Lompat ke isi utama
sosok Giri yang kini kembali aktif kuliah di FEB UGM

Belajar dari Giri: Bagaimana Jika Kita Menjadi Difabel Netra

Solider.id,Yogyakarta - Setiap orang memiliki kemungkinan untuk menjadi difabel. Entah karena penyakit, kecelakaan, penuaan, atau faktor lainnya. Namun pernahkah terbesit dalam benak kita, bagaimana jika suatu hari nanti kita menjadi difabel. Giri Trisno Putra Sambada (25) merupakan salah satu contoh seseorang yang tadinya awas (nondifabel) tiba-tiba menjadi seorang difabel netra.

 

Giri Trisna Putra Sambada sendiri merupakan seorang mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2014. Ia menceritakan bahwa dirinya menjadi difabel netra saat kuliah semester 2 di tahun 2015 lalu. Kala itu, dirinya mulai kehilangan kemampuan penglihatannya secara dratis. iapun mendatangi Rumah Sakit Mata dr. Yap untuk mendapatkan pertolongan.

 

Dari situ diketahui hasil bahwa Giri mengalami peradangan syaraf di matanya. Namun, pihak Rumah Sakit Mata dr. Yap tidak bisa mendiagnosa secara pasti apa penyebab dirinya mengalami peradangan syaraf di mata.

 

Lambat laun penglihatan Giri kian memburuk. Ia-pun memutuskan untuk menjalani rawat inap RS dr. Sardjito selama 43 hari dengan harapan dapat memperoleh kesumbuhan.

 

Saat rawat inap, pihak rumah sakit telah mencocokkan karateristik peradangan yang diderita oleh Giri dengan gejala-gejala dari penyebab tertentu serta telah melakukan berbagai macam cek laboraturium. Namun hasilnya tidak ada signifikansi dengan kata lain, tidak ditemukannya penyebab secara jelas.

 

“Sebenarnya yang membuat saya merasa sedih adalah tidak ditemukannya penyebab pasti mengapa terjadi peradangan syaraf. Padahal saya sendiri tidak pernah mengalami kecelakaan dan mengidap penyakit tertentu,” keluhnya.

 

Hingga pada waktu itu, Giri memutuskan untuk cuti dari kuliah selama 5 semester lamanya untuk beradaptasi dengan kondisi barunya. Selain masih dalam proses penerimaan atas kondisinya, ia mengakui bahwa alasan terbesar mengapa dirinya sampai berhenti kuliah adalah ketidaktahuan bagaimana cara belajar dan menggunakan gadget, seperti laptop serta smartphone sebagai penunjang perkuliahan.

 

Kemudian, pada tahun 2016 dirinya memutuskan untuk masuk pondok pesantren. Keputusan itu dipilih agar memaksa dirinya untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal itu karena kehidupan pesantren menuntut dirinya untuk banyak bertemu dengan sesama santri.  Dengan ini sekaligus juga sekalian melatih kemandiriannya. Misalnya, saat dirinya harus berjalan kaki menuju masjid.

 

“Waktu itu masih pakai tongkat kayu karena belum begitu familiar dengan white cane. Pokoknya masih adaptasi banget. Tapi positifnya bisa sekalian belajar untuk peka mengidentifikasi medan yang ditempuh. Misalnya membedakan aspal dan rerumputan berdasarkan teksturnya saat menggoyangkan tongkat ke bawah. Jadi jika saya menggoyangkan tongkat dan tahu di sisi kiri saya adalah rerumputan dan sisi kanan adalah aspal, maka saya tahu bahwa posisi saya berada di pinggir jalan,” jabarnya.

 

Menurut Giri, hal tersebut sangatlah penting bagi orang yang tiba-tiba menjadi difabel netra. Namun, ia juga menyarankan, sebelum sampai ketahap ini, memang lebih baik difabel netra didampingi oleh seorang pendamping yang bertugas untuk menuntun serta mendeskripsikan medannya.

 

“Modal terbesar bagi seorang difabel netra dalam orientasi mobilitas adalah keberanian dan kenekatan untuk mau belajar. Nekat di sini juga harus perhitungan ya, bukan yang asal nekat aja,” katanya.

 

Selain itu, Giri turut menekankan bahwa orang tua juga memiliki peran yang strategis dalam memberi semangat dan dukungan moral untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian si anak.

 

Beruntungnya lagi, Giri juga mendapatkan penguatan moral saat bertemu dengan Setya Adi Purwanta selaku Ketua Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas DIY sekaligus Direktur Driya Manunggal DIY. Setya sendiri, menurut paparan Giri sangat memberikan arahan bagaimana jika seseorang mendadak menjadi difabel netra.

 

Kembali Berkuliah

Selain di pondok pesantren sejak tahun 2016, Giri juga aktif belajar secara personal dengan salah seorang pensiunan guru SLB mengenai metode belajar yang cocok digunakan difabel netra, bagaimana menggunakan gadget dengan aplikasi monitor bersuara, hingga bagaimana difabel netra mengakses transportasi umum. Hal itu dilakukan agar lebih mematangkan persiapan dirinya untuk melanjutkan studi di Jurusan Manajemen.

 

Akhirnya, setelah merasa lancar mengoperasikan gadget, di tahun 2018, Giri memberanikan diri untuk mengajukan permohonan kembali kuliah. Singkat cerita, pihak jurusan tanpa banyak kendala menyetujui permohonan tersebut.

 

“Kemauan untuk kuliah kembali muncul dari diri sendiri. Saran dari orang tua dan cercaan dari orang lain juga semakin membulatkan tekad saya untuk segera melanjutkan kuliah,” ungkapnya.

 

Kendati tampak lancar seperti demikian, Giri menggarisbawahi bahwa siapapun yang menjadi difabel harus siap dengan berbagai macam hinaan dan stigma. Sebab, hal itu merupakan gambaran nyata lingkungan bermasyarakat saat ini. Meskipun tidak bisa dipungkiri sudah banyak juga masyarakat yang mulai sadar mengenai kehadiran difabel di lingkungan mereka.

 

Di sisi lain, Giri juga menyampaikan kepada mereka yang menjadi difabel untuk tidak khawatir dengan berbagai macam cercaan serta stigma tersebut. Ia menyebut biasanya orang-orang yang seringkali mencemooh difabel memiliki kecenderungan kualitas kehidupannya lebih rendah daripada mereka yang menjadi difabel.

 

“Belum tentu juga mereka akan kuat ketika menjadi difabel. Maka dari itu, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa orang-orang yang terpilih menjadi difabel adalah mereka yang dibekali dengan kualitas mental yang tangguh,” tegasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.