID-19 untuk difabilitas dengan ragam difabilitasnya menjadi kelompok yang rentan terinfeksi virus. Kebijakan penceganan virus tidak bisa diimplementasikan bagi sebagian difabel. Sebagian difabel lainnya juga tidak dapat menerapkan strategi social distancing karena mereka membutuhkan pendamping, dengan begitu maka mereka harus berinteraksi. Difabel memiliki teknik isolasi diri yang berbeda dari nondifabel. Langkah-langkahnya tentu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing difabel. Di sini lingkungan memiliki peran yang sangat besar

 

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk difabel pasien COVID-19  saat menjalani isolasi mandiri di rumah adalah: mengidentifikasi lingkungan sekitar dengan bergerak cepat dan tanggap apabila kondisi kritis upayakan ada petugas atau orang yang mengantarkan obat dan menjelaskan apa fungsi obat serta bagaimana mengkonsumsinya. Dalam memberikan penjelasan tersebut, pastikan menerapkan protokol kesehatan dan difabel mengerti apa maksudnya. Terkait pemantauan, terus pantau kondisi difabel yang sedang menjalani isolasi mandiri. Tanyakan bagaimana keadaaanya, apa yang dia rasakan, apakah sudah minum obat atau suplemen kesehatan, pemenuhan makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Tentang pendamping atau relawan, pada beberapa ragam difabilitas yang tak dapat merawat diri, maka kehadiran pendamping atau relawan mutlak diperlukan.

 

Bagi yang hendak berinteraksi dengan difabel pasien COVID-19, dengan menggunakan alat pelindung diri, sebaiknya tulis nama dan foto diri di bagian depan APD. Dengan begitu difabel dapat mengetahui identitas orang di balik pelindung tadi dan tidak memicu reaksi ketakutan atau kebingungan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.